Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Masa-Masa Awal Kemunculan Islam


Masa-Masa Awal Kemunculan Islam

Halo para pembaca semua akhirnya kita bertemu lagi di artikel kali ini. Selamat tahun baru buat para pembaca semua meski memang agak terlambat. Mudah-mudahan di era tahun 2012 ini kita dapat lebih maju di segala hal terutama masalah beribadah kepada Allah SWT.

Baiklah kali ini saya akan membahas tentang masa-masa pemerintahan Islam dahulu. Dimana pada artikel kali ini saya akan membahas tentang masa pemerintahan di masa Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya saya akan membahas sedikit tentang profil beliau.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan di kota Mekkah, kota yang sangat terkenal di dunia hingga sampai saat ini menjadi tempat para umat Islam melaksanakan ibadah Haji hingga saat ini. Beliau lahir tahun 570 M dimana tahun itu bertepatan dengan kegagalan Abrahah, sang penguasa Yaman yang ingin menyerang Ka'bah akibat kemarahannya karena Gerejanya dicorat-coret oleh kotoran manusia yang setelah diselidiki adalah orang gila yang berasal dari Mekkah.

Hal inilah yang menyebabkan Abrahah menyerang kota Mekkah, tepatnya ingin menyerang Ka'bah, tempat peribadahan umat Islam untuk melaksanakan Haji. Abrahah datang dengan pasukan gajah lengkap dengan senjata yang canggih di masa itu. Abdul Muthalib (Kakek Muhammad) selaku ketua suku Quraisy yang letaknya berdekatan dengan Ka'bah memerintahkan semua suku Quraisy untuk mengungsi karena jika melawan pasukan Abrahah sama saja dengan menyerahkan nyawa. Abdul Muthalib berkata kepada semua penduduk "Segeralah cepat mengungsi. Kita tidak mungkin melawan pasukan Abrahah yang begitu banyak. Kita Serahkan saja kepada Tuhan yang menguasai Ka'bah ini"!

Ketika pasukan Abrahah sudah datang ke dekat Ka'bah beliau melihat tidak ada yang penduduk Quraisy yang memberikan perlawanan bahkan rumah-rumah mereka sudah kosong. Akhirnya Abrahah memerintahkan kepada tentara bergajahnya untuk segera menghancurkan Ka'bah. Tetapi anehnya gajah-gajah Abrahah tidak mau melaksanakan perintah itu. Mungkin gajah-gajah itu sudah mengetahui bahwa yang diperintahkan Abrahah adalah perbuatan yang sangat jahat. Saking geramnya dengan gajah-gajahnya yang tidak mau menurut kepadanya, Abrahah memukul gajahnya dengan pentungan. Tentu saja gajahnya berteriak dan melemparkan Abrahah dengan belalainya ke tanah. Untungnya Abrahah hanya sedikit terluka. Abrahah pun semakin heran melihat kelakuan gajah-gajahnya.

Akhirnya sesuai dengan bunyi Al-Fiil ayat 1-6, datanglah burung-burung Ababil yang membawa batu-batu yang terbakar kemudian dilemparkan ke atas mereka. Tentu saja mereka terluka bahkan lama-lama satu persatu pasukan Abrahah mati. Abrahah yang menyaksikan kejadian itu segera lari dari tempat kejadian dengan kondisi terluka namun terlambat beliau dilempari terus hingga tewas dalam perjalanan pulang ke Yaman. Tidak ada yang selamat dalam kejadian itu.

Setelah pasukan Abrahah tewas semua. Kembalilah pengungsi-pengungsi Quraisy ke kampung halamannya dan melihat pasukan-pasukan Abrahah yang tewas. Dan semua penduduk heran terutama Abdul Muthalib yang menyaksikan Ka'bah tetap kokoh berdiri. Dia pun berkata, "Ini semua berkat dari Tuhan pemilik Ka'bah ini yang melindungi Ka'bahnya sehingga tetap berdiri dengan kokoh"! Lalu penduduk Quraisy mulai membersihkan mayat-mayat tentara Abrahah. Beberapa lama kemudian lahirlah Muhammad pada tanggal 20 April 570 M (meski ini tanggal yang belum pasti). Tetapi sayangnya sang ayah, Abdullah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan ketika melakukan perjalanan dagang di Madinah, yang dulu bernama Yatsrib.

Setelah berumur 6 tahun ibunya, Aminah mengajak Muhammad untuk mengunjungi keluarganya serta makam Ayahnya di Yatsrib. Sekembalinya pulang ke Mekkah, dalam perjalanan Ibunya Aminah menderita sakit dan beberapa hari kemudian meninggal di desa 'Abwa yang terletak tidak jauh dari Yatsrib. Akhirnya beliau diasuh oleh kakeknya sekaligus kepala suku Quraisy, Abdul Muthalib. Seiring berjalan waktu umur kakenya semakin lanjut dan kakeknya memerintahkan paman Muhammad, Abu Thalib untuk mengasuh dan melindungi Muhammad dari segala macam bahaya. Tidak berapa lama kemudian kakeknya pun meninggal. Akhirnya segala tanggung jawab Muhammad menjadi tanggungan Abu Thalib, sang Paman.

Setelah itu, Muhammad disuruh untuk menggembalakan kambing-kambingnya di sekitar Mekkah dan juga selalu menemani Pamannya pergi berdagang ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, Palestina). Setelah beberapa kali ikut dalam perjalanan dagang, Abu Thalib beserta Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Bushra yang masih memegang kitab Injil yang asli. Dia melihat Muhammad dengan perasaan heran, sebab ciri-ciri Muhammad sangat cocok dengan kisah Nabi terakhir dalam kitab Injilnya yang masih asli tersebut. Beliau pun berbicara dengan Abu Thalib agar segera membawa pulang anak ini karena dikhawatirkan orang-orang Yahudi akan membunuh anak ini sebab mereka sedang mencari-cari Nabi terakhir yang dikabarkan dalam Injil yang asli berasal dari bangsa Arab. Mereka kesal karena Nabi terakhir tersebut bukan dari bangsa mereka. Itulah sampai sekarang orang Yahudi selalu memusuhi Islam.

Setelah kejadian itu, Abu Thalib bertambah senang kepada Muhammad dan membawanya kembali pulang ke Mekkah. Setelah menjadi remaja dan mulai beranjak dewasa beliau mempelajari ilmu bela diri dan kemampuan memanah dan berkuda. Begitu juga dengan keterampilan beliau dalam hal berdagang. Hal inilah yang membuat kemampuan dagangnya semakin bertambah dan kejujurannya dalam berdagang. Akhirnya Muhammad pun dipercaya menjadi seorang agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah

Akhirnya kejujuran beliau pun diketahui oleh seorang Janda kaya yang bernama Khadijah. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirimkan barang dagangan ke seluruh pelosok Arab. Reputasi Muhammad yang baik menjadikan Khadijag untuk mempercayakan barang dagangannya untuk dijual dan dijanjikan akan dibayar dua kali lipat. Khadijah pun sangat gembira melihat Muhammad pulang dengan hasil dagang yang lebih dari yang biasanya.

Seiring waktu Muhammad akhirnya jatuh cinta kepada Khadijah, pada waktu itu berumur umur Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun tetapi kecantikan Khadijah masih memika Muhammad. Akhirnya mereka menikah meski perbedaan umur dan status yang jauh tetapi tidak menjadi halangan bagi mereka untuk melangsungkan pernikahan. Tentu saja sejak menikah dengan Khadijah, kekayaan Muhammad menjadi semakin bertambah. Tetapi Muhammad tetap hidup sederhana. Ia menggunakan hartanya untuk hal-hal yang penting saja.

Ketika Muhammad berusia 35 tahun, banjir besar melanda Ka'bah dan akibatnya Hajar Aswad pun lepas dari tempatnya. Pada saat itu pemuka-pemuka Quraisy berdebat tentang siapa yang meletakkan Hajar Aswad itu ke tempatnya kembali. Muhammad datang dan mengatakan, "Lebih baik kita putuskan barang siapa yang duluan datang ke Masjidil Haram, maka dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad itu kembali. Setelah dilaksanakan ternyata Muhammad juga yang pertama kali datang ke Masjidil Haram. Akhirnya para pemuka Quraisy menyerah dan menyerahkan peletakan Hajar Aswad kepada Muhammad.

Namun Muhammad tetap bersikap bijaksana. Beliau mengeluarkan sorbannya dan memerintahkan para pemuka Quraisy agar memgang tiap-tiap sudut sorbannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah. Muhammad lalu mengangkat Hajar Aswad tersebut dan menaruhnya kembali ke tempat asalnya. Para pemuka Quraisy akhirnya tersenyum lega dan sangat puas dengan kebijakan Muhammad. Beliau pun dijuluki Al-Amin artinya "orang yang dapat dipercaya".


Pada umur 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi Nabi yang terakhir pada tanggal 17 Ramadhan/6Agustus 611 M. Dikisahkan penurunan wahyu kepada Rasulullah terjadi ketika beliau sedang bertapa di Gua Hira Peristiwa pengangkatan sebagai Nabi sekaligus juga sebagai penurunan Alqur'an pertama yaitu Al 'Alaq 1-5. Setelah menerima wahyu tersebut, beliau pun langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah badannya langsung panas-dingin akibat menerima wahyu tersebut. Dan oleh istrinya, Khadijah langsung diselimuti suaminya yang tampak sangat pucat tersebut. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad untuk menemui saudara sepupunya yang juga beragama Nasrani, Waraqah bin Naufal. Waraqah banyak mengetahui nubuat Nabi terkahir dari kitab suci Agama Nasrani dan Yahudi yang masih asli.

Setelah mendengar berita dari Waraqah, Muhammad beserta istrinya, Khadijah mengucapkan terima kasih dan pulang ke rumah.

Setelah itu, Muhammad dengan secara sembunyi-sembunyi mulai mengajarkan agama Islam yang diwahyukan kepadanya. Orang-orang yang pertama kali mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah : Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash Shiddiq, Bilal bin Rabah, Zaid bin Haritsah dan juga Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW juga. Pada waktu pengikutnya masih sedikit, Rasullullah dan para pengikutnya setiap malam berkumpul di rumah Arqam.

Ketika pada awal tahun 613 M, barulah Nabi Muhammad SAW menyiarkan agama Islam secara terang-terangan karena Umar bin Khattab, (pada waktu itu baru masuk Islam) langsung menyuruh Muhammad untuk menyiarkan agama Islam secara terang-terangan. Hal ini dapat dimaklumi karena Umar bin Khattab di masa dulunya dijuluki "Singa Padang Pasir" oleh karena sifatnya sangat keras, tegas dan tidak takut terhadap siapapun. Karena terus didesak oleh Umar dan Hamzah, akhirnya beliau pun bersedia untuk menyebarkan agama Islam secara terang-terangan.

Berbagai reaksi dari masyarakat Quraisy muncul. Ada yang senang dan ada yang tidak senang. Yang masuk Islam pada waktu itu adalah tokoh-tokoh besar seperti : Abdurrahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Ustman bin Affan dan lain-lain. Tetapi tokoh-tokoh yang tidak senang dengan ajaran tersebut seperti Umayyah bin Khalaf yang menyiks Bilal bin Rabah, budaknya karena masuk Islam. Bilal pun akhirnya dimerdekakan oleh Abu Bakar. Serta Abu Jahal dan paman Muhammad juga, Abu Lahab dan tokoh Quraisy lainnya, seperti Abu Sufyan. Mereka-mereka inilah yang selalu menindas umat Islam bahkan Nabi Muhammad pun hampir saja dibunuh. Namun Allah mengetahui rencan itu dan menyelamatkan Nabi Muhammad.

Meskipun mendapat perlakuan yang semena-mena dari kaum Quraisy tetapi pengikut Muhammad semakin banyak saja. Pengikutnya menyebarkan agama Islam melalui perdagangan ke Syam, Persia. Banyak yang datang langsung ke Mekkah dan Madinah (kota hijrah Muhammad dan pengikutnya) untuk mengetahui ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Salah satu pengikut Muhammad berasal dari Persia, yaitu seorang Ilmuwan bernama Salman Al-Farisi yang kemudian menjadi sahabat Muhammad SAW.

Karena penyiksaan kepada Muhammad dan para pengikutnya semakin menjadi-jadi, turunlah wahyu kepada Muhammad untuk berhijrah dari kota Mekkah. Banyak pengikut Islam berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia) karena Raja waktu itu, Negus mempersilahkan untuk berhijrah ke negaranya dan akan melindunginya. Muhammad pun pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah) dengan pengikutnya yang dari Mekkah maupun dari Habsyah.

Read more: http://www.musuhbersama.blogspot.com/


Kumpulan Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli Sejarah


Kumpulan Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli Sejarah

Menurut "Bapak Sejarah" Herodotus (sejarawan Yunani Kuno) yang hidup pada abad ke 5 SM (sek. 484 SM - 425 SM) ; Sejarah ialah satu kajian untuk menceritakan suatu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban.

Menurut Aristotle/Aristoteles (filsuf Yunani, 384 SM – 322 SM) ; Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.
Menurut Robin George Collingwood (Sejarahwan dan filsuf Inggris, 22 February 1889 – 9 January 1943) ; Sejarah ialah sebuah bentuk penyelidikan tentang hal-hal yang telah dilakukan oleh manusia pada masa lampau.

Menurut Patrick Gardiner ; sejarah sebagai ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.

Menurut Drs. Sidi Gazalba, 1981 ; sejarah sebagai masa lalu manusia
dan seputarnya yang disusun secara ilmiah dan lengkap meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberi pengertian dan kefahaman tentang apa yang berlaku.

Menurut E.H. Carr (28 June 1892 – 3 November 1982) dalam buku teksnya What is History (1961) ; Sejarah adalah dialog yang tak pernah selesai antara masa sekarang dan lampau, suatu proses interaksi yang berkesinambungan antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya.

Menurut Ayatullah Murthada Muthahhari (lahir pada 2 Februari 1919) ; ada tiga cara mendefinisikan sejarah dan ada tiga disiplin kesejarahan yang saling berkaitan, yaitu:

a. sejarah tradisional (tarikh naqli) adalah pengetahuan tentang kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan kemanusiaan di masa lampau dalam kaitannya dengan keadaan-keadaan masa
kini.
b. sejarah ilmiah (tarikh ilmy), yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau yang diperoleh melaluipendekatan dan analisis atas peristiwa-peristiwa masa lampau.
c. filsafat sejarah (tarikh falsafi), yaitu pengetahuan tentang perubahan-perubahan bertahap yang membawa masyarakat dari satu tahap ke tahap lain, ia membahas hukum-hukum yang menguasai perubahan-perubahan ini.

Menurut M Yamin (23 Agustus 1903 - 17 Oktober 1962) ; Sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan cerita bertarikh sebagai hasil penfsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau atau tanda-tanda yang lain.

Menurut  Robert V. Daniels (Sejarawan Amerika 1926 - 2010) ; Sejarah adalah memori pengalaman manusia.

Menurut J. Banks, 1985 ; Semua peristiwa masa lalu adalah sejarah (sejarah sebagai aktualitas). Sejarah dapat membantu siswa untuk memahami perilaku manusia dalam, tujuan masa kini dan masa depan yang baru (untuk studi sejarah).
Menurut Gustafson, 1955 ; Sejarah merupakan puncak gunung pengetahuan manusia dari mana perbuatan generasi kita mungkin scan dan dipasang ke dalam dimensi yang tepat . (Sumber : paramadina.com)


Goa - goa Peninggalan Jepang Di Indonesia

Pada zaman Penjajahan Jepang di Indonesia, Jepang banyak sekali memampaatkan goa goa, baik itu goa yang ada seacara alami maupun goa buatan Jepang sendiri dengan menggunakan tenaga kerja yang diambil dari orang – orang Indonesia atau lebih dikenal dengan sistem Romusha, tujuannya adalah untuk tempat pertahanan, persembunyiaan, perlindungan, dan juga tempat penyimpanan senjata semasa Perang Dunia ke II

Berikut beberapa goa peninggalan Jepang semasa berkuasa di Indonesia :

Goa Jepang di Biak – Papua


Dalam Goa Jepang ini terdapat sejumlah bilik kecil sebagai tempat untuk beristirahat. Dalam Goa itu terdapat tiga ruang besar yang dibentuk tentara Jepang untuk sejumlah kepentingan, masing-masing ruang dengan fungsinya dan terhubung satu dengan lainnya. Ruang I dijadikan gudang, tempat menyimpan bahan makanan, obat-obatan, peralatan perang, dan alat-alat komunikasi. Ruang II, dijadikan tempat merawat orang sakit, dan ruang III merupakan tempat yang dikhususkan bagi para perwira untuk melakukan rapat-rapat berkaitan dengan kepentingan perang.


Goa Jepang ini merupakan tempat pertahanan yang sangat kuat dan sulit sekali ditembus tentara sekutu. Sehinnga elumpuhkan goa, pasukan sekutu di bawah pimpinan Jenderal McArthur menjatuhkan drum-drum bahan bakar yang ditembaki dari udara. Tak kurang dari 3.000 tentara Jepang tewas terkubur dalam goa.

Goa Jepang di Manado – Sulawesi Utara



Masyarakat setempat menyebutnya Gua 100 Kamar. Gua ini memang merupakan sebuah liang yang dalam. Rongga di dalamnya cukup besar dengan pencahayaan yang minim. Sementara kondisi di sekitar gua masih cukup alami. Anda masih harus berjalan kaki sejauh 500 meter untuk mencapai lokasi gua sejarah ini.
Sulawesi Utara adalah wilayah pendaratan Sekutu untuk masuk ke Indonesia dari arah Pasifik. Karena itu, daerah ini menjadi front pertempuran yang sengit. Gua Jepang tersebar di beberapa lokasi. Selain di Kawangkoan, gua Jepang juga ada di Singkil Satu, Tanjung Batu, Titiwungen Selatan, Pakowa, Tikala Ares, dan Kairagi.

Goa Jepang di Kawangkoan – Sulawesi Utara


Di Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara terdapat goa-goa peninggalan tentara Jepang bahkan sebagian peninggalan kolonial Belanda. Goa terdapat di Desa Kiawa (tepi jalan raya ke Kawangkoan) dan Desa Tondegesan, sekitar 1,5 kilometer dari pusat Kecamatan Kawangkoan. Namun disayangkan kondisi goa terkesan kurang terawat karena minimnya perhatian pemerintah.

Gua Jepang di Kupang – Nusa Tenggara Timur



Empat lubang berbentuk goa menempel di tebing batu karang, persis di tepi Sungai Liliba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Goa itu tampak tak terurus. Tak ada petunjuk sama sekali mengenai kondisi goa, seperti kedalaman, panjang, ataupun lebar goa.
Warga sekitar mengaku takut masuk karena terowongan itu sangat jauh dan gelap. Pemerintah setempat pun belum pernah mencoba masuk ke dalam lubang itu.
Tulisan ”situs peninggalan tentara Jepang” di jalan masuk goa itu tidak memberikan informasi apa pun. Tulisan dengan cat hitam itu nyaris tak terbaca karena kulit luar papan tripleks terkelupas. Sebagian besar warga Kota Kupang tidak tahu dan tidak pernah mengunjungi goa Jepang itu.

Goa Jepang di Bali


berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan. Goa ini dibangun oleh balatentara Jepang daslam usahanya memperrtahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada tahun 1941. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yangdimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok.


Goa Jepang dapat dijangkau dengan mudah karena letaknya dipinggir jalan pada jurusan Denpasar-Semarapura, tepatnya di Banjar Koripan, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan.

Goa Jepang Bandealit – Jawa Timur


Goa Jepang ini terletak di ketinggian 200 m. Di depan goa ini terdapat tumpukan batu yang merupakan perlindungan saat penyerangan musuh, bila musuh memasuki Teluk Bandealit. Keadaannya masih tersusun rapi. Dari Goa Jepang Teluk Bandealit dapat terlihat secara keseluruhan.

Goa Jepang di Kaliurang, Sleman – Daerah Istimewa Yogyakarta



Untuk ke Gua Jepang Kaliurang, kita membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kota Jogja. Ceritanya pada zaman dahulu, tentara Belanda pernah memakai goa ini sebagai tempat tinggal mereka. Untuk ke gua ini, kita akan menaiki bukit dengan menempuh jarak sekitar 800 meter!
Jarak tersebut tentunya lumayan jauh dan membutuhkan energi yang banyak. Tetapi namanya saja petualangan, pasti harus butuh energi. Dan disana terdapat 24 gua yang semuanya saling terhubung. Lumayan banyak juga.

Goa Jepang di Bandung – Jawa Barat


Dibangun pada masa penjajahan jepang yang hanya sekitar 3 tahun, Pengunjung tidak perlu takut masuk ke dalam gua karena relatif ramai, dinding gua yang kokoh, dan ruangan atau lorong-lorong gua yang lega, tinggi, lebar, dan panjang. Entah berapa banyak nyawa romusha yang harus menjadi korban ketika Gua Jepang ini dibuat.

Goa Jepang di Garut – Jawa Barat



Berada di sebuah lembah diantara dua bukit bernama Puncak Munasim. Goa di lembah ini ada 4, salah satunya menjadi sarang kelelawar dan sumber mata air bagi penduduk Cikopo. Goa ini tidak terlalu dalam, kedalamannya paling panjang sekitar 10 meter.


Dari cerita rakyat setempat, goa ini adalah tempat persembunyian tentara Jepang dari serbuan udara pasukan Belanda. Goa ini dibangun oleh romusha, dengan sistem kerja paksa.Lokasinya memang jauh dari Kota Kabupaten Garut, sekitar 99 Km ke arah selatan, ditempuh dengan perjalanan sekitar 2-3 jam.

Goa Jepang di Pangandaran – Jawa Barat


 
Goa Jepang dibangun tahun 1942, dengan tenaga kerja paksa (Romusha). Dinding gua terdiri dari batu karang yang keras tanpa penerangan. Ukuran goa luas dan lebar terdapat beberapa lubang ventilasi seukuran 1 meter didinding goa. Dalam masa pergolakan goa ini digunakan sebagai tempat persembunyian serta penyimpanan senjata dan amunisi. Warga di pangandaran mengatakan Goa ini tidak pernah direnovasi, jadi masih nampak keasliannya.

Goa/Lobang Jepang di Bukittinggi – Sumatra Barat


Panjang lobang yang terdapat dilokasi Panorama ini lebih kurang 1400 meter, sedangkan panjang keseluruhan yang berada di bawah Kota Bukittinggi diperkirakan lebih kurang sekitar 5000 meter, dengan demikian yang terawat/terpelihara baru 30% dari lobang yang ada.


Kegunaan utama dari Lobang Jepang ini adalah sebagai basis pertahanan militer penjajah Jepang dari serangan Sekutu maka pembangunannya sangat dirahasiakan, dan tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan lobang jepang ini mulai dibangun. Hanya dapat diperkirakan beberapa bulan sesudah Maret 1942, saat Jepang merebut Kota Bukittinggi dari tangan Pemerintah Belanda.

Sumber : http://history1978.wordpress.com/2010/10/20/goa-goa-peninggalan-jepang-di-indonesia/


Peninggalan - peninggalan Sejarah di Indonesia

PENINGGALAN SEJARAH

A. Macam Peninggalan Sejarah
Bangsa kita dikenal memiliki budaya yang luhur. Benda-benda peninggalan sejarah nenek moyang bernilai tinggi. Apa saja peninggalan sejarah masa silam tersebut ?

1. Arca
Arca adalah patung, ada yang terbuat dari batu ada juga yang terbuat dari perunggu.
  • Arca Buddha Amarawati di Sulawesi Selatan.
  • Arca Roro Jonggrang di Candi Prambanan.
  • Arca Airlangga di Belahan.
  • Arca Tribhuwana di Candi Arimbi.
2. Benteng
Benteng merupakan bentuk bangunan yang sengaja dibuat untuk keamanan dan pertahanan pada waktu perang.
  • Benteng Otanah di Sulawesi untuk melindungi Raja.
  • Benteng Fort de Kock di Sumatra Barat dibangun oleh Belanda.
  • Benteng Portugis di Jepara, Jawa Tengah.
  • Benteng Pendem di Cilacap, Jawa Tengah.
  • Benteng Jagaraga, Bali.
  • Benteng Duurstede, Saparua, Maluku.
  • Benteng Sombaupu, Sulawesi Selatan.
  • Benteng Inong Bale, NAD.
3. Candi
Bangunan kuno yang dibuat dari batu sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja atau pendeta Hindu dan Buddha pada zaman dulu, disebut candi.
  • Candi Prambanan di Yogyakarta.
  • Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.
  • Candi Mendut di Magelang, Jawa Tengah.
  • Candi Pawon di Magelang, Jawa Tengah.
  • Candi Panataran di Jawa Timur.
  • Candi Muara Takus di Riau.
  • Candi Ijo di Kalimantan Selatan.
4. Gedung
Gedung yang pernah digunakan untuk berlangsungnya peristiwa sejarah, atau tempat tertentu yang bernilai sejarah dijadikan sebagai peninggalan sejarah.
  • Gedung Lawang Sewu di Semarang.
  • Istana Presiden di Tampak Siring, Bali.
  • Istana Raja / Keraton, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta.
  • Istana Bogor, Jawa Barat.
5. Makam
Banyak sekali makam yang dijadikan sumber sejarah dan peninggalan sejarah, antara lain
  • Makam Raja-raja Surakarta dan Yogyakarta di Imogiri, Yogyakarta.
  • Makam Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan.
  • Makam RA. Kartini di Rembang, Jawa Tengah.
  • Makam Ir. Soekarno Presiden RI Pertama di Blitar, Jawa Timur.
  • Makam Sunan Kalijaga di Demak, Jawa Tengah.
6. Monumen
Bangunan yang sengaja dibuat untuk mengenang jasa seseorang tokoh kepada nusa dan bangsa. Bahkan juga untuk memperingati peristiwa bersejarah yang ada di Indonesia, yaitu :
  • Monumen Nasional (Tugu Monas) di Jakarta.
  • Monumen Tugu Muda di Semarang.
  • Monumen Proklamasi di Jakarta.
  • Monumen Palagan Ambarawa di Semarang.
  • Monumen Pers Nasional di Solo, Jawa Tengah
7. Museum
Gedung, rumah, tempat yang digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejarah disebut Museum.
Gedung, rumah, tempat yang digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejarah disebut Museum.
  • Museum Sudirman di Magelang, Jawa Tengah.
  • Museum Satria Mandala di Jakarta.
  • Museum Purbakala di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah.
  • Museum RA Kartini di Jepara, Jawa Tengah
8. Prasasti
Prasasti adalah tulisan pada batu yang bernilai sejarah. Parasasti yang merupakan peninggalan pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia banyak sekali, misalnya:
  • Prasasti Ciareteun, Kebon Kopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten dari Kerajaan Tarumanegara.
  • Prasasti tersebut ditulis menggunakan bahasa Sansekerta.
  • Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, Kota Kapur, Karang Birahi dari Kerajaan Sriwijaya.
  • Prasasti tersebut ditulis menggunakan bahasa Melayu.
  • Prasasti Tuk Mas, Sojomerto, Canggal dari Kerajaan Mataram.
9. Situs
Situs adalah daerah temuan benda-benda purbakala, seperti fosil binatang purba. Banyak situs di Indonesia yang merupakan peninggalan Hindu dan Buddha, misalnya:
  • Situs Muara Jambi.
  • Situs Plawangan.
  • Situs Cilongok
10. Tempat Ibadah
Tempat ibadah yang dibangun pada masa lampau dan masih berdiri hingga sekarang, antara lain :
  • Masjid Agung Demak di Demak, Jawa Tengah.
  • Masjid Menara Kudus di Kudus, Jawa Tengah.
  • Gereja Portugis di Jakarta.
  • Masjid Baiturrahman di NAD sekarang.
11. Kitab
Kitab banyak menghiasi peninggalan sejarah. Terutama pada masa Kerajaan Hindu-Buddha.
a. Kitab pada masa Kerajaan Majapahit
  • Sutasoma, kitab ini dikarang oleh Mpu Tantular. Di dalamnya terdapat istilah Bhinneka Tunggal Ika.
  • Negarakertagama, kitab ini dikarang oleh Mpu Prapanca. Istilah Pancasila diambil dari kitab ini.
b. Kitab pada masa Kerajaan Kediri
  • Arjunawiwaha, kitab ini dikarang oleh Mpu Kanwa. Arjunawiwaha ditulis menggunakan bahasa Kawi. Kitab ini menceritakan kebesaran Raja Erlangga.
  • Serat Bharatayudha, Hariwangsa, dan Smaradhana
B. Menghargai Peninggalan Sejarah
Peninggalan sejarah yang sangat tinggi nilainya itu. Peninggalan sejarah tersebut bermanfaat bagi bangsa Indonesia, terutama bagi pelajar. Apakah manfaatnya bagi kita di dalam bidang pendidikan?

1. Manfaat Peninggalan Sejarah
Adapun manfaat peninggalan sejarah adalah sebagai berikut.
  1. Menambah kekayaan budaya bangsa kita.
  2. Menambah pendapatan negara melalui kegiatan wisata.
  3. Sebagai bukti nyata peristiwa sejarah yang dapat kita amati sekarang.
  4. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan.
  5. Sangat membantu dalam bidang pendidikan.
  6. Dapat mempertebal rasa kebangsaan.
  7. Dapat memperkokoh rasa persatuan.
http://novitasitumorang.blogspot.com/p/peninggalan-sejarah.html

7 Kitab Peninggalan Sejarah Beserta Pengarangnya

Berikut ini ada 7 buah kitab-kitab peninggalan zaman kerajaan di Indonesia.

Dua diantaranya adalah kitab yang dihasilkan dari zaman Kerajaan Kediri, sedangkan dua lagi adalah kitab-kitab yang dihasilkan oleh empu pada zaman Kerajaan Majapahit.

7 Kitab Peninggalan Sejarah dan Pengarangnya


1. Kitab Sutasoma, dikarang oleh Empu Tantular.



Empu Tantular hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.

2. Kitab Mahabharata, dikarang oleh Resi Wiyasa.




3. Kitab Ramayana, dikarang oleh Empu Walmiki.



4. Kitab Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa.



Empu Kanwa ini hidup pada zaman pemerintahan Raja Airlangga, Kahuripan.

5. Kitab Smaradahana, dikarang oleh Empu Darmaja.



Empu Darmaja hidup pada zaman Raja Kameswara I Kediri.

6. Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.




Kedua Empu hidup pada zaman kerajaan Kediri, dengan Raja Jayabaya.

7. Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Empu Prapanca.


Empu Prapanca hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.

Tujuh kitab tersebut adalah kitab-kitab kuno yang sangat terkenal di Indonesia, hasil karya Pujangga-Pujangga asli tanah air pada zamannya.

Sebut saja Kitab Sutasoma buah karya Empu Tantular, siapa yang tidak pernah mendengar kitab ini terutama anak-anak sekolah pastilagh pernah mendengarnya dan bahkan hafal sampai siapa pengarangnya.

Sumber : http://pertamag.blogspot.com/2013/10/kitab-kitab-peninggalan-sejarah-dan.html

Pengertian Filsafat Sejarah

                                                            FILSAFAT SEJARAH
 Tokoh-tokoh pemikir/pelopor “filsafat sejarah”

1.   Patrick gardiner


           Menurut gardiner,filsafat sejarah menuju pada dua jenis penyelidikan yang sangat berbeda. Secara tradisional ungkapan tersebut telah digunakan untuk menunjukkan dalam usaha  untuk memberikan keterangan atau tafsiran yang luas mengenai seluruh proses sejarah. Filsafat sejarah dalam arti ini secara khas berincikan dengan pernyataan – pernyataan seperti ; apa arti (makna,tujuan) atau hukum-hukum pokok mana yang mengatur perkembangan dan perubahan dalam sejarah.bermacam – macam dasar yang menjadi tumpuan tafsiran – tafsiran seperti itu,yang bervariasi dari pertimbangan-pertimbangan empiris sampai gagasan-gagasan yang jelas-jelas bersifat religius dan metafisik dan bentuknya tidak sama.sejarawan beranggapan bahwa proses sejarah lebih dari satu kumpulan peristiwa-peristiwa yang “secara tak bermakna”susul-menyusul dalam waktu atau suatu struktur atau tema yang mendasari semua yang masih harus ditemukan.

           Pokok persoalan yang dibahas oleh filsafat sejarah “formal” itu bukan jalannya peristiwa-peristiwa sejarah,melainkan hakikat sejarah yang dipandang sebagai suatu disiplin  dan cabang pengetahuan yang khusus,dengan kata lain boleh dikatakan bahwa ia berurusan dengan pokok-pokok seperti tujuan – tujuan  penyelidikan sejarah,cara-cara sejarawan menggambarkan dan mengklasifikasikan bahan mereka,cara mereka sampai pada menyokong penjelasan-penjelasan dari  hipotesis-hipotesis ,anggapan-anggapan dan prinsip-prinsip yang menggarisbawahi tata cara penyelidikan mereka dan hubungan – hubungan antara sejarah dan bentuk – bentuk penyidikan lain.masalah-masalah yang dibahas oleh sejarah formal bukan masalah-masalah spekulatif sejenis yang telah disebutkan bukan sebagai masalah semacam yang seecara khas digeluti oleh sejarawan profesional dalam proses kerja mereka.pernyataan-pernyataan yang dilibatkan timbul dari renungan atas pemikiran dan penalaran menurut ilmu sejarah dan bersifat epistemologi serta konseptual.

         Minat filsuf terhadap hakikat pemahaman secara philosopis terhadap ilmu sejarah seebagian besar lahir sebagai bagian dari suatu proses umum melawan kecenderungan (lazim diantara penganut paham pencerahan )untuk  memandang ilmu-ilmu alam sebagai mewakili pola teladan dari semua pengetahuan yang benar.bahkan,bagi beberapa prinsip secara spekulatif dari periode yang lebih tinggi,pandangan bahwa kategori-kategori dan cara-cara interpretasi yang dipakai secara berhasil dalam penyelidikan alam fisik secara sah dapat diperluas study-study kemanusiaan,tampak jauh dan terang dan jelas dari dirinya sendiri;terutama tulisan-tulisan vico dan hegel dapat dikatakan merupakan suatu tantangan yang implisit terhadap pendapat tersebut.

          Begitupun ada kepercayaan yang gigih,bahwa tak ada perbedaan – perbedaan dalam prinsip yang membedakan sejarah dari disiplin-disiplin yang lain dan bahwa sejarawan harus berusaha sejauh mungkin untuk menerapkan kepada lapangannya sendiri metode-metode yang telah mapan dalam kawasan lain dari penyelidikan induktif.sejumlah ahli teori yang beralam pikiran posotifisme sejauh kepercayaan itu di dipertahankan,tampak ada dasar-dasar untuk mengganggap bahwa studi sejarah menghadirkan masalah-masalah istimewa ditinjau dari sudut filsafat;secara logis dan empiris teknologis ia sudah ada pada tingkat yang sama dengan bentuk ilmu empiris manapun.

2.  Dilthey dan beneditto Croose
        Mereka bukanlah pejabar yang jelas dari gagasan – gagasan mereka sendiri,dan mereka masukkan ke dalam teori-teori mereka konsepsi-konsepsi metafisik yang telah kehilangan banyak daya tariknya sejak mereka menulis begitupun mereka berhasil dalam memusatkan perhatian pada sifat-sifat kegiatan sejarah yang telah dilupakan dan diremehkan oleh banyak diantara pendahulu mereka.misalnya ditunjukkan bahwa tujuan sejarawan jelas-jelas sangat berbeda dari sifat-sifat khas ahli-ahli ilmu alam,para sejarawan tidak berkepentingan untuk menemukan hukum-hukum dan teori-teori universal yang dapat melahirkan ramalan-ramalan dan yang dapat digunakan sebagai petunjuk kepada tindakan dalam konteks yang praktis dan teknis.sebaliknya tujuan mereka yang utama ialah menentukan apa yang telah terjadi dimasa lalu dan mengapa ini tidak bisa melibatkan suatu pemusatan pikiran atas sifat kekhususan yang konkret dan peristiwa-peristiwa didalam dirinya sendiri unik dan tak dapat diulang.tetapi kategori-kategori yang abstrak dari ilmu yang disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang sangat berlainan;

        Selain itu lebih lanjut pada suatu hal yang sangat hakiki yang ingin ditekankan oleh kritikus-kritikus seperti itu,Baik dilhey maupun crose menggarisbawahi perbedaan yang mereka anggap penting sekali antara pokok persoalan ilmu dan pokok persoalan sejarah dalam istilah-istilah yang kasar,perbedaan ini mungkin dapat digambarkan /diwakili oleh dikhotomi terkenal antara “jiwa” dan “alam”.perbedaan tersebut melibatkan kepercayaan bahwa tidak mungkin memandang kegiatan-kegiatan para pelaku sejarah semata-mata sebagai pemotongan –pemotongan tingkah laku yang dapat diamati dan dapat dikembalikan kepada ( atau dapat dikembangkan dalam istilah benda-benda fisik semata ).

        Dari itu disimpulkan bahwa prinsip pengetahuan dan pengertian yang sesuai disini pasti bukan prinsip-prinsip yang diandalkan oleh tafsiran-tafsiran ilmiah tentang dunia.untuk sejarawan perlu sekali bahwa ia dapat merekonstruksikan “dari alam” alasan-alasan,tujuan tujuan,dan perasaan-perasaan yang menggerakkan pribadi-pribadi yang menjadi sasaran perhatiannya dan yang secara lahiriyah diungkapkan dalam tindakan-tindakan mereka. Bermacam-macam pengertian seperti “menghidupkan kembali” dan “emphaty” didekati dengan maksud untuk merincikan proses ini.

3.  R.G. Collingwood
        Pendirian dasar dari paham diatas,yang didalam pikirannya pertimbangan-pertimbangan dari pelaku sejarah dan dengan begitu peristiwa yang harus disorotinya dibuat menjadi bisa dipahami dengan cara yang tidak pada hubungannya dengan ilmu-ilmu alam,ini menyebabkan diantara lain menegaskan bahwa istilah sebab mempunyai arti sendiri didalam konteks cerita sejarah,tak boleh dicampuradukkan dengan arti manapun yang mungkin saja dikandungnya ditempat lain.jadi menunjukkan apa yang menyebabkan suatu kejadian didalam sejarah bukan merupakan suatu soal meletakkan kejadian itu di bawah kekuasaan hukum ilmiah atau generalisasi empiris.tetapi itu lebih mempersoalkan membangkitkan segi dalam nya yaitu pikiran-pikiran dan alasan yang sekali terbuka,menunjukkan apa yang terjadi sebagai tanggapan dari suatu makhluk rasional berhadapan dengan suatu situasi yang menuntut pemecahan praktis.

4.  Friedrick Hegel (1770-1831)

       George wilhem Friedrick hegel lahir di Stuttgart,jerman 1770.Belajar filsafat di tubingen bersama Schelling.tahun 1817 hegel diangkat menjadi guru besar di Heildelberg dan satu tahun kemudian pindah di berlin.disini hegel sangat populer dan disebut “professor Professorum”artinya guru besarnya professor.mahasiswa-mahasiswa datang dari mana-mana untuk mendengarkan ajarannya.tahun 1831 ia meninggal diberlin.

        Hegel memandang sejarah manusia sebagai perwujudan ide yaang ilahi yaitu “yang mutlak” dan setiap bagian atau periode sejarah merupakan suatu langkah terus ke arah penyempurnaan ide yang ilahi itu. Demikian segala yang ada pada bagian penyempurnaan ini mesti ada berbudi dan segala yang ada adalah hasil perkembangan yang akan datang.

        Dalam pendapat hegel itu bukan suatu negara saja melainkan ada banyak negara tetapi manusia yang hidup didalam negaranya harus mengabdi dan tunduk pada negara itu.jikalau ada banyak negara dan setia diantara memandang diri seperti instansi yang tertinggi untuk manusia dan anggotanya masing-masing,maka mudah terjadi perselisihan paham dan menimbulkan peperangan antara mereka itu adalah kegiatan dan semangat yang mendorong sejarah terus-menerus.lagi pula dalam setiap zaman ada suatu bangsa atau nation yang dipilih yang beertanggung jawab atas perkembangan sejarah dan kebudayaan,suatu bangsa yang bertugas dan berkewajiban mengembangkan sejarah dan kebudayaan,suatu bangsa yang bertugas dan berkewajiban mengembangkan sejarah dengan sistem dialektis itu.

         Hegel memandang ide itu yaitu yang mutlak sebagai sebab yang terakhir untuk segala kejadian dan segala realitet.ideealah yang menetapkan dan membentuk setiap yang diseebut realitet dalam setiap fase.dari perkembangan sejarah,perkembangan filsafat sejarah sesudah hegel memang kelihatan sintesis definitif dari hegel sama sekali tidak berhasil.pemikiran hegel itu hanya sebuah tesis yang merupakan titik tolak untuk banyak aliran baru yang dapat dilihat sebagai antitesis-antitesis baru.tetapi pengaruh hegel baik dalam arti positif maupun negatif,sangat besar.
    
 Tokoh pemikir filsafat Sejarah Nasional Indonesia


1.  Prof.Muhammad Yamin

      
        Menurut Muh.yamin,untuk menyusun filsafat sejarah nasional banyak kita petik dari pujangga dari timur dan barat,untuk membentuk filsafat sejarah nasional menurut muh.yamin ialah dengan cara pemusatan pikiran kepada segala kejadian dan peristiwa sejarah indonesia dan dalam hubungan dengan sejarah pada umumnya serta isi kajian filsafat.filsafat sejarah nasional mempunyai empat dasar kajian ,yaitu ;

1.  Kebenaran
Tujuan terakhir yang dijadikan tugas bagi-bagi ilmu filsafat ialah mencari kebenaran yang sesungguhnya.dengan sengaja disebutkan mencari kebenaran,dan tidak disebutkan mendapat kebenaran yang juga dapat dikatakan mempunyai atau memiliki kebenaran.jadi filssafat sejarah mempunyai kebenaran yang aktif,sedang filsafat-sejarah adalah seseorang musafir yang merantau mendekati tujuan menuju kebenaran walaupun kebenaran itu tidak dimiliki oleh ahli pemikir sejarah,tetapi dengan meninjau atau menafsirkan segala kejadian itu dia telah dan selalu berkeyakinan secara subjektif.

2.  Sejarah indonesia
Yang menjadi objek filsafat sejarah atau yang ditafsirkannya ialah sejarah indonesia.dalam hal ini maka sejarah adalah ilmu pengetahuan yang dipahamkan dan telah dirumuskan secara ilmiah dengan bernama demikian,oleh karena objek itulah filsafat itu menjadi filsafat sejarah,sehingga kejadian-kejadian sebagai kelahiran masyarakat dizaman yang lampau membatasi filsafat itu menjadi filsafat khusus,sedangkan cara menafsirkan dan hubungan kejadian itu adalah dalam taraf yang umum dan universal.

3.  Sintesis
Tafsiran sejarah yang sintesis menjamin timbulnya sejarah indonesia yang umum dengan menghindarkan berat sebelah,sehingga lepas dari gambaran ialah terhadap masyarakat pada zaman lampa,melainkan menjamin timbulnya cabang filsafat bagi sejarah dalam zaman pembangunan.

Falsafah pancasila membangun negara Republik indonesia,dan falsafah sejarah membantuk kerangka dan menyusun isi sejarah indonesia.filosofi sintesis bagi seeluruh kehidupan bangsa indonesia kini dan nanti belum dirumuskan.bahan-bahan untuk itu memang sudah tersedia,dan dapat dipakai oleh segala tenaga yang hendak berusaha kejurusan itu.tafsiran sintesis juga dapat dipakai bagi meninjau sejarah indonesia dalam suatu babakan,zaman atau waktu.

4.  Nasionalisme indonesia

Nasionalisme indonesia memberi tiga corak kepada filsafat sejarah seperti yang diuraikan diatas;

Pertama : yang menjadi objek tafsiran ialah sejarah nasional indonesia,yang berbeda cara menulis dari pada sejarah indonesia sebelum proklamasi,karena yang menjadi dasar kepada penulisan sejarah indonesia sesudah tahun 1945 ialah adanya kemerdekaan bagi bangsa indonessia yang menjadi syarat mutlak bagi segala ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh hikmah manusia bebas.

Kedua : cara menafsirkan kejadian sejarah adalah sesuai dengan jalan pikiran orang atau bangsa indonesia yang telah bebas merdeka,dan yang tak terikat rasa rendah atas berpandangan sempit didalam ruangan pikiran yang bebas.

Ketiga : uraian dengan lisan atau menuliskan sejarah indonesia memenuhi syarat isnad para pengarang supaya secara subjektif sesuai dengan susila perjuangan kemerdekaan : memenuhi syarat susila pada karangan penulisan sejarah dan memenuhi syarat ilmu jiwa dan pendidikan suapaya nasionalisme indonesia merdeka menjadi kebanggaan bangsa,menjadikan sejarah indonesia sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan untuk kehidupan bangsa yang ingin berjiwa besar dan luas.

2.  Dr.Soedjatmoko
         Sudah menjadi ciri manusia yang berfikir bahwa ia hendak menyusun pengetahuannya sedemikian rupa,sehingga pengetahuan itu dapat dicukupi oleh satu atau dua asas pokok dan prinsip saja.demikian juga manusia,dalam menghadapi fakta-fakta sejarah,sejak dahulu telah mencoba untuk merumuskan suatu filsafat sejarah yang mencukupi segala sesuatu yang diketahuinya didalam lapangan sejarah itu,sehingga makna dari sejarah manusia itu menjadi terang.kita juga sekarang mengetahui bahwa si pemikir sejarh itu dalam memandang kepada sejarah tidak dapat melepaskan dirinya dari pandangannya dari keadaan sejarah yang dialaminya sendiri,maka dalam menghadapi kenyataan sejarah dan dalam usahanya untuk mencari penjelasan dari pada sejarah ,mengenai makna kehidupan manusia.

       Kegemilangan hari lampau kita juga tidak dapat kita pandang sebagai sesuatu yang tidak terbuka untuk peneropongan serta penyelidikan ilmu sejarah dengan alat-alat dan cara-cara yang juga digunakan dalam pemikiran dan penyidikan ilmu sejarah untuk sejarah umat manusia lainnya.pandangan semacam itu hanya dapat timbul dari suatu kekhawatiran yang mendalam,atau kemungkinan kehilangan pribadinya sendiri dalam menghadapi suatu dunia luar dan hari depan yang tak dikenalnya,ataupun ia timbul dari suatu rasa keangkuhan terhadap bangsa-bangsa lainnya.sejarah umat manusia sendiri telah memberikan contoh-contoh kepada kita,betapa besarlah bahaya bagi sesuatu bangsa,yang telah tersesat didalam suatu dunia impian bikinan sendiri semacam itu.kita sendiri telah menyaksikan runtuhnya impian jepang fasis yang mengganggap dirinya sebagai sesuatu bangsa yang mempunyai asal serta panggilan tersendiri didunia.

        Jikalau ini kesimpulan kita,yaitu filsafat sejarah sekarang telah turun menjadi pemikiran,renungan tentang sejarah dan filsafat sejarah nasional tempatnya bukan didalam lapangan ilmu sejarah atau didalam lapangan filsafat sejarah,kesimpulan ini tidak cukup sampai disini.kebutuhan akan kepastian hidup,kegelisahan mengenai keadaan pribadi kita,dan mengenai arah arus perkembangan,terlampau mendesak,terlampau sungguh-sungguh.

3.  Prof.sartono kartodirdjo

       Filsafat sejarah adalah suatu bagian filsafat yang berusaha memberikan jawaban terhadap pernyataan mengenai makna dari suatu proses peristiwa sejarah.manusia budaya tidak puas dengan pengetahuan sejarah,dicarinya makna yang menguasai kejadian-kejadian sejarah.dicarinya hubungan fakta-fakta dan sampai kepada asal dan tujuannya.kekuatan apakah yang akan menggerakkan sejarah kearah tujuannya.jika kejadian – kejadian yang ditinjau dengan pandangan kemasa depan atau harapan akan perwujudan masa depan hal demikian menetapkan arah pertumbuhan kebudayaan dimasa depan.gambaran masa depan ini sesuai benar dengan sifat kebudayaannya.

       Dalam menghadapi realitas sekitarnya menuju bentuk pikiran seperti tercantum dalam pralambang jayabaya disusun dalam suatu gambaran atau pandangan dunia.orientasi kepada kehidupan organis menimbulkan bentuk pikiran siklis,sedangkan pemikiran realitas yang diarahkan kepada proses kemanusiaan dengan melihat suatu telos (tujuan) atau fisis (akhir) membentuk pikiran yang linear.filsafat sejarah sebagai bagian inheren dari pandangan dunia akan mengikuti pola pikir  yang berkuasa dalam kebudayaan dan merupakan bentuk pikiran dari kebudayaan.dengan menguraikan unsur-unsur pralambang jayabaya sebagai filsafat sejarah,mungkin akan tampak suatu bentuk pikiran sebagai suatu segi dari ragam kebudayaan indonesia.

       Dari adanya saling pengaruh itu dapat disimpulkan bahwa setiap unsur mereflesikan ciri-ciri dari kebudayaan,ssebaliknya untuk memahami sifat dan hakikat untuk masing-masing senantiasa perlu ditempatkan dalam konteks kulturalnya.filsafat sejarah sebagai manifestasi kebudayaan yang mendukungnya,mau tak mau mencerminkan gaya kultural peradabannya.latar belakang kebudayaan menjadi faktor determinan bagi suatu filsafat sejarah,maka perbandingan antara filsafat sejarah antara abad pertengahan dengan filsafat sejarah modern akan mampu menonjolkan  perbedaan sifat-sifat kedua peradaban tersebut.parelisme antara filsafat sejarah dengan kebudayaan yang melingkupinya jelas-jelas menampilkan adanya afinitas kultural suatu filsafat sejarah atau pandangan hidup.

Sumber : http://ryanpunyo.blogspot.com/2013/11/resume-filsafat-sejarah-menurut-para.html

Makna dan Kegunaan Dari Sejarah

Kata sejarah berasal dari bahasa Arab yaitu Syajaratun yang artinya pohon. Menurut bahasa Arab, sejarah sama artinya dengan sebuah pohon yang terus berkembang dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks atau ke tingkat yang lebih maju dan maka dari itu sejarah di umpamakan menyerupai perkembangan sebuah pohon yang terus berkembang dari akar sampai ranting yang paling kecil yang kemudian bisa diartikan silsilah. Syajarah dalam arti silsilah berkaitan dengan babad, tarikh, mitos dan legenda. Dalam bahasa Inggris kata sejarah (history) berarti masa lampau umat manusia, dalam bahasa Jerman kata sejarah (geschichte) berarti sesuatu yang telah terjadi, sedangkan dalam bahasa Latin dan Yunani kata sejarah (histor atau istor) berarti orang pandai. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sejarah pun mengalami perkembangan.

Menurut Dr. Kuntowijoyo sejarah dapat diartikan dua macam:

A. SEJARAH DALAM ARTI NEGATIF
1. Sejarah itu bukan mitos
Meskipun sama-sama menceritakan masa lalu, sejarah berbeda dengan mitos. Mitos menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas dan kejadiannya tidak masuk akal di masa sekarang contohnya dari jawa ada mitos tentang Raja dewatasangkar pemakan manusia yang dikalahkan oleh Ajisaka, sedangkan dalam sejarah semua peristiwa secara tepat diceritaka waktu dan tempat terjadinya.

2. Sejarah bukan filsafat
Sejarah mempelajari sesuatu yang konkret, sedangkan filsafat itu abstrak dan spekulatif, dalam arti hanya berkaitan dengan pikiran umum.

3. Sejarah bukan ilmu alam
Sejarah menuliskan sesuatu yang khas atau unik, sedangkan ilmu alam menuliskan sesuatu yang umum.

4. Sejarah itu bukan sastra
Perbedaan sejarah dengan sastra ada 4 hal yaitu cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan.

B. SEJARAH DALAM ARTI POSITIF
1. Sejarah adalah ilmu tentang manusia
Karena yang dipelajari adalah manusia dalam sebuah peristiwa bukan cerita masa lalu manusia secara keseluruhan.

2. Sejarah adalah ilmu tentang waktu
Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah adalah ilmu tentang waktu yang mencangkup empat hal yaitu

        Perkembangan, terjadi bila masyarakat secara terus menuerus bergerak dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks.
        Kesinambungan, terjadi bila seuatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama.
        Pengulangan, terjadi bila seuatu peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi lagi di masa sekarang.
        Perubahan, terjadi bila masyarakat mengalami pergerakan dan perkembanganyang besar dalam waktu yang singkat yang disebabkan oleh pengaruh dari luar.

3. Sejarah ialah ilmu tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial
Dalam sejarah yang dipelajari bukan hanya akativitas manusia saja, melainkan aktifitas manusia yang mempunyai makna sosial.

4. Sejarah ialah ilmu tentang sesuatu yang terperinci dan tertentu
Sejarah adalah sejarah tertentu. Sejarah harus menulis peristiwa, tempat, dan waktu yang hanya sekali terjadi. Sedangkan sejarah harus terperinci artinya sejarah harus menyajikan yang kecil-kecil, tidak terbatas pada hal-hal yang besar.

C. Pengertian Sejarah Berdasarkan Bentuk dan Sifatnya
1. Sejarah sebagai peristiwa

Peristiwa merupakan aktivitas manusia yang hanya sekali terjadi dan hilang bersama dengan lewatnya waktu, yang kemudian dilanjutkan dengan aktivitas lain. Sejarah sebagai peristiwa adalah peristiwa masa lampau, dalam arti peristiwa sebagaimana terjadi.

2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah adalah peristiwa yang sudah terjadi diungkap kembali melalui tulisan maupun lisan. Peristiwa sejarah yang dimaksud terutama peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut kehidupan manusia secara umum.

3. Sejarah sebagai ilmu
Sejarah sebagai ilmu dikarenakan sejarah sebagai pengetahuan. Ilmu pengetahuan sejarah seperti halnya ilmu pengetahuan lainnya mulai berkembang pada abad ke-19. Pengetahuan ini meliputi kondisi-kondisi masa manusia yang hidup pada suatu jenjang sosial tertentu.

Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu adalah

        - Sejarah itu mempunyai obyek, yaitu aktivitas dan peristiwa di masa lampau.
        - Sejarah itu mempunyai teori, yaitu memberi penjelasan tentang kapan sesuatu itu terjadi.
        - Sejarah itu mempunyai metode, yaitu bahwa suatu pernyataan dari peneliti itu harus didukung oleh bukti-bukti sejarah. Proses rekonstruksi sejarah mulai dari heuristic (mencari sumber sejarah), kritik sumber, interpretasi data sampai dengan penulisan hasil penelitian (historiografi), harus berdasarkan metode. Dengan metode itu rekonstruksi sejarah akan menghasilkan tulisan sejarah ilmiah dan penulisan sejarah tanpa dilandasi oleh metode sejarah hanya akan menghasilkan tulisan populer yang uraiannya bersifat deskriptif naratif dan tidak menunjukkan ciri-ciri karya ilmiah sejarah.

        Sejarah bersifat sistematis, yaitu sejarah sebagai kisah ditulis secara sistematis. Hubungan antar bab dengan hubungan antar sub bab pada setiap bab disusun secara kronologis, sehingga uraian secara keseluruhan bersifat diakronis (memanjang menurut alur waktu). Uraian sistematis akan menunjukkan hubungan antara stu fakta dengan fakta lain yang bersifat kasalitas (hubungan sebab akibat) karena sejarah merupakan proses.

4. Sejarah sebagai seni
Sejarah sebagai seni merupakan sejarah tentang pengetahuan rasa. Sejarah memerlukan pemahaman dan pendalaman. Sejarah tidak saja mempelajari segala sesuatu gerakan dan perubahan yang tampak di permukaan tetapi juga mempelajari motivasi yang mendorong terjadinya perubahan.

Adapun ciri-ciri sejarah sebagai seni antara lain:

        Sejarah menentukan intuisi, yaitu pemahaman langsung dan instingtif selama masa penelitian berlangsung.
        Sejarah memerlukan imajinasi, yaitu untuk membayangkan apa yang sebelum, sekarang dan sesudah kejadian sebuah peristiwa.
        Sejarah memerlukan emosi, yaitu untuk membuat orang yang membaca tulisan sejarah seolah-olah hadir menyaksikan sendiri peristiwa itu.
        Sejarah memerlukan gaya bahasa.

D. FUNGSI INTRINSIK SEJARAH
1. Sejarah sebagai ilmu
Sejarah sebagai ilmu artinya siapa saja dapat mengaku sebagai sejarawan secara sah asal hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagai ilmu.

2. Sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau
Terhadap sejarah setelah orang mengetahui masa lampaunya pasti akan melestarikan atau menolaknya.

3. Sejarah sebagai pernyataan pendapat
Banyak penulis sejarah yang menggunakan ilmunya untuk menyatakan pendapat.

4. Sejarah sebagai profesi
Tidak semua lulusan sejarah dapat tertampung dalam profesi kesejarahannya dan malah tidak sedikit yang menjadi guru di luar ilmunya.

E. FUNGSI EKSTRINSIK SEJARAH

Fungsi sejarah yang penting untuk dipahami adalah fungsi edukatif yang mencakup:

1. Sejarah sebagi pendidikan moral
Jika pendidikan moral harus berbicara tentang benar dan salah maka sejarah harus berbicara dengan fakta. Fakta sangat penting dalam sejarah tanpa fakta tidak boleh bersuara.

2. Sejarah sebagai pendidikan penalaran
Mempelajari sejarah secara kritis atau menulis sejarah secara ilmiah akan mendorong meningkatkan daya nalar orang yang bersangkutan.

3. Sejarah sebagai pendidika politik
Sejarah mengandung pendidikan politik karena peristiwa tertentu menyangkut tindakan politik atau kegiatan bersifat politik.

4. Sejarah sebagai pendidikan kebijakan
Kebijakan di masa lampau sangat mungkin dapat dijadikan bahan acuan dalam menghadapi kehidupan di masa kini.

5. Sejarah sebagai pendidikan perubahan
Sejarah adalah proses yang menyangkut perubahan. Pada dasarnya kehidupan manusia terus berubah, walaupun kadar perubahan dari waktu ke waktu tidak sama. Perubahan itu karena disengaja atau tidak disengaja. Sejarah bisa relevan dengan perubaan asalkan tidak mempelajari waktu yang terlalu jauh.

6. Sejarah sebagai pendidikan keindahan
Pengalaman estetik akan datang melalui mata waktu kita antara lain datang ke monumen, candi, istana dan membaca. Kita hanya diminta untuk membuka hati dan perasaan.

7. Sejarah sebagai alat bantu
Sejarah sebagai pengetahuan dan ilmu dapat membantu menjelaskan permasalahan yang dikaji oleh ilmu-ilmu lain seperti antropologi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum, dan lain-lain.

8. Sejarah sebagai latar belakang

Tanpa mengetahui sejarah latar belakang maka seseorang tidak akan menjadi terampil.

9. Sejarah sebagai bukti

Sejarah selalu dipakai untuk membenarkan perbuatan.

F. KEGUNAAN SEJARAH
Sejarah mempunyai beberapa kegunaan atau manfaat antara lain:

1. Kegunaan Edukatif
Banyak manusia yang belajar dari sejarah. Belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan. Pengalaman tidak hanya terbatas pada pengalaman yang dialaminya sendiri, melainkan juga dari generasi sebelumnya. Dengan belajar sejarah seseorang akan senantiasa berdialog anatara masa kini dan masa lampau sehingga bisa memperoleh nilai-nilai penting yang berguna bagi kehidupannya. Nilai-nilai itu dapat berupa ide-ide maupun konsep kreatif sebagai sumber motivasi bagi pemecahan masalah kini dan selanjutnya untuk merealisasikan harapan masa yang akan datang.

2. Kegunaan Inspiratif
Berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada para pembaca dan pendengarnya. Belajar sejarah disamping akan diperoleh ide-ide atau konsep-konsep baru kreatif yang berguna bagi pemecahan masalah masa kini, juga penting untuk memperoleh inspirasi dan semangat bagi mewujudkan identitas sebagai suatu bangsa, semangat nasionalisme maupun dalam upaya mnumbuhkan harga diri bangsa.

3. Kegunaan Rekreatif
Sejarah sebagai kisah dapat memberi suatu hiburan yang segar. Melalui penulisan sejarah yang menarik pembaca dapat terhibur. Membaca menjadi media hiburan yang rekreatif.

4. Kegunaan Instruktif
Kegunaan instruktif sejarah berkaitan dengan fungsi sejarah dalam menunjang bidang-bidang teknologi, dalam artian bahwa studi tahu hasil penelitian sejarah yang menyangkut penemuan-penemuan teknik sepanjang sejarah kehidupan manusia, dimana sejarah masing-masing penemuan tersebut diperlukan bagi usaha menjelaskan prinsip-prinsip kerja teknik-teknik tertentu dalam masa setelahnya.

Sumber : http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/03/makna-dan-kegunaan-sejarah.html

Apa Manfaat Belajar Sejarah

Manfaat Belajar SEJARAH

Apakah gunanya orang mempelajari sejarah ?
Mengapa orang mempelajari sejarah ?

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan klasik, tetapi selalu mengusik dan menggugah hati

manusia dari dahulu hingga saat sekarang ini. Sejak jaman Sokrates, Herodotos (484 –

425 s.M), dan Thucydides (456 – 396) orang memandang sejarah sebagai teladan

kehidupan. Teori ini disebut sebagai the examplar theory of history. Sejarah dapat

memberikan nilai atau norma yang dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan sehari-hari.

Bagi orang Cina sejarah merupakan cermin kehidupan. Tradisi penulisan sejarah bagi

bangsa Cina sudah sangat tua. Raja atau dinasti yang sedang berkuasa berkewajiban

untuk menuliskan sejarah raja atau dinasti yang digantikannya. Frasa semacam itu dalam

bangsa Romawi kuno diungkapkannya dalam adagium : historia vitae magistra, yang

berarti sejarah adalah guru kehidupan.

Agar dapat hidup dengan lebih baik orang harus berguru kepada sejarah.

Sejarah adalah akumulasi rekaman pengalaman manusia. Mempelajari sejarah mempelajari

segala bentuk puncak pengalaman dan perubahan yang telah dicapai manusia sepanjang

abad. Dari sejarah masa lampau manusia memperoleh bekal dan titik pijak untuk

membangun sejarah baru. Kehidup manusia selalu harus berdialog dengan sejarah masa

lalu untuk dapat membangun sejarah di masa sekarang, serta memproyeksikan

pandangan ke dalam sejarahnya di masa mendatang. Dimensi kesejarahan menuntut

manusia untuk selalu melakukan pembaharuan dan berupaya mencapai kemajuan.

Menurut Robert Jones Shafer (1974) manfaat sejarah adalah sebagai berikut:

1. Memperluas pengalaman-pengalaman manusiawi.

Belajar sejarah sama artinya berdialog dengan masyarakat dan bangsa manapun dan di

saat kapan pun. Dari pengalaman sejarah itu orang dapat menimba pengalaman-

pengalaman dalam menghadapi dan memecahkan problem-problem kehidupan dalam

segala aspeknya seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pada dasarnya problem-

problem kehidupan manusia hampir sama, yang berbeda adalah detail dan intensitasnya.

Cara mengatasi dan memberikan tanggapan terhadap masalah, baik secara intelektual

maupun secara emosional, juga tidak terlalu berbeda. Dengan belajar sejarah, karenanya,

sikap dan kepribadian seseorang akan menjadi lebih matang.

2. Dengan belajar sejarah akan memungkinkan seseorang untuk dapat memandang

sesuatu secara keseluruhan (to see things whole).


Sejarah menawarkan begitu banyak dan bervariasi (the multiplicity or variety) kondisi dan

pengalaman manusia. Tidak ada disiplin ilmu yang mampu menyajikan rekaman

pengalaman manusia yang begitu menyeluruh, selain sejarah. Agama, filsafat, dan ilmu-

ilmu sosial lainnya memberikan sumbangan yang sama, namun hanya sebatas dan

menurut cara ilmu itu sendiri. Dimensi keseluruhan dalam sejarah diharapkan akan mampu

membangun keutuhan kepribadian manusia.

3. Sejarah memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian

bangsa.


Suatu masyarakat atau bangsa tak mungkin akan mengenal siapa diri mereka dan

bagaimana mereka menjadi seperti sekarang ini tanpa mengenal sejarah. Sejarah dengan

identitas bangsa memiliki hubungan timbal-balik. Akar sejarah yang dalam dan panjang

akan memperkokoh eksistensi dan identitas serta kepribadi suatu bangsa. Bangsa itu,

karenanya, akan bangga dan mencintai sejarah dan kebudayaannya.

Nugent dalam bukunya Creative Huistory (1967) menjawab pertanyaan mengapa kita

perlu mempelajari sejarah dari dua segi,.

1. How can history help us make a living ?

(Bagaimana sejarah itu dapat menolong kita untuk hidup).

2. How can history help us become better person ?

(Bagaimana sejarah itu dapat menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik) Sejarah

sebagai pengalaman manusia memberikan berbagai alternatif untuk memilih begitu banyak

cara hidup (a multitude of ways).

Untuk menjawab pertanyaan tersebut Nugent (1967) mengatakan dengan tegas bahwa :

    ’’Know other peoples, know yourself.’’

Setiap orang adalah produk masyarakat dan masyarakat adalah produk masa lampau,

ialah produk sejarah. Dengan mempelajari sejarah kita akan mampu menghindari berbagai

kesalahan dan kekurangan masyarakat masa lampau untuk kemudian memperbaiki masa

depan.

Sejarah - Berdirinya - Dinasti - Fatimiyah

Dinasti Fatimiyah adalah salah satu dari Dinasti Syiah dalam sejarah Islam. Dinasti ini didirikan di Tunisia pada tahun 909 M. sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang terpusat di Baghdad, yaitu bani Abbasiyah. Dinasti Fatimiyah didirikan oleh Sa’id ibn Husain, kemungkinan keturunan pendiri kedua sekte Islamiyah. Berakhirnya kekuasaan Daulah Abbasiyah di awal abad kesembilan ditandai dengan munculnya disintegrasi wilayah. Di berbagai daerah yang selama ini dikuasai, menyatakan melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah di Baghdad dan membentuk daulah-daulah kecil yang berdiri sendiri (otonom). Di bagian timur Baghdad, muncul dinasti Tahiriyah, Saariyah, Samaniyah, Gasaniyah, Buwaihiyah, dan Bani Saljuk. Sementara ini di bagian barat, muncul dinasti Idrisiyah, Aglabiyah, Tuluniyah, Fatimiyah, Ikhsidiyah, dan Hamdaniyah.

Dinasti Fathimiyah adalah merupakan salah satu dinasti Islam yang pernah ada dan juga memiliki andil dalam memperkaya khazanah sejarah peradaban Islam. Sama halnya pengutusan Muhammad SAW sebagai Rasulullah telah menoreh sejarah Islam, yang pada awalnya hanya merupakan bangsa jahiliyah yang tidak mengenal kasih sayang dan saling menghormati.

Jikalau ditarik garis horizontal sejarah Islam, maka akan diketahuilah bahwa dari sekian banyak sejarah peradaban Islam yang termaktub dalam buku-buku sejarah peradaban banyak terjadi pertumpahan darah hanya demi menegak dan mempertahankan kepemimpinan. Maka adalah sangat janggal jika uraian makalah ini menganalisis persoalan sejarah dalam korelasi hubungannya terhadap konsepsi teologi, karena substansi pembahasan makalah ini, bukan untuk melihat sejarah masa lalu umat Islam yang mesti diapresiasikan oleh umat masa kini dalam rangka menakar dogma teologis ke arah yang lebih luas adan universal.

B. Fase pendirian Dinasti Fathimiyah.
Dinasti Fathimiyah berdiri pada tahun 297 H/910 M, dan berakhir pada 567H/1171 M yang pada awalnya hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berkedudukan di Afrika Utara, dan kemudian berpindah ke Mesir[3]. Dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad SAW dan sekaligus istri Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu. Dan juga dinasti ini mengklaim dirinya sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Zahra binti Rasulullah SAW. Namun masalah nasab keturunan Fathimiyah ini masih dan terus menjadi perdebatan antara para sejarawan. Dari dulu hingga sekarang belum ada kata kesepakatan diantara para sejarawan mengenai nasab keturunan ini, hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya ;

Pertama, pergolakan politik dan madzhab yang sangat kuat sejak wafatnya Rasulullah SAW.

Kedua, ketidakberanian dan keengganan keturunan Fatimiyah ini untuk mengiklankan nasab mereka, karena takut kepada penguasa, ditambah lagi penyembunyian nama-nama para pemimpin mereka sejak Muhammad bin Ismail hingga Ubaidillah al Mahdi.

Dinasti Fatimiyah beraliran syiah Ismailiyah dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al Salamiyah yang bergelar Ubaidillah al Mahdi. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan.

Pada awalnya, Syiah Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas, baru pada masa Abdullah bin Maimun yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah.

Silsilah Kekhalifaan Fatimiyah
  •     Al-Mahdi (909-934)
  •     Al-Qa’im (934-946)
  •     Al-Manshur (946-952)
  •     Al-Mu’izz (952-975)
  •     Al-Aziz (975-996)
  •     Al-Hakim (996-1021)
  •     Al-Zhahir (1021-1035)
  •     Al-Mustanshir (1035-1094)
  •     Al-Musta’li (1094-1101)
  •     Al-Amir (1101-1130)
  •     Al-Hafizth (1130-1149)
  •     Al-Zafir (1149-1154)
  •     Al-Fa’iz (1154-1160)
  •     Al-Adhid (1160-1171)
Pasca kematian Abdullah ibn Maimun, tampuk pimpinan dijabat oleh Abu Abdullah al-Husain, melalui propagandanya ia mampu menarik simpati suku Khitamah dari kalangan Berber yang bermukim didaerah Kagbyle untuk menjadi pengikut setia. Dengan kekuatan ini, mereka menyeberang ke Afrika Utara dan berhasil mengalahkan pasukan Ziyadat Allah selaku Penguasa Afrika Utara saat itu.

Syi’ah Islamiyah mulai menampakkan kekuatannya setelah tampuk Pemerintahan dijabat oleh Sa’id ibn Husain al-Islamiyah yang menggantikan Abu Abdullah al-Husain. Di bawah kepemimpinannya, Syi’ah Islamiyah berhasil menaklukkan Tunisia sebagai pusat kekusaan daulah Aglabiyah pada tahun 909 M. Said memproklamasikan dirinya sebagai imam dengan gelar Ubaidillaj al Mahdi.

Sa’id mengaku dirinya sebagai putera Muhammad al-Habib seorang cucu imam Islamiyah. Namun kalangan Sunni berpendapat bahwa Sa’id berasal dari keturunan Yahudi sehingga dinasti yang didirikannya pada awalnya disebut dinasti Ubaidillah. Sementara Ibn Khaldun, Ibn al-Asir dan Philip K. Hitti berpendapat bahwa Sa’id memang berasal dari garis keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammad SAW, yang bersambung garis keturunannya hingga Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Ubaidillah merupakan khalifah pertama daulah Fatimiyah. Ia memerintah selama lebih kurang 25 tahun (904-934 M). Dalam masa pemerintahannya, al-Mahdi melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika, meliputi Maroko, Mesir, Multa, Alexandria, Sardania, Corsica, dan balerick. Pada 904 M, Kahalifah al-Mahdi mendirikan kota baru dipantai Tunisia yang diberi nama kota Mahdiyah yang didirikan sebagai ibukota pemerintahan

Di Afrika Utara kekuasaan mereka segera menjadi besar. Pada tahun 909 mereka dapat menguasai dinasti Rustamiyah dan Tahert serta menyerang bani Idris di Maroko. Pekerjaan daulah Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan ummat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah dan istri dari Ali bin Abu Muthalib.

Daulah Fatimiyah memasuki era kejayaan pada masa pemerintahan Abu Tamin Ma’Abu Daud yang bergelar al-Mu’iz (953-997). Al-Mu’iz behasil menaklukkan Mesir dan memindahkan pemerintahan ke Mesir. Pada masa ini rakyat merasakan kehidupan yang makmur dan sejahtera dengan kebijakan-kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Indikatornya adalah banyaknya bangunan fisik seperti Mesjid, Rumah sakit, Penginapan, jalan utama yang dilengkapi lampu dan pusat perbelanjaan. Pada masa ini pula berkembang berbagai jenis perusahaan dan kerajinan seperti tenunan, kermik, perhiasan emas, dan perak, peralatan kaca, ramuan, obat-obatan.

Kesuksesan lainnya adalah dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Besarnya minat masyarakat kepada ilmu pengetahuan mendapat dukungan penguasa dengan membangun Dar al-Hikmah pada tahun 1005 M dan perguruan tinggi al-Azhar (yang sebelumnya adalah bangunan masjid), yang mengajarkan ilmu kedokteran, Fiqh, Tauhid, Al-Bayan, Bahasa Arab, Mantiq, dan sebagainya.

C. Perkembangan dan kemajuan Dinasti Fatimiyah.

Pada masa pemerintahan Fatimiyah, persoalan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Agama dipandang sebagai pilar utama dalam menegakkan daulah/negara. Untuk itu, pemerintah Fatimiyah sangat memperhatikan masalah keberagamaan masyarakat meskipun mereka berstatus sebagai warga negara kelas dua seperti orang Yahudi, Nasrani, Turki, Sudan.

Menurut K.Ali, mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat, bahkan penuh perhatian terhadap urusan agama non muslim sehingga orang-orang Kristen Kopti Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan selain dari pemerintahan Muslim. Banyak orang Kristen, seperti al-Barmaki, yang diangkat jadi pejabat pemerintah dan rumah ibadah mereka dipugar oleh pemerintah.

Akan tetapi, Kemurahan hati yang ditampilkan Khalifah Fatimiyah terhadap orang Kristen tidak urung menimbulkan isu negatif. Al-Mu’iz yang dikenal dengan kewarakan dan ketaqwaannya diisukan telah murtad, mati sebagai orang Kristen dan dikubur di gereja Abu Siffin di Mesir kuno. Namun, menurut Hasan, isu tersebut tidak benar sebab tidak ada sejarawan yang menyebutkan seperti itu, dan hanya cerita karangan (Khurafat) yang sengaja dienduskan oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya termasuk dari sisa-sisa penguasa Abbasiyah yang sengaja ingin melemahkan kekuatan Fatimiyah.

Sementara itu, agama yang didakwahkan Fatimiyah adalah ajaran Islam, menurut pemahaman Syi’ah Islamiyah yang ditetapkan sebagai mazhab negara. Untuk itu, para missionaris daulah Fatimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran tersebut dan berhasil meraih pengikut yang banyak sehingga masa kekuasaan daulah Fatimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan mazhab Islamiyah.

Meskipun para Khalifah berjiwa moderat, akan tetapi terhadap orang yang tidak mau mengakui ajaran Syi’ah Islamiyah langsung dihukum bunuh. Pada tahun 391 H khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan/fadhilah Ali bin Abi Thalib, dan di tahun 395 H, al-Hakim juga memerintahkan agar di mesjid, pasar dan jalan-jalan ditempelkan tulisan yang mencela para sahabat.

Jelasnya peranan agama sangat diperhatikan sekali oleh penguasa untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Buktinya, sikap tegas khalifah Fatimiyah terhadap orang yang tidak mau mengakui mazhab Isma’iliyah dapat berupa apabila sikap seperti dapat berakibat munculnya instabilitas negara. Al-Hakim misalnya, agar terjalin hubungan yang baik dengan rakyatnya yang berpaham sunni, al-Hakim mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela sahabat khususnya khalifah Abu Bakar dan Umar. Al-Hakim juga membangun sebuah madrasah yang khusus mengajarkan paham sunni, memberikan bantuan buku-buku bermutu sehingga warga Syi’ah ketika merasa senang sebab merasakan tengah hidup dikawasan sunni.

Sikap yang diambil para khalifah Fatimiyah tidak sekejam yang dilakukan Abdullah al-Saffah yang berusaha mengikis habis siapa-siapa pengikut Bani Ummayyah di awal masa kekuasaannya. Dalam hal ini para khalifah Fatimiyah memberlakukan masyarakat secara sama selama mereka bersedia mengikuti ajaran Syi’ah Isma’iliyah yang merupakan madzhab negara.

Ketidak senangan khalifah Fatimiyah kepada Abbasiyah tidak menunjukkan dalam bentuk kekerasan. Hanya saja, Khalifah Fatimiyah melarang menyebut-nyebut bani Abbasiyah dalam setiap khutbah jum’at dan mengharamkan pemakain jubah hitam serta atribut bani Abbasiyah lainnya. Pakaian yang dipakai untuk khutbah adalah berwarna putih.

Meskipun al-Mu’iz menuntaskan pemberontakan, akan tetapi ia akan selalu menempuh jalan damai terhadap pera pemimpin dengan Gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada yang bersedia menunjukkan loyalitasnya. Banyak diantara para Gubernur yang bersedia mengikuti mazhab Isma’iliyah, padahal mereka sebelumnya adalah Gubernur yang diangkat khalifah Abbasiyah. Sikap mereka ini juga dilakukan oleh penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka bersedia masuk Islam dan menganut mazhab Isma’iliyah ketika mereka ditawarkan memegang jabatan tertentu didalam pemerintahan.

Tindakan tegas dalam bentuk pemberian hukum bunuh baru dilakukan terhadap orang yang menolak paham Isma’iliyah. Hanya satu peristiwa yang diambil tindakan tegas terhadap orang yang tidak mau mengikuti faham Isma’iliyah, yaitu ketika raja muda Zarida di Afrika yang bernama Mu’iz ibn Badis menghina dinasti Fatimiyah dengan tidak menyebut-nyebut nama khalifah Fatimiyah al-Muntasir pada saat khutbah jum’at melainkan menyebut-nyebut nama khalifah Abbasiyah. Tidak diambinya tindakan tegas dikarenakan al-Muntasir lebih tertarik pada pemberontakan Al-Bassasiri terhadap pemerintahaan Abbasiyah. Momen ini dinilai al-Muntasir sebgai kesempatan untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Asia Barat setelah Tughril menegakkan kekuasaan Abbasiyah di wilayah itu.

Dalam bidang administrasi pemerintahan tidak benyak berubah. Sistem administrasi yang dikembangkan khalifah Abbasiyah masih tyerus saja dipraktekkan. Khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan keduniaan maupun dalam urusan spritual. Ia berwenang mengangkat sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di bawahnya. Selain itu sakralisasi khalifah yang muncul di masa pemerintahan Abbasiyah masih tetap dipertahankan yang indikatornya dapat dilihat dari gelar yang disandang para khalifah Fatimiyah seperti al-Mu’iz dinillah, al-Aziz billah, al-Hakim bin Amrullah dan sebagainya.

Ada tiga hal yang dapat disoroti mengenai perkembangan dan kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Fatimiyah berkuasa yakni :

Kemajuan Administrasi Pemerintahan

pengelolaan negara yang dilakukan Dinasti Fatimiyah ialah denganmengangkat para menteri. Dinasti Fatimiyah membagi kementrian menjadi dua kelompok. Pertama kelompok militer yang terdiri dari tiga jabatan pokok
  •     Pejabat militer dan pengawal khalifah
  •     Petugas keamanan
  •     Resimen-resimen
yang kedua adalah kelompk sipil yang terdiri atas
  •     Qadhi (Hakim dan direktur percetakan uang)
  •     Ketua Dakwah yang memimpin pengajian
  •     Inspektur pasar (pengawas pasar, jalan, timbangan dan takaran)
  •     Bendaharawan negara (menangani Bait Maal
  •     Kepala urusan rumah tangga raja
  •     Petugas pembaca Al Qur'an, dan
  •     Sekretaris berbagai Departemen
Selain pejabat pusat, disetiap daerah terdapat pejabat setingkat guberbur yang diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi dikelola oleh pejabat setempat.

Penyebaran faham Syiah

Ketika Al Muiz berhasil menguasai Mesir, di kawasan ini berkembang empat madzhab Fikih : Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hanbali, sedangkan Al Muiz sendiri menganut madzhab Syiah. Dalam menyikapi hal ini Al Muiz mengangkat hakim dari kalangan Sunni dan Syiah. Akan tetapi jabatan-jabatan penting diserahkan kepada ulam Syiah sedangkan Sunni hanya menduduki jabatan rendahan. Pada tahun 973 M, semua jabatan di berbagai bidang politik, agama dan militer dipegang oleh Syiah. Oleh karena itu sebagian pejabat Fathimiyah yang Sunni beralih ke Syiah supaya jabatannya meningkat. Disisi lain al Muiz membangun toleransi agama sehingga pemeluk agama lain seperti Kristen diperlakukan dengan baik dan diantara mereka diangkat menjadi pejabat istana.

Dari mesir Dinasti Fatimiyah tumbuh semakin luas sampai ke Palestina, dan kemudian propaganda Syiah Ismailiyah semakin tersebar luas melalui sebuah gerakan agen rahasia.

Perkembangan ilmu pengetahuan
dinasti Fatimiyah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Fatimiyah membangun masjid Al Azhar yang akhirnya di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga berdirilah Universitas Al Azhar yang nantinya menjadi salah satu perguruan Islam tertua yang dibanggakan oleh ulama Sunni. Al Hakim berhasil mendirikan Daar al Hikmah, perguruan Islam yang sejajar dengan lembaga pendidikan Kordova dan Baghdad. Perpustakaan Daar al Ulum digabungkann dengan Daar al Himmah yang berisi berbagai buku ilmu pengetahuan. Beberapa ulama yang muncul pada saat itu adalah sebagai berikut:
  •     Muhammad al Tamimi (ahli Fisika dan Kedokteran)
  •     Al Kindi (ahli sejarah dan filsafat)
  •     Al nu’man (ahli hukum dan menjabat sebagai hakim)
  •     Ali bin Yunus (ahli Astronomi)
  •     Ali Al Hasan bin al Khaitami (ahli Fisika dan Optik)
Disamping itu kemajuan bangunan fisik sungguh luar biasa. Indikasi-indikasi kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun berupa masjid-masjid, universitas, rumah sakit dan penginapan megah. Jalan-jalan utama dibangun dan dilengkapi dengan lampu warna-warni, dalam bidang industri telah dicapai kemajuan besar khususnya yang berkaitan dengan militer seperti alat-alat perang, kapal dan sebagainya.

D. Puncak Kejayaan Dinasti Fatimiyah.
Sepanjang kekuasaan Abu Mansyur Nizar al-Aziz (975-996), Kerajaan Mesir Senantiasa diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Dibawah kekuasaannyalah dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khalifah selalu disebutkan dalam khutbah-khutbah jum’at disepanjang wilayah kekuasaanya yang berbentang dari Atlantik hingga laut Merah, juga di mesjid-mesjid Yaman, Mekkah, Damaskus, Bahkan di Mosul. Kalau dihitung-hitung, kekuasannya meliputi wilayah yang sangat luas.

Di bawah kekuasaannya kekhalifahan Mesir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifaan di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifaan itu telah menenggelamkan penguasa Baghdad dan ia berhasil menempatkan kekhalifaan Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Meditera Timur. Al-Aziz menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah, musuhnya yang diharapkan akan dikuasai setelah Baghdad berhasil ditaklukkan. Seperti pendahulunya ia melirik wilayah Spanyol, tetapi khalifah Kordova yang percaya diri itu ketika menerima surat yang pedas dari raja Fatimiyah memberikan balasan tegas dengan berkata, “Engkau meremehkan kami karena kau telah mendengar tentang kami. Jika kami mendengar apa yang telah dan akan kau lakukan kami akan membalasnya”.

Bisa dikatakan bahwa diantara para khalifah Fatimiyah khalifah Al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan paling murah hati. Dia hidup di kota Kairo yang mewah dan cemerlang, dikelilingi beberapa mesjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal yang baru, serta memberikan toleransi yang terbatas kepada umat Kristen, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sikap dan prilakunya ini tidak pelak lagi dipengaruhi oleh wazirnya yang beragama Kristen “Isa ibn Nasthir” dan isterinya yang berasal dari Rusia, ibu dari anak laki-laki dan pewarisnya, Al-Hakim, saudara perempuan dari dua bangsawan keluarga Melkis yang berkuasa di Iskandariyah dan Yerussalem.

Menurut Harun Nasution, dalam masa kejayaan ini tergores sejarah yang menunjukkan kegemilangan Fatimiyah bahwa salah satu golongan sekte syiah yang bernama Qaramithah (Carmatian) yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qarmat di akhir abad IX, menyerang Makkah pada tahun 951 M dan merampas Hajar Aswad dengan mencurinya selama dua puluh tahun. Hal ini disebabkan mereka meyakini bahwa hajar aswad adalah merupakan sumber takahayul. Gerakan ini menentang pemerintahan Pusat Bani Abbas, namun Hajar Aswad ini akhirnya dikembalikan oleh Bani Fathimiyah setelah didesak oleh kalifah Al Mansur pada tahun 951 M.

E. Masa Kemunduran dan Runtuhnya Daulah Fatimiyah.

Gejala-gejala yang menunjukkan kemunduran dinasti Fatimiyah telah terlihat

Dipenghujung masa pemerintahan Al-Aziz namun baru kelihatan wujudnya pada masa pemerintahan al-Muntasir yang terus berlanjut hingga berakhirnya kekuasaan adalah Fatimiyah pada masa pemerintahan al-Adid 567 H / 1171 M.

Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya daulah Fatimiyah dapat diklarifikasikan kepada faktor internal dan eksterna:

Faktor Internal
Faktor internal yang paling signifikan dalam menghantarkan kemunduran daulah Fatimiyah adalah di karenakan lemahnya kekuasaan pemerintah. Menurut Ibrahim Hasan, para khalifah tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi seperti yang ditunjukkan para pendahulu mereka ketika mengalahkan tentara Berber di Qairawan. Kehidupan para khalifah yang bermewah-mewah merupakan penyebab utama hilangnya semangat untuk melakukan ekspansi.

Selain itu, para khalifah kurang cakap dan memerintah sehingga roda pemerintahan tidak bejalan secara efektif, ketidak efektifan ini dikarenakan khalifah yang diangkat banyak yang masih berusia relatif muda sehingga kurang cakap dalm mengambil kebijakan . Tragisnya mereka ibarat boneka ditangan para wajir karena peranan wajir begitu dominan dalam mengatur pemerintahan.

Fenomena ini muncul pasca wafatnya al-Aziz, setelah al-Aziz wafat ia digantikan puternya bernama Abu Mansur al-Hakim yang pada saat pengangkatannya masih berusia 11 tahun. Kebijakan dalam pemerintahannya sangat tergantung kepada keputusan Gubernur bernama Barjawan yang meskipun pada akhirnya dihukum al-hakim karena penyalahgunaan kekuasaan.

Bukti lain ketidak cakapan khalifah adalah munculnya perlawanan orang Kristen terhadap penguasa. Perlawanan ini muncul dikarenakan orang Kristen tidak senang dengan maklumat al-Hakim yang dianggap menghilangkan hak-hak mereka sebagai warga negara. Maklumat tersebut berisikan tiga alternatif pilihan yang berat bagi orang Kristen. Masuk Islam, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung salib sebagai simbol kehancuran.

Setelah al-Hakim wafat, ia digantikan puteranya bernama Abu Hasyim Ali yang bergelar al-Zahir. Pada saat pengangkatannya al-Zahir masih berusia 16 tahun dan kebijakan pemerintahan berada ditangan bibinya bernama Siti al-Mulk, sepeninggalan bibinya al-Zahir menjadi raja boneka ditangan para wajirnya.

Pengangkatan khalifah dalam usia relatif muda masih terus berlanjut hingga masa akhir pemerintahan daulah Fatimiyah, bahkan khalifah ke tiga belas yang bernam al-Faiz dinobatkan pada saat masih balita nanun keburu meninggal dunia sebelum berusia dewasa. Sementara khalifah terakhir bernam al-Adid dinobatkan disaat berusia sembilan tahun.

Faktor lainnya diperparah oleh peristiwa alam. Wabah penyakit dan kemarau panjang sehingga sunagi Nil kering, menjadi sebab perang saudara. Setelah meninggal Abu Tamim Ma’ad al Muntashir diganti