Siapakah Yang Mendapat Nikmat Atau Azab Kubur..?

Siapakah Yang Mendapat Nikmat Atau Azab Kubur..?

    Pada kesempatan yang lalu kami telah menulis tentang syetan menggoda orang yang sedang sakaratil-maut
Kali ini kami akan teruskan dengan hal " Siapakah yang mendapat nikmat atau azab kubur "
    Tentu para pembaca akan bertanya, siapakah yang menerima pertanya'an kubur dari malaikat Munkar dan Nakir. Apakah badan kasar itu yang menjawab atau ruh nya...?
    Seperti apa yang telah kami terangkan terdahulu,bahwa orang yang mati itu ,karena telah di cabut ruhnya oleh malaikatul-maut. Ruh kembali di bawa ke hadrat Allah, dan ruh-ruh itu di tempatkan di langit pertama sampai di langit ke tujuh. Dan tinggal jasadnya yang berada di dalam tanah,dan jasad itu sudah tidak berfungsa apa-apa lagi,dia sudah kembali ke asal .Asal mati dan kemudian jadi mati lagi !!!
    Secara akal dan ilmiah memang sudah tidak berfungsi lagi,ibarat batu batery yang sudah tidak bermagnet
Jika demikian,siapakah yang merasai nikmat atau siksa kubur...?
Dan siapakah yang menjawab pertanya'an Munkar dan Nakir..?
Bagaimana orang yang mati tenggelam di laut..? Mati di makan ikan ,atau mati di telan binatang buas atau mati terbakar dan sebagainya..?
    Untuk menjawab pertanya'an ini ,baiklah kita selidiki kembali ke'ada'an tubuh halus manusia. Yang di namakan badan kasar, yang terdiri darah,daging,kulit dan tulang. Tulang itu di bungkus dengan daging,pada daging itu mengalir darah,dan daging itu di bungkus dengan kulit.
    Maka di dalam tubuh kasar itu ada beberapa macam tubuh halus yang masing-masing bekerja pada fungsimya sendiri-sendiri.
 1. Ruh untuk menghidupkan tubuh kasar.
 2. Rawan untuk menghayal.
 3. Akal untuk berfikir.
 4. Hawa budi rasa.
 5. Nafsu,.iradat ( jiwa )
 6. Malaikat hafazah,ruhani yang baik
 7.Syetan ruhani jahat,untuk menimbulkan masalah
Selagi manusia hidup  dia ada mempunyai hawa dan nafsu
     Sekarang kembali kita bicarakan orang yang mati.Kita lihat dia sudah mati dan sudah di kubur di dalam tanah. Apakah kita tahu ahli kubur itu sedang mengalami siksa atau nikmat kubur..? Cuma kita dapat mengatakan bahwa orang yang beriman dan beramal shalih akan mendapat nikmat kubur.
    Sebagai contohnya kita melihat orang sedang tidur,yang kita lihat dadanya naik turun,dengan nafasnya keluar masuk menghisap udara. Dapatkah kita mengetahui yang tidur dapat mimpi senang atau dapat mimpi buruk..? tentu saja kita tidak tahu. Yang jelas kita lihat dia sedang tidur. Apakah yang sedang di rasa oleh tubuh halusnya dalam mimpi itu ? Kita baru dapat tahu apa yang di rasakan dalam mimpinya itu setelah ia menceritakan kepada kita.
    Demikian pula orang yang mati,meskipun badan kasarnya musnah telah menjadi tanah,atau hancur di makan api,atau di makan binatang buas,akan tetapi jiwa atau rasanya tetap hidup,tidak mati selama-lamanya.
Tubuh kasar manusia boleh tidur,dan boleh mati,akan tetapi tubuh halus manusia tetap abadi. Jiwa atau rasa manusia tidak tidur,tidakmati, Tidak hangus terbakar api,tidak hancur di makan api,.dan tidak mati selama-lamanya.
    Sekarang kita bicarakan siksa atau nikmat kubur. Tidak seorangpun dapat mengetahui keada'an di kubur
Kecuali Allah yang mengetahui. Karena siksa atau nikmat kubur sudah diatur oleh Allah,. Sebagaimanahalnya orang yang mendapat impian bukanlah kehendak orang tidur itu sendiri
    Di terangkan dalam hadis-Jikalau orang yang dikubur orang yang shalih,maka ia akan menerima balasan yang baik,itulah di namakan nikmat kubur
    Setelah dia dapat menjawab pertanya'an Munkar dan Nakir,dia tidak mendapat siksa'an,karena jawabannya benar,lalu malaikat itu pergi
    Setelah malaikat itu pergi ,terdengar suara orang datang dan mengucap salam,dilihatnya orang itu serupa benar dengan dirinya,tapi dia lebih bagus dan berpakaian sangat anggun. Lalu orang itu bertanya : " siapa engaku ? " Lalu di jawab : " Aku ini amalmu,dan aku datang kemari untuk menemani kamu "
     Orang itu merasa senang dan girang sekali kedatangan amalnya menjadi sebagai teman,ia merasa beruntung ,di situ baru diketahui bahwa dia telah beramal shalih dan mendapat karunia dari Allah. Kemudian orang itu di suruh tidur seperti tidurnya pengantin baru.
     Kuburnya terasa lapang terbuka, dia berada di suatu alam yang sangat asing baginya.Dia merasa tidak mati dan dia tetap hidup di situ,menanti sampai bangkit kubur. Akan tetapi bagi mereka orang-orang yang durhaka, setelah orang-orang yang mengantarnya kembali beberapa langkah, si mayit merasa hidup kenbali.
Ia merasa di suatu alam yang sangat asing ,sunyi dan sepi,seperti terasa dalam mimpi,tapi bukanlah mimpi
Kini telah jadi kenyata'an baginya, sadarlah ia sekarang ,bahwa ia telah berada di alam lain seorang diri.
Kini dia sudah terpisah dari dunia,terpisah dari sanak keluarga,berpisah dari semua yang di milikinya.
    Sekarang baru benar-benar percaya,apa yang di katakan orang padanya,inilah yang di namakan mati,meski dia merasa hidup,tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun mau berteriak sekuat tenaga,tapi tidak akan di dengar orang, ia dapat mendengar suara orang yang masih hidup,tetapi yang hidup tidak bisa mendengar suaranya. Dia dapat melihat orang yang masih hidup,tapi yang hidup tidak dapat melihat dia
Dia seperti terkurung di dalam sangkar kaca,dia dapat melihat barag di sekelilingnya,tapi dia tidak bisa bergerak kemana-mana.
    Sekarang ia sadar bahwa dia telah berada di alam yang ia sendiri belum kenal yaitu alam " BARZAKH "
Entah berapa lama dia berada di situ,ia sendiri tidak tahu
    Pembaca yang budiman....demikianlah.yang dapat kami tuliskan dalam kesempatan kali ini, walau sedikit namun besar harapan kami semoga semua ini bisa jadi peringatan dan koreksi diri bagi kita semua, agar kita senantiasa mendapat petunjuk serta hidayah dari ALLAH....amien..amien...yaa Robbal Alamiin

Sumber : http//rubaibai8.blogspot.com

Nabi Muhammad Ke Ruang Angkasa

Nabi Muhammad Ke Ruang Angkasa
 

     Sesungguhnya orang yang telah melihat syurga orang yang kedua , adalah Nabi Muhammad .s.a.w. Di kala beliau Mi'raj pada tanggal 27 Rajab ,setelah 12 tahun dari ke Nabian  .Beliau orang dari planet bumi yang telah menjelajah ruang angkasa , yang mana Islam memperingati perisriwa tersebut setiap tahunnya.
     Yang dikatakan Mi'raj itu  ialah , perjalanan Nabi naik keluar angkasa bumi bersama malaikat Jibril ,Mikail,dan seorang malaikat lainnya,dengan kendara'an ,,Kilat atau Burak " yang terbangnya secepat kilat,yang di ambil dari syurga.Karena dikatakan, di syurga sudah biasa memakai kendara'an semacam itu. Malaikat Jibril hanya bertindak sebagai juru bahasa dan penerangan,sedangkan malaikat Mikail, sebagai juru mudi untuk mengendarai kendara'an itu. Dalam perjalanan Mi'raj ini Nabi diajak malaikat Jibril singgah di beberapa planet ( langit ) yang pertama, kedua, ketiga,ke empat dan seterusnya...sampai ke langit yang ke tujuh.sampai ke Sidratul Muntaha. Dan seterusnya lagi ke Mustawa...Perhatikan Firman Allah dalam surat Annadjm : " Tidaklah dusta hati Muhammad dengan apa yang di lihatnya "
                " Apakah kamu akan membantah tentang apa yang di lihatnya (12 ) dan sesungguhnya dilihatnya Jibril dalam bentuk yang lain (13 ) Di dekat Sidratul-Muntaha ( 14 ) Dan disisinya Jannatul-Ma'wa ( 15 )
     Menurut keterangan ayat-ayat di atas, Syurga Jannatul-Ma'wa di dekat atau disisi Sidratul- Muntaha. Di situlah Nabi melihat rupa Jibril dalam bentuk aslinya, ialah di antara malaikat yang mempunyai 600 buah sayap. Entah bagaimana tentang rupa atau bentuk sayap Jibril itu. Nabi tidak menjelaskan . Yang jelas malaikat Jibril itu bersayap seperti yang di sebutkan di atas. Namun jikalau Jibril membawa wahyu turun ke dunia kepada Nabi Muhammad s.a.w., ia menampakkan diri dalam bentuk rupa manusia biasa seperti orang laki-laki berpakaian lengkap
     Maka dengan keterangan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits yang mengenai Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad s.a.w. jelas beliaulah di antara orang planet bumi ( dunia ) yang telah menjelajah ruang angkasa , terus ke alam syurga dan neraka yang di sebut alam akhirat, dan telah melihat syurga dan neraka dari dekat dan terjadi di bulan Rajab.
     Jadi jelasnya,,syurga itu berada di luar dari alam dunia kita, yang tidak dapat di sangsikan lagi, dan kini Syurga dan Neraka sudah ada. Sudah menunggu orang-orang yang akan mengisinya,dan menunggu kapan buni ini menjelang kiamat akan datang. Maka pada masa kiamat itu ,setelah seluruh umat manusia di Hisab, semua dari penduduk planet bumi ( dunia ) akan di pindahkan atau di ungsikan ke alam yang lain, di sana ada terdapat Syurga dan Neraka. Dari Padang Mahsyar akan di adakan suatu penyebrangan secara besar-besaran. Di letakkan suatu alat penyebrangan yang di sebut Sirat, yang mana manusia akan di bagi dalam dua golongan yang besar.  Ada golongan Kanan dan ada golongan Kiri. Golongan Kanan ,apabila kembali ke akhirat akan di tempatkan di Syurga. Dan golongan Kiri, bila kembali ke akhirat ,akan di kumpulkan dikamp penjara Tuhan, ia akan mendapat siksa'an dan menjadi Bara Api Neraka.

    Pembaca yang budiman.......
    Kalau kita mengikuti perjalanan Nabi Mi'raj dari awal ,Beliau berangkat, dari Masjidil Harom dikota Makkah atau yang di sebut Baitullah, sampai Beliau singgah di beberapa tampat-tempat yang bersejarah. Pertama di Thoijban atau Jastrib, yang sekarang bernama Madinah.
Madijan,tempat pohon Nabi Musa, kubur Masitoh di Mesir yang harum mewangi. Baitul-Lahm tempat lahir Nabi Isa, di Palestina,di bukit Thursaina tempat Nabi Musa menerima wahyu dan becakap-cakap kepada Tuhan,dan akhirnya turun di Masjidil Aksa ,atau Baitul Mukaadas. Darus Syalam atau Yerus Salem.
     Kemudian dari mesjid ini Nabi bersama Malaikat Jibril  dan Mikail,melanjutkan perjalanannya singgah di beberapa langit,sampai ke langit yang ke tujuh,seterusnya sampai ke Sidratul Muntaha,dan akhirnya sampailah beliau ke Mustawa atau Asyullah
     Sungguh sangat menarik dan sangat mena'jubkan kalau di tinjau dari perjalanan Mi'raj ini,secara akliyah atau secara rasional ataupun secara ilmiah,akhirnya dapat menambah keimanan kita akan kebesaran Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa ialah Allah Subhana Wataa'alla. Banyak pemandangan yang serba ajaib dan aneh yang tidak terfikirkan oleh akal manusia yang tanpa iman,akan tetapi hal itu terjadi dan di saksikan oleh mata Nabi Muhammad s.a.w.
     Secara ilmiah,pemberangkatan Nabi bukan hanya sekedar begitu saja. Ini patut mendapat perhatian. Karena beliau akan berangkat ke luar angkasa yang begitu sangat jauhnya. Maka sebelum berangkat beliau di operasi terlebih dahulu , dadanya Nabi di bedah oleh Malaikat Jibril,lalu di isi dengan bermacam-macam hikmat ilmu. Kekuatan dan sebagainya,agar terjamin mental dan pisiknya dalam perjalanan yang sangat jauh,berjuta-juta mil, menembus atmosfir dan udara menjelajah ruang angkasa , dari planet satu ke planet yang lainnya
     Sebarapa jauh perjalanan yang di tempuh Nabi..?
     Berapakah jarak jauhnya perjalanan dari bumi ke Mustawa'.?  Pertanya'an ini telah di jawab oleh Allah di dalam Al-Qur'an di surat Al-Ma'arij : " Naik Malaikat dan Rukhul-Amin /Jibril kepadan-Nya di dalam sehari itu sama kira-kira 50.000 tahun ."
     Demikianlah jauhnya antara bumi dan Mustawa. Jadi oleh karena itu, karena Nabi adalah A'radhul- Basyariyah, yakni berwatak Tubuh manusia biasa,maka perlulah baginya di istimewakan lebih dahulu ,perlu perbekalan-perbekalan yang luar biasa, dengan di isi jiwanya dengan ilmu dan hikmat dan rahasia yang belum pernah ada pada manusia. Untuk membuktikan akan kebesaran Allah Subhana Wataa'ala dan untuk di perlihatkan kepada hamba-Nya,akan kebesaran keraja'an Allah
     Allah Yang Maha Kuasa dapat menciptakan alam semesta dengan Qudrat dan Iradat-Nya. Dan Allah jadikan semua itu tanpa perkakas atau alat mekanis. Tapi cukup dengan ucapan : " Kun Fayakun " dengan ucapan :" Jadilah " lalu terjadilah sebagaimana Tuhan nyatakan di dalam surat  Yaa-sien ayat 82 : " Sesungguhnya perintah Allah itu,bila ia ( Allah ) menghendaki sesuatu,hanya ia ( Allah ) berfirman padanya,jadilah,lalu terjadi "
     Demikian rahasia Allah menjadikan sesuatu, menjadikan alam, menjadikan langit, menjadikan bumi, menjadikan isi dunia ,menjadikan malaikat, Jin, manusia, hewan ,tumbuh-tumbuhan, menjadikan syurga dan neraka dan sebagainya, maka cukup dengan ucapan saja, Cukuplah dengan kata-kata :" Kun," lalu terjadi.
     Kemudian sekarang kembalilah kita membicarakan syurga lebih lanjut.
Yang dimaksud dengan nama syurga, kata-kata syurga di ambil dari bahasa sansekerta atau sangkrit. Syurga adalah sesungguhnya beberapa negri-negri, dan kota-kota, yang berada di semacam bumi. Atau dunia planet, bukan dunia dan planet kita, yang berada sangat jauh dari luar angkasa bumi kita atau dunia kita. Lebih besar dan lebih luas lagi,sebagaimana telah tersebut di atas dalam perjalanan Nabi.
     Nabi melihat Sidratul-Muntaha. Yang begitu sangat besar keberada'annya, dan kalau pohonnya sudah demikian besarnya, apa lagi buminya.? Memang sungguh ajaib dan indah segala apa yang di ciptakan Tuhan.

      Para pembaca yang budiman....kiranya cukup sekian paparan dari kami,,semoga apa yang kami sampaikan ini bisa bermanfa'at dan kiranya dapat lebih memperkuat iman kita kepada Allah yang Maha Pencipta.

Sumber : http//rubaibai8.blogspot.com

Bacaan Do'a Untuk Jenazah Dan Ziarah Kubur

Bacaan Do'a Untuk Jenazah Dan Ziarah Kubur

DOA KETIKA MEMEJAMKAN MATA MAYAT

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلاَنٍ (بِاسْمِهِ) وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ، وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِيْنَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ.

 “Ya Allah! Ampunilah si Fulan (hendaklah menyebut namanya), angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah penggantinya bagi orang-orang yang ditinggalkan sesudahnya. Dan ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan, seru sekalian alam. Lebarkan kuburannya dan berilah penerangan di dalamnya.”

DOA DALAM SHALAT JENAZAH

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

 “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.

 “Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.”

اَللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 “Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.”

 اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ

عَنْهُ

Ya, Allah, ini hambaMu, anak hambaMu perempuan (Hawa), membutuhkan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya

DOA UNTUK MAYAT ANAK KECIL

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيْعًا مُجَابًا. اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَسْلاَفِنَا، وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِاْلإِيْمَانِ.

“Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah! Dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan”

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا.

 “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami.”

BACAAN DO'A KETIKA MEMASUKKAN MAYAT KE LIANG KUBUR

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.

 "Bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasulillaah. artinya, "Dengan nama Allah dan di atas petunjuk Rasulullah"

DOA SETELAH MAYAT DIMAKAMKAN

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ.

" Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah teguhkanlah dia "

.Nabi Shallallahu'alaihi wasallam apabila selesai memakamkan mayat, beliau berdiri di atasnya lalu bersabda: “Mintalah ampun kepada Allah untuk saudaramu, dan mohonkan agar dia teguh dan tahan hati (ketika ditanya oleh dua malaikat), sesungguhnya dia sekarang ditanya.” HR. Abu Dawud 3/315 dan Al- Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi

DOA ZIARAH KUBUR

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ [وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ] أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penduduk kampung (Barzakh) dari orang-orang mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami –insya Allah- akan menyusulkan, kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu, agar diberi keselamatan (dari apa yang tidak diinginkan).

Semoga bermanfa'at ................

Sumber : http//rubaibai8.blogspot.com

Aktifitas Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam di Dalam Rumah

Aktifitas Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam di Dalam Rumah

       Rumah seseorang ibarat cermin yang menggambarkan keluhuran akhlak, kesempurnaan budi pekerti, keelokan pergaulan dan ketulusan nuraninya. Tidak ada seorang pun yang melihat apa yang diperbuatnya di balik kamar dan dinding. Saat ia bersama hamba sahaya, bersama pembantu atau bersama istrinya. Ia bebas berbuat tanpa ada rasa sungkan dan berpura-pura. Sebab ia adalah raja yang memerintah dan melarang di dalam rumahnya. Semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggungannya adalah lemah. Marilah kita lihat bersama aktifitas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam rumah, selaku pemimpin dan panutan umat yang memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi. Bagaimanakah keadaan beliau di dalam rumah?

     Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya: "Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam rumah?" Ia radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)     
Demikianlah contoh sebuah ketawadhu'an dan sikap rendah hati (tidak takabur) serta tidak memberatkan orang lain. Beliau turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang hamba Allah yang terpilih tidaklah segan mengerjakan hal itu semua.

      Dari rumah beliau shallallahu 'alaihi wasallam yang penuh berkah itulah memancar cahaya Islam, sedangkan beliau sendiri tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal perut beliau shallallahu 'alaihi wasallam. An-Nu'man bin Basyir menuturkan kepada kita keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
”Aku telah menyaksikan sendiri keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sampai-sampai beliau tidak mendapatkan kurma yang jelek sekalipun untuk mengganjal perut." (HR. Muslim)

         Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan:
"Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah menya-lakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kurma dan air." (HR. Al-Bukhari)

        Tidak ada satu perkara pun yang melalaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari beribadah dan berbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; "Marilah tegakkan shalat! Marilah menggapai kemenangan!" beliau segera menyambut seruan tersebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi.

       Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: "Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: 'Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumah?' 'Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat)." (HR. Muslim)

       Tidak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat fardhu di rumah, kecuali ketika sedang sakit. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah terserang demam yang sangat parah. Sehingga sulit baginya untuk keluar rumah, yakni sakit yang mengantar beliau menemui Allah shallallahu 'alaihi wasallam.

       Disamping beliau lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap umatnya, namun beliau juga sangat marah terhadap orang yang meninggalkan shalat fardhu berjamaah (di masjid). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sungguh betapa ingin aku memerintahkan muazdin mengumandangkan azan lalu iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat jamaah, untuk membakar rumah-rumah mereka." (Muttafaq 'alaih)

    Sanksi yang sangat berat tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya shalat berjamaah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang mendengar seruan azan, lalu ia tidak menyambutnya (mendatangi shalat berjamaah), maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur." (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

       Uzur di sini adalah perasaan takut (tidak aman) atau sakit.
Apa dalih orang-orang yang mengerjakan shalat fardhu di rumahnya (di samping istrinya)? Mereka tinggalkan masjid! Apakah ada uzur sakit atau perasaan takut bagi mereka?

Sumber : http://rubaibai8.blogspot.com/2013/03/aktifitas-rasulullah-shalallaahu-alaihi.html

Puisi - Kata Hati Buat Aisyah - Asmat Riady Lamallongeng

KATA HATI BUAT AISYAH
Oleh : Asmat Riady Lamallongeng

MULANYA AKU HIDUP DALAM ARTI YANG TIADA BERARTI

BEGITU CINTA PADA DIRI, MESKI DUNIA LARI DAN BERLARI


SAMPAI TERASA KEASINGAN BENTUK DARI SEGALA WARNA


KARENA INI DARAH MENGALIR TAK BERNAMA


MULANYA AKU HIDUP DALAM ARTI DILAIN ARTI


KUBULATKAN INI KATA HATI


BUAT PERTANDA AKU BUKAN MEMBENCI


BIAR KABUT PAGI PADA TERSIMBAH BERLARI


MENGHALAU KEGELAPAN HIDUP DAN ARTI HIDUP


MULANYA AKU HIDUP DALAM ARTI SEKECIL ARTI


DAN INI RISALAH HANYA TERSIMPAN DILUBUK HATI


SEKEJAP DIA MENGHILANG BERSAMA TEJA MERAH-MERAH KUNING


TERKUBUR PADA ARTI DARAH TAK BERNAMA


 
Asmat Riady Lamallongeng
Watampone, 15 Maret 1965
(dari : Majalah MIMBAR INDONESIA. Jakarta no.8 Agustus 1965)

PROFIL PENGARANG
Lahir di Bengo Bone pada tanggal 12 Maret 1947. Mulai menulis puisi sejak
tahun 1965.“Kata Hati Buat Aisyah” puisi pertama yang dimuat dimajalah Mimbar
Indonesia Jakarta pimpinan H.B. Yassin seorang kritikus sastra tahun 1965.
Naskah drama. “Polo Malelae’ Ri Unra” (Gencatan Senjata di Unra)tahun
1985,“Rumpa'na Bone”,“La Mellong Kajao Laliddong – Pemikir Besar dari Tanah
Bugis”, “Catatan Harian La Temmassonge Raja Bone – 22”, “Dinamika Perkawinan
Adat Bone”, “Kugeluti Dalam Mimpi” (kumpulan puisi). “Birunya Biru Laut Aceh”
(kumpulan puisi tentang bencana tsunami yang memporak-porandakan Aceh)

Ditulis Kembali Oleh : Amin Baharussalam 



Leluhur dan Asal Mula Suku Mandar

Leluhur dan Asal Mula Suku Mandar

     Mandar wilayah Territorial dari persekutuan kerajaan yang ada di wilayah Pitu Ulunna Salu (Tujuh kerajaan hulu) dan Pitu Ba’bana Binanga (Tujuh kerajaan hilir) yang diprakarsai oleh Mara’dia sebutan bagi Arayang (maharaja)Balanipa ke II Tomepayung di Assitalliangan (Perjanjian) Tammajarra pertama dan Allamungan Batu di Luyo Mengahasilkan Sipamandaq (saling memperkuat)kemudian diperkuat kembali oleh Mara’dia Balanipa ke VI Todziboseang dalam Assitalliangan (perjanjian )Tammajarra kedua,ini di landasi oleh kesepahaman yang berdasar pada letak geografis dan secara biologis(berdasarkan wilayah dan keturunan) asal usul yang sama dari Hulu Sungai Sa’dang yaitu Pongkapadang  yang dalam perjalanan perkawinannya dengan Torije’ne’sebagai nenek moyang orang Mandar yang berkembang Di Pitu Ulunna Salu’dan Pitu Ba’bana Binanga Serta Arrua Tapparittinna Uwai dan daerah Palili yang terdiri dari BinangaKaraeng di selatan,Basokang di timur dan pulau Sallisingan di barat serta Lalombi di utara

Asal Mula Kata Mandar

       Kata Mandar memiliki berbagai arti:(1) Mandar berasal dari konsep Sipamandaq yang berarrti saling kuat menguatkanpenyebutan itu dalam pengembangan berubah penyebutannya menjadi Mandar (2) kata Mandar dalam penuturan orang Balanipa berarti sungai, dan (3) Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadara-Yanduru-Nadra yang dalam perkembangan kemudian terjadi perubahan artikulasi menjadi Mandar yang berarti tempat yang jarang penduduknya.(4)menurut orang Belanda yang sempat menjajah Indonesia termasuk Mandar termasuk salah wilayah Afdeling,Mandar terdiri dari dua kata Man dan Dare yang berarti manusia dan berani,ini di landasi dari gigihnya perlawanan rakyat Mandar saat kolonialisme Belanda di Indonesia khususnya di tanah Mandar sehingga Mandar di katakana manusia berani, setelah mengajukan berbagai pertimbangan penetapan pilihan pada butir kedua, yaitu “Mandar” yang berarti “Sungai” dalam penuturan penduduk Balanipa. Tampaknya menyebutan itu tidak berpengaruh terhadap penamaan sungai sehingga sungai yang terdapat de daerah itu sendiri disebut Sungai Balangnipa. Selain itu masih terdapat sejumlah sungai lain di daerah Pitu Babana Binanga (PBB), yaitu sungai,Tinambung,Campalagiang,Mapilli,Karama,Lumu,Buding-Buding,Lariang dan Binuang (Paku)

       Selain itu, dalam buku dari H. Saharuddin, dijumpai keterangan tentang asal kata Mandar yang berbeda. Menurut penulisnya, berdasarkan keterangan dari A. Saiful Sinrang, kata Mandar berasal dari kata Mandar yang berarti “Cahaya”; sementara menurut Darwis Hamzah berasal dari kata mandaq yang berarti “Kuat”; selain itu ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan itu diambil berdasarkan nama Sungai Mandar yang bermuara di pusat bekas Kerajaan Balanipa (Saharuddin, 1985:3). Sungai itu kini lebih dikenal dengan nama Sungai Balangnipa. Namun demikian tampak penulisnya menyatakan dengan jelas bahwa hal itu hanya diperkirakan (digunakan kata mungkin).Hal ini tentu mengarahkan perhatian kita pada adanya penyebutan Teluk Mandar dimana bermuara Sungai Balangnipa, sehingga diperkirakan kemungkinan dahulunya dikenal dengan penyebutan Sungai Mandar.

      Apa itu Mandar, dan dimana? Leluhur orang Mandar atau asal mulanya Suku Mandar dan juga leluhur orang Balanipa secara keseluruhan yang terdiri dari Pitu Ulunna Salu’(tujuh kerajaan yang bermukim diseputaran hulu sungai / pegunungan)yang di singkat PUS yaitu disebut kelompok pertama dan Pitu Ba’bana Binanga(tujuh kerajaan yang bermukim diseputaran muara sungai) yang di singkat PBByaitu yang disebut kelompok kedua dan beberapa kerajaan lainnya,baik kerajaan besar maupun kerjaan kecil termasuk wilayah Palili atau Paliliyang keduanya berarti penyangga sebagai satu rumpun keluarga karena berasal dari satu leluhur,oleh karenanya itu dalam membincang leluhur orang Balanipa maka kita harus berbincang leluhur orang Mandar karena Balanipa adalah bagian integral dari Mandar itu sendiri sekaligus sebagai ketua perserikatan,ketua federasi Pitu Ulunna Salu’ dan Pitu Ba’bana Buinangayang kemudian mendapat gelarArajang(yang dibesarkan / Maharaja).

    Dalam salah satu naskah Lokal(Lontar) di Mandar ditemukan keterangan yang menyatakan bahwa manusia pertama yang datang di Mandar adalah seorang yang mendarat di Hulu Sungai Saddang sementara ada pula pendapat lain menyatakan bahwa Tomakakayang pertama menetap di Ulu’Saddang. Keterangan lain ini memberikan petunjuk bahwa entitas di Mandar telah berlangsung jauh sebelum terjadi penurunan permukaan laut(Masa Glasial).

      Konsep lain  tentang manusia pertama di Mandar adalah konsep To Manurung juga artinya orang yang turun dari langit atau orang yang tiba – tiba muncul tanpa diketahui dengan pasti dari mana ia datang akan tetapi mempunyai kelebihan bahkan ada yang mengatakan bahwa dia sangat Maissi Paissangan(Sakti Manraguna)

     Menurut kepercayaan disaat penduduk Mandar masih menganut paham Anisme dan Dinamisme dan konsep ini merupakan mitos yang menjadi kepercayaan orang Mandar dahulu hingga saat ini.Mitos tentang Tomanurungmengundang konsep pengakuan ketaatan terhadap kekuasaan Raja – raja yang berasal dari Langit atau ia adalah jelmaan Dewa yang menitis kedunia yang di tempatkan menjadi tokoh pemersatu yang berhasil memulihkan kehidupan masyarakat dan membangun tatanan pemerintahan bersifat kerajaan yang terorganisir dalam bentuk monarkhi akan tetapi pemerintahan yang bersifat Raja(Mara’dia)sebagai pemegang kendali kekuasaan namun tak mutlak sebagai layaknya seorang Raja yang berkuasa penuh karena selain pemerintah (kerajaan)di Balanipa khususnya dan Mandar pada umumnya,juga dibentuk pula Dewan Hadat(Lembaga Adat)yang berfungsi mengontrol kewenangan kendali pemerintahan

       Dalam beberapa Lontar di Mandar sepakat menunjuk bahwa Manusia pertama adalah yang berkembang di Mandar,ditemukan di HuluSungaiSaddangdan merekalah Tomanurung (orang yang turun dari langit atau juga disebut turun dari kayangan,titisan Dewa)dan Tokombongdibura bernama Tobanuapong yang memperistrikan Tobisse Di Tallang yang benama Pangkapadangyang melahirkan lima orang bersaudara,yang pertama bernama Ilandobeluak,dialah berdiam di Makassar kedua bernama Ilasokkepang,dialah yang berdiam di Beluak yang ketiga bernama Ilandoguttuwanita di Ulu Sadang,yang keempat bernama Usuksabambangdialah yang tinggal di Karonnangan kelima bernama Pakdorangdialah yang berdiam di Bittuang.

      Pendapat lain mengatakan bahwa Pangkapadangadalah salah satu dari tujuh orang anak hasil perkawinan Tomanurung(orang yang turun dari langit atau juga disebut turun dari kayangan.titisan Dewa)dan Tokombongdiburabernama Tobanuapong yang memperistrikan tobisseditallangmelahirkan sebelas orang anak yaitu:

1.   Daeng tumana

2.   Lamber susu (lombeng susu)

3.   Daeng mangana

4.   Sahalima

5.   Palao

6.   To andiri

7.   Daeng palulung

8.   Todipikung

9.   Tolambana

10. Topani bulu

11. Topalili


      Dari kesebelas anak tersebut diatas yang kemudian menyebar keseluruh penjuru dalam wilayah Mandar dan yang paling menonjol keberadaannya adalah Topalili yang melahirkan Todipaturung Dilangi danLamber Sususyang menetap di Kalumpang Mamuju yang dalam catatan sejarah menurungkan 41 (empat puluh satu) Tomakakayang kembali menyebar dalam wilayah Mandar kemudian melakukan proses kawin mawin dengan keturunan Todipaturung Di Langiuntuk tampil sebagai pemimpin kemudian melahirkan generasi menjadi pemimpin dalam beberapa kerajaan di Mandar.

         Dalam catatan lain di sebut bahwa “Tomanurung yang turun di Hulu Sungai Saddang kemudian kawin dengan Tobisse Ditallang(orang yang turun dari kedalaman)yang melahirkan tujuh orang anak,salah satu di antaranya bernama Pangkopadangyang kawin mawin denagn Torijene’(orang yang datang dari kedalam air)ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Pangkopadangkawin mawin denagan Sanra Boneyang kemudian melahirkan anak berjumlah sebelas orang anakdiantaranya Tobabinna Ana’pangkopadang”(anak kesayangan Pangkopadang) dan dialah cikal bakal penduduk Pitu Ulunna Salu’ Pitu Ba’bana Binanga serta Arua Tapparittina Uwai dan Daerah Palili.

      Dalam catatan sejarah tersebut tidak di tulis kepada siapa Tobabinna Ana’pangkopadangkawin yang selanjutnya melahirkan anak yang disebut Pa’doran lalu kemudian Pa’doranmelahirkan anak bernama Lamber Susu(buah dada panjang) dan anak kedua dari Tobabinna Ana’pangkopadangyaitu yang disebut Topali yang kemidian melahirkan seorang yang bergelar To Dipaturung Di Langi(orang yang di turunkan dari langit) yang proses perkawinan dengan Tokommbangdi bura(orang yang lahir dari busa air) dari hasil perkawinan ini melahirkan generasi yang sampai pada seseorang yang di sebut Todiurra Urra lalu melahirkan dianataranya yaitu anak pertama bernama Luluaya yang artinya anak sulung dan adiknya Irerasi yang artinya berleher indah karena lehernya seakan bergaris – garis yang juga di sebut Memebaro Pamenangan( berleher bagaikan barang antik) Ibu kandung dari Karaeng Tumapparisi Kallona Sombaiyya Ri Gowa Ke Ix(Raja Gowa yang ke IX) dan yang berbungsu bernama Iweappasyang juga disebut Itta’bittoeng (orang yang bersinar bagai bintang dilangit) yang kawin dengan anak To Makakadi lemo yaitu Puang diGandang maka lahirlah Imanyambungiyang juga bernamaTomautra(manusia yang membuat khalayaksegerabubar) yang kemudian setelah wafat bergelar Todilalingdan ialah cikal bakal bangsawan di Balanipa Mandar.

      Dari sumber cerita rakyat ada juga manusia sebelas persi Tabulahan yang menurut sumber ini juga adalah anak cucu dari Pongkopadang yang menetap di Ulu Salu’yaitu Lima Orang terdiri dari :

1.     Daeng tumana

2.     Daeng matana

3.     Tammi

4.     Taajoang

5.     Sahalima

       Dan enam Orang di antaranya berkembang di Pitu Ba’bana Binanga yaitu terdiri :

1.      Daeng mallullung di Tara manu”

2.      Tola’binna di Kalumpang

3.      Tokarambatu di simboro

4.      Tambulu bassi di tappalang

5.      Tokayyang pudung di mekkatta

        Dari beberapa versi yang terurai di atas yang masing – masing mempunyai dasar untuk layak dipercaya dan pada seminar sejarah Mandar yang berlangsung di Tinambung Balanipa Polewali Mandar(dahulu PolewaliMamasa) menetapkan bahwa Nenek Moyang orang Mandar Suku Mandar berasal dari Hulu Sungai Saddangyaitu Pongkopadang sebagai cikal bakal penduduk yang mendiami kawasan Mandar yang dalam perjalanan selanjutnya oleh generasi mereka terjalin kembali hubungan kekerabatan danperkawinan di antara satu dengan yang lain.

Demografi (Lokasi Lingkungan Alam)

         Gambaran tentang nama Mandar ini cukup membingungkan, apabila direnungkan tanpa referensi. Karena itu dapat memberikan kecerahan menyangkut penamaan itu, saya ingin mengajak untuk berpaling pada latar kesejarahan.Saya berharap dengan mencoba menelusuri Keterangan-keterangan Kesejahteraan, kita dapat mengambil kesimpulan yang beralasan tentang penamaan itu.

       Mandar secara geografis tidak sebatas dengan wilayah keresidenan (Kabupaten) Polewali atau Majene, atau mungkin tidak sebatas kedua wilayah ini melainkan seluas wilayah yang diperjuangkan menjadi Provinsi Sulawesi Barat (Provinsi Sulbar). Dengan kata lain, dalam konteks geografis dan bukan konteks kultural, istilah Mandar mencakup seluruh wilayah Sulbar. Mungkin juga bisah diterima bahwa secara kultural dan terbatas, Mandar mencakup masyarakat Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Jadi ada Mandar Balanipa dan Polewali yang berada dalam wilayah Polewali Mandar, ada Mandar Majene (Sendana,Pamboang,dan Banggae) yang berada dalam wilayah kabupaten Majenedan ada Mandar Mamujudidalamnya terdapat daerah Tappalang. Karena itu, Mandar, dalam Konteks Kultural, lebih sempit dari pada mandar dalam jangkauan makna geografis. Dalam konteks geografis, Provinsi Sulbar tidak hanya dihuni oleh masyarakat Mandar Balanipa dan Polewali, Mandar Majene, dan masyarakat Mandar Mamuju, melainkan juga oleh masyarakat suku Toraja di Kabupaten Mamasa.

          Wilayah Mandar terletak di ujung utara Sulawesi Selatan tepatnya di Sulawesi Barat dengan letak geografis antara 1o-3o Lintang Selatan dan antara 118o-119o Bujur Timur.

Luas wilayah Mandar adalah 23.539,40 Km2, terurai dengan :

    Luas Kab.Mamuju dan Mamuju Utara : 11.622.40 Km2
    Luas Kabupaten Majene : 1.932.00 Km2
    Luas Kabupaten Polewali Mamasa : 9.985.00 Km2

Jadi luas Kabupaten Polewali sendiri : 9.985.00 Km2

Dikurangi luas Kabupaten Mamasa sekarang : Km2

Nilai Budaya atau Kesenian

         Tanpa hasil penelitian mendalam dan meluas atau tanpa membaca serta menyimak seluruh hasil penelitiantentang seni dan budaya Mandar, mustahil dapat dilahirkan karya tulis yang memadai.Namun, dalam batas pengantar diskusi atau pemicu, hal ini diharapkan dapat diterima sebagai umpan pancingan untuk memancing hal-hal lain dalam kaitan dengan tema pertemuan. Beberapa cabang seni Mandar dapat dikemukakan hanya semata-mata sebagai sample dari sekian banyaknya jenis seni milik masyarakat secara turun-temurun. Masihkah masyarakat Mandar ingin menghidupkan kembali nilai-nilai substansi, yang tetap relevan menembus peradaban dengan berbagai tantangan baru, sebelum di berdayakan. Tanpa budaya yang sudah berdaya, mustahil bisa diberdayakan.Buadaya tanpa daya tak bisa di berdayakan.Lebih parah lagi budaya yang belum berdaya hendak di berdayakan oleh manusia yang tercabut dari akar budayanya sendiri atau oleh masyarakat yang kurang secara kultural.

           Irama musik dalam lagu-lagu mandar secara spesifik mencerminkan setting laut. Deburan ombak, riak gelombang yang dinamis, hempasan ombak dipantai dan geliat ombak gelombang yang diterbangin angin lembut atau badai bisa dirasakan pada melodi laut di dalam lagu-lagu Mandar yang cenderung eksotik, romantis, dan sentimental,apakah ini pengaruh daerah mandar yang notabenya adalah para pelaut – pelaut ulung maksudnya wilayah mandar adalah wilayah maritime kelautan dan berdampak pada irama dan eksotik lirik lagu Mandar. Lagu-lagu Mandar sering dan selincah lagu-lagu Maluku, namun sekaligus selembut irama agraris lagu-lagu Bugis meski tidak sedinamis lagu-lagu Makassar yang terkesan agak cepat dan kekurangan kelembutan.Bandingkan lagu “Tengga Tenggang Lopi” dengan “Baturate Maribulang”.

            Tari-tarian mandar sebagaimana tari lain di daerah Sulsel pada mulanya berawal dari istana. Namun, tari-tarian yang difungsikan sebagai bagian ritual dari kerajaan akhirnya menjadi tari rakyat yang bukan hanya bertujuan memberikan rasa hormat pada raja sebagai representasi dari dewata, melainkan menjadi tari rakyat yang memberi hiburan yang sehat.

            Tari “Pattuqdu” menampakkan suasana langit-bumi yang menyatu dalam gerak kaki para penariyang tak terlepas dari bumi, dan pada saat yang sama pasangan tangan mereka menari-nari bukan tanpa kebebasan, namun kebebasan dengan kendali nilai budaya oleh gerakan yang menandakan adanya aturan yang harus ditaati. Musik yang menggebu-gebu tak mampu memancing emosi para penari untuk ikut-ikutan bergoyang menurut irama gendang.Para penari terkesan menari secara lemah lembut menantang iramagendang yang penuh dengan geliat yang dinamis. Hal yang sama bisa ditemukan pada tari.

Bahasa

          Seperti suku-suku atau etnis lainnya yang ada pada suatu bangsa termasuk yang ada di Indonesia, dipahami bahwa bahasa merupakan identitas yang menunjukkan suatu bangsa, etnis atau suku tersebut.Tak pelak Mandar sebagai sebuah etnis atau bahkan yang lebih besar dari itu, sebuah suku bangsa juga berlaku hal yang serupa.Artinya Mandar juga dapat dipahami dan dimengerti bahkan dikenal melalui bahasa dan dialeknya.

         Konon masih sama dengan etnis lainnya di Indo­nesia, bahasa Mandar juga berasal dari rumpun bahasa Malayu Polinesia atau bahasa Nusantara atau yang lebih acap disebut sebagai bahasa ibunya orang Indo­nesia. Oleh Esser (1938) disebutkan, seperti yag dikutip Abdul Muttalib dkk (1992), bahwa mandfarsche dialecten yang awal penggunaannya berangkat dari daerah Binuang bagian utara Polewali hingga wilayah Mamuju Utara daerah Karossa.

            Walau hingga kini tidak jelas benar sejak kapan penggunaan bahasa Mandar dalam keseharian orang Mandar.Namun dapat diduga, bahwa penggunaan bahasa Mandar sendiri bersamaan lahirnya orang atau manusia pertama yang ada di tanah Mandar.Hal yang lalu dapat dijadikan rujukan adalah adanya bahasa Mandar yang telah digunakan dalam lontar Mandar sekitar abad ke-15 M. Ibrahim Abas (1999).

            Sehingga kuat dugaan bahwa bahasa yang digunakan sistem pemerintahan dan kemasyarakatan masa lalu di daerah Mandar telah menggunakan bahasa Mandar, yang untuk itu dapat dicermati dalam beberapa lontar yang terbit pada masa-masa pemerintahan kerajaan Mandar.

         Sedang menilik area penyebaran bahasa Mandar sendiri, hingga kini masih dengan mudah bisa di temui penggunaannya di beberapa daerah di Mandar seperti, Polman, Mamasa, Majene, Mamuju dan Mamuju Utara. Kendati demikian di beberapa tempat atau daerah di Mandar juga telah menggunakan bahasa lain, seperti untuk Polmas di daerah Polewali juga dapat ditemui penggunaan bahasa Bugis, sebagai bahasa Ibu dari etnis Bugis yang berdiam dan telah menjadi to Mandar (orang Mandar-pen) di wilayah Mandar. Begitu pula di Mamasa, menggunakan bahasa Mamasa, sebagai bahasa mereka yang memang di dalamnya banyak ditemui perbedaannya dengan bahasa Mandar.Sementara di daerah Wonomulyo, juga dapat difemui banyak masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa, utamanya etnis Jawa yang tinggal dan juga telah menjadi to Mandar di daerah tersebut.Kecuali di beberapa tempat di Mandar, seperti Mamasa. Selain daerah Mandar-atau kini wilayah Provinsi Sulawesi Barat-tersebut, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan daerah Tuppa Biring

Struktur Pemerintahan

       Selama limatahun terakhir, saat tuntutan pemekaran Provinsi Sulsel menjadi sejumlah provinsi. Tuntutan awal yang sangat menonjol terhadap berdirinya provinsi baru dengan nama Provinsi Sulawesi Barat atau Provinsi Sulbar dicetuskan oleh masyarakat Mandar yang telah berhasil di perjuangkan.Berdirinya Sulbar sebagai provinsi baru menuntut pemekaran kabupaten sebagai prerequisite yang harus dipenuhi sesuai dengan undang-undang. Karena itu, Kabupaten Polewali –Mamasa dimekarkan menjadi Kabupaten Polewali dan Kabupaten Mamasa sekarang.

        Usul agar kabupaten diubah menjadi Kabupaten Mandar sebaiknya diubah menjadi “KABUPATEN MANDAR POLEWALI” karena kemungkinan masih akan ada Kabupaten (Mandar-)Majene, dan Kabupaten (Mandar-)Mamuju, sedangkan Kabupaten Mamasa tetap saja Kabupaten Mamasa tanpa embel-embel lain seperti Mandar karena mayoritas masyarakat Mamasa termasuk masyarakat Toraja Barat sebab Mandar dan Toraja bukanklah etnis yang sama. Bisa saja orang Mamasa yang ingin mengubah nama Kabupaten Mamasa menjadi Kabupaten Toraja Mamasa.Kata Toraja menunjukkan etnis budayanya, sedangkan Mamasa menunjukkan ikatan politik atau ikatan geografis yang menjadi tumpuan bagi institusi pemerintahan didalam wilayah Provinsi Sulbar yang akan dibangun. Karena itu, tak mengherankan bahwa para tokoh pendiri Provinsi Sulbar tidak menjadikan Sulbar Provinsi Mandar seakan-akan Provinsi Sulbar hanya khusus bagi masyarakat Mandar karena Kabupaten Mamasa adalah juga bagian tak terpisahkan dari Sulbar meskipun provinsi Sulbar di cetuskan oleh masyarakat Mandar dan Mamasapun termasuk wilayah territorial Mandar PUS dan PBB(Sulawesi Barat)

         Desentralisasi dan Otonomisasi daerah (Otoda) harus diakui adalah sebuah proses yang bertolak belakang dari sentralisasi kekuasaan yang otoriter. Sentralisme kekuasaan dalam tangan penguasa yang otoriter telah menguasai masyarakat Nusantara yang majemuk yang hidup di berbagai kepulauan Nusantara yang bertaaburan diatas samudra.Mayarakat Nusantara mengalami perlakuan yang tidak adil.Jalan keluar dari ketidakadilan adalah desentralisasi kekuasaan dan otonomisasi daerah. Dengan kata lain, otoda adalah anak kandung dari usaha untuk memerangi ketidakadilan dan usaha untuk mengendorkan kuatnya matarantai kekuasaan otoriter yang membelenggu rakyat atau masyarakat Nusantara.

          Bukan mustahil, lahirnya rencana Provinsi Sulbar adalah juga didasarkan pada reaksi politik terhadap ketidakadilan dan management pemerintahan daerah yang meniru-niru pusat menjadikan wilayah yang kini menjadi Sulawesi barat sebagai anak tiri Sulawesi selatan.Kehadiran Provinsi Sulbar diharapkan dapat menjamin penegakan keadilan oleh pemerintah Provinsi (Sulbar) terhadap kabupaten-kabupaten hasil pemekarannya.

          Kata kunci bagi pengembangan Provinsi Sulbar yang sudah lama ditunggu follow-up Hukum undang-undang dan politiknya adalah “Demokrasi, keadilan, dan kemajemukan.”Demokrasi menuntut dihormatinya perbedaan-perbedaan dalam berbagai bidang yang melibatkan masyarakat dengan background multi-ethnic yang saling berbeda. Perbedaan itu akan hadir dan menjadi sesuatu kenyataan hidup yang mempesona jika nilai keadilan justru menjadi kekuatan yang menjamin kerukunan hidup bagi masyarakat yang pluralis.

       Sehingga  sekarang ini begitu kencangnya wacana pemekaran kabupaten baru yaitu kabupaten Balanipa Mandar yang di rancang bersama pemekaran Sulsel menjadi Sulbar dan konsep wacana ini bermula di Tinambung.Ini adalah rancangan yang pemecahan dari kabupaten Polman sebagai salah satu dasar Balanipa adalah pusat pederasi kerajaan yang ada di Mandar yang ada di Pitu Ulunna Salu Pitu Ba’bana Binanga dan Arrua Tapparittinna Uwai paku sampai suremana yang sekarang adalah wilayah Sulawesi Barat yang kini hanya sekelumit kecamatan Balanipa saja.

Umber : http://suryabalanipamandar.blogspot.com/

Sejarah Masuknya Islam di Tanah Mandar

Masuknya Islam  di Daerah Mandar (Sulawesi Barat) 

Mesjid Salabose yang dibangun pada abad 16 oleh tokoh penyebar islam pertama di Majene hingga kini masih berdiri kokoh. Mesjid ini termasuk salah satu benda purbakala yang tetap dilestarikan. Diperkirakan berlangsung pada abad ke-16. Mengenai masuknya Islam pertama kali di daerah Mandar terdapat menjadi tiga pendapat seperti berikut : 1. Menurut Lontara Balanipa, masuknya Islam di Mandar dipelopori oleh Abdurrahim Kamaluddin yang juga dikenal sebagai Tosalamaq Dibinuang. Ia mendarat di pantai Tammangalle Balanipa. Orang pertama ialah Kanne Cunang Maraqdia ‘Raja’ Pallis, kemudian Kakanna I Pattang Daetta Tommuane, Raja Balanipa ke-4. 2. Menurut Lontara Gowa, masuknya Islam di Mandar dibawa oleh Tuanta Syekh Yusuf (Tuanta Salamaka). 3. Menurut salah sebuah surat dari Mekah, masuknya Islam di Sulawesi (Mandar) dibawa oleh Sayid Al Adiy bergelar Guru Ga’de berasal dari Arab keturunan Malik Ibrahim dari Jawa. Pendapat yang kedua diatas secara tidak langsung ditolak oleh Dr. Abu Hamid yang dalam penelitiannya (diterbitkan oleh Yayasan Obor, Jakarta) menyimpulkan bahwa Syekh Yusuf Tuanta Salamaka tidak pernah kembali ke Sulawesi Selatan sejak kepergiannya ke Pulau Jawa sampai dibuang ke Kolombo Srilanka, kemudian ke Afrika Selatan dan meninggal di sana. 

Diperkirakan agama Islam masuk ke daerah Mandar berlangsung dalam abad-16. Tersebutlah para pelopor membawa dan menyebarkan Islam di Mandar yaitu Syekh Abdul Mannan Tosalamaq Disalabose, Sayid Al Adiy, Abdurrahim Kamaluddin, Kapuang Jawa dan Sayid Zakariah. Masuknya Islam di daerah ini dengan cara damai melalui raja-raja. 


Syekh Abdul Mannan bergelar To Salamaq di Salabose. Pembawa dan pengajur Islam yang pertama masuk di wilayah Kerajaan Banggae, diperkirakan pada abad ke-16. Pada masa itu yang menjadi Raja Banggae ialah Tomatindo di Masigi (gelar yang diberikan kepadanya setelah meninggal dunia), putra Daetta Melattoq Maraqdia Banggae-Putri Tomakakaq/Maraqdia Totoli. Membangun dan menjadi imam yang pertama Masjid Sallabose, Banggae. Makamnya terletak di arah utara, 500 meter dari Mesjid tersebut. Sayid Al Adiy dimakamkan di Lambanan, Kec. Balanipa, Kab. Polman, dianggap keramat, selalu diziarahi orang. Mempunyai silsilah yang lengkap sampai tujuh generasi/lapis. Turunannya berperawakan mirip Arab. 


Abdurrahim Kamaluddin adalah penganjur Islam di kerajaan Balanipa Mandar. Ada juga yang mengatakan bahwa dialah kemudian bergelar Tosalamaq Tuan di Binuang. Sedangkan Sayid Zakariyah dimakamkan di Somba Kec. Sendana, Kab. Majene. Bersama Raden Suryodilogo (ada juga yang menulis Raden Surya Adilogo) Kapuang Jawa yang berlayar dari Tanah Jawa langsung ke Pelabuhan Pamboang. Islam masuk di kerajaan Pamboang, dibawa oleh Saiyid Zakariyah, di awal abad ke-17. Sayid (Syekh) Zakariyah bergelar Puang Disomba berasal dari Magribi jazirah Arab. Raja Pamboang masa itu, Isalarang Idaeng Mallari bergelar Tomatindo Diagamana. Kawin dengan Puatta Boqdi putri Raja Pamboang. Dia dan rombongannya dari Pulau Jawa dengan perahu, mendarat di Pamboang. Raja Pamboang, permaisuri dan seluruh warga istana semuanya masuk Islam. 


Sesudah meninggal Raja Pamboang itu bergelar Tomatindo Diagamana ‘Orang Tidur di Agamanya’ maksudnya ‘Yang Meninggal Dalam Memeluk Agama Islam’. Permaisurinya bergelar Tomecipo’ (Orang yang Bertelekung). Masuk dan berkembangnya agama Islam di daerah Pitu Ulunna Salu, diperkirakan terjadi antara 1630-1700 di Aralle, Mambi, Salurindu dan Rantebulahan. Mula pertama agama dibawa oleh penduduk setempat yang pergi ke daerah Balanipa mencari garam, kelapa, minyak kelapa, dan alat-alat pertanian. Sekembalinya, membawa Kitab Suci Al Quran. Juga memakai kopiah beledru hitam yang disebut songkoq Araq (kopiah model Arab). 


Suatu waktu Indona Aralle dan Indona Rantebulahan (Deppataji) mengajak Indona Tabulahan (Dettumanan) dan Indona Bambang (Puaq Tammi) mempelajari dan masuk agama Islam. Ajakan itu berhasil baik. Sehingga disitulah berawal fakta bahwa agama Islam adalah agama yang mayoritas di daerah Sulawesi Barat. Masjid Salabose, Jejak Peradaban Islam di Mandar Masjid Salabose yang dibangun pada abad ke-16 di Majene, Sulawesi Barat, hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid di atas areal seluas satu hektar ini dibangun oleh tokoh penyebar agama Islam di Majene, Syeh Abdul Mannan, bersama para pengikutnya. Masjid ini kini menjadi jejak sejarah peradaban Islam di tanah Mandar. Masjid tersebut berada di puncak Bukit Salabose, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. 


Di dalam masjid itu pun disimpan Al Quran tertua yang ditulis tangan dengan tinta dari pohon kayu. Di dalamnya terdapat pula sebuah makam, yang tak lain adalah makam Syeh Abdul Mannan. Berdasarkan catatan sejarah, di tempat inilah Syeh Abdul Mannan mulai menyebarkan Islam di Sulawesi. Sebelumnya, warga hidup dengan kepercayaan animisme. Meski beberapa bagian masjid ini telah direnovasi karena lapuk dimakan usia, sejumlah ornamen penting lainnya, seperti kubah dan dinding yang terbuat dari batu yang konon direkatkan dengan telur, hingga kini masih tampak kokoh dan utuh. Dinding kubah, misalnya, hingga kini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Kini di areal seluas satu hektar tersebut, banyak warga yang datang berziarah. Mereka tak hanya datang dari kawasan sekitar, tetapi juga dari wilayah di luar Majene.


Masjid Salabose yang dibangun pada abad ke-16 di Majene, Sulawesi Barat, hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid di atas areal seluas satu hektar ini dibangun oleh tokoh penyebar agama Islam di Majene, Syeh Abdul Mannan, bersama para pengikutnya. Masjid ini kini menjadi jejak sejarah peradaban Islam di tanah Mandar. Masjid tersebut berada di puncak Bukit Salabose, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Di dalam masjid itu pun disimpan Al Quran tertua yang ditulis tangan dengan tinta dari pohon kayu. Di dalamnya terdapat pula sebuah makam, yang tak lain adalah makam Syeh Abdul Mannan. Berdasarkan catatan sejarah, di tempat inilah Syeh Abdul Mannan mulai menyebarkan Islam di Sulawesi. Sebelumnya, warga hidup dengan kepercayaan animisme. 


Meski beberapa bagian masjid ini telah direnovasi karena lapuk dimakan usia, sejumlah ornamen penting lainnya, seperti kubah dan dinding yang terbuat dari batu yang konon direkatkan dengan telur, hingga kini masih tampak kokoh dan utuh. Dinding kubah, misalnya, hingga kini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Kini di areal seluas satu hektar tersebut, banyak warga yang datang berziarah. Mereka tak hanya datang dari kawasan sekitar, tetapi juga dari wilayah di luar Majene. Sumberhttp://afiq-agung.blogspot.com/



Daftar Urutan Pemegang Jabatan Raja Balanipa



DAFTAR URUTAN PEMEGANG JABATAN RAJA BALANIPA
  1. Todilaling (Imayambunggi, putera Puang di Gandang, cucu dari Todiurra-urra, keduanya raja sebelum Todilaling.
  2. Tomepayung, putera Raja Pertama
  3. Todijalloq, putra Raja Pertama
  4. Daetta, putra Raja ketiga
  5. Todigayang, putra Raja keempat
  6. Todiboseang, putra Raja keempat
  7. Tomatindo di Burio, putra Raja keempat
  8. Tomatindo di Sattoko, putra Raja keempat
  9. Tolambus(SU), putra Raja ketujuh
  10. Tomatindo di Buttu, putra Raja keenam
  11. Tomatindo di Langgana, putra Raja kedelapan
  12. Pammarica, cucu Raja keempat
  13. Tomatindo di Langgana, Raja kesebelas (kedua kali)
  14. Tomate Malolo, putra Raja kesepuluh.
  15. Tomatindo di Limboro, cucu Raja keenam
  16. Tokasi-asi, cucu Raja keenam
  17. Tomatindo di Langgana, Raja ke 11 dan ke 13 (ketiga kali)
  18. Tomatindo di Barugana, putra Raja ke 11, 13 dan 17
  19. Tomatindo di Tammangalle, putra Raja ke 15
  20. Tomatindo di Pattinna, cucu Raja ke 8 dan ke 9 (merangkap Raja Majene)
  21. Tomatindo di Barugana, Raja ke 18 (kedua kali)
  22. Tomatindo di Pattina, Raka ke 20 (kedua kali)
  23. Daeng Manguju, cucu Raja ke 12
  24. Tomatindo di Pattinna, Raja ke 20 dan 22 (ketiga kali)
  25. Tomatindo di Salassana, putra Raja ke 18 (merangkap Raja Majene)
  26. Tomappelei Musunna, putra Raka ke 18 (merangkapa Raja Majene)
  27. Tomessung dikotana, putra Raja ke 18
  28. Daeng Massikki, putra Raja ke 18
  29. Daeng Paewai, putra Raja ke 19
  30. Tomatindo di Binanga Karaeng, putra Raja ke 18
  31. Tomatindo di Lansirang, cucu Raja ke 15
  32. Tomessu di Taloloq, putra Raja ke 19
  33. Tomattoleq Ganranna, putra Raja ke 26 (merangkap Raja Majene)
  34. Tomappelei Pattuyunna,, putra Raka ke 26 (merangkap Raja Majene)
  35. Pakkacoco, putra Raja ke 31
  36. Pakkalobang Tomate Macciqda, putra Raja ke 33
  37. Tomongeq Alelanna, putra Raka ke 34 (juga Raja di Majene)
  38. Panggandang, cucu Raja ke 26 (putra Pakkatitting Raja Sendana merangakap Pamboang)
  39. Tomatindo di Marica, putra Raja ke 35
  40. Tomessu di Mosso, cucu Raja ke 26
  41. Tomatindo di Marica, Raja ke 39 (kedua kali)
  42. Panggandang, Raja ke 38 (kedua kali)
  43. Tomatindo di Lekopaqdis, putra Raja ke 36
  44. Passaleppa (Ammana I Bali), putra Raja ke 32
  45. Tomelloli (Mandawari), putra Raja ke 44
  46. Tokape, putra Raja ke 43
  47. Tomelloli (Mandawari),  Raja ke 43 (kedua kali)
  48. Tonaung Anjoro (Sanggaria), cucu Raja ke 37 (juga raja Majene)
  49. Tomelloli (Mandawari),  Raja ke 45 dan 47 (ketiga kali)
  50. Tomatindo di Judda, cucu Raja ke 36
  51. H. Andi Baso, cucu Raja ke 46
  52. H. Andi Depu, putra Raja ke 50
  53. Puang Mandaq (H. A. Syahribulan), cucu Raja ke 46.
Menurut daftar urutan pemilihan dan pengangkatan Raja Balanipa, maka dapat disimpulkan bahwa pejabat-pejabat Adatlah yang punya wewenang memilih seorang raja dengan memperhatikan asal-usul keturunan yaitu terdiri dari putra atau cucu (keturunan) dari raja yang pernah memerintah sebelumnya, baik dari keturunan pihak bapak maupun pihak ibu, dan bukan raja yanga akan meletakkan jabatannya berhak menunjuk penggantinya, dan tak tak mutlak putra raja terakhir yang akan menggantikan posisinya.

Pesan Raja Todilaling perihal calon raja yang bakal dipilih telah menjadi perhatian Appeq Banua Kaiyang dan Hadat, juga sangat besar pengaruhnya kepada keturunannya, karena dengan mengingat pesan tersebut, mereka mentaati pesan para orang tua agar para calon pejabat ” Melindo-lindo” maksudnya berdanan atau menghias diri “Bertingkah laku baik dan Maqissang nawang” (memperhatikan adat sopan santun dalam bertutur kata) sehingga memenuhi syarat untuk dipilih sesuai pesan Todilaling.


Pustaka : Bunga Rampai Kebudayaan Mandar dari Balanipa Oleh :  A.M. Sarbin Sjam.
 
 
Copyright © 2013 MANDAR LUYO - All Rights Reserved
Status Panel Admin
Jam Sekarang
Tanggal
Salam Sapa :
Status Admin :
User :
Free Backlinks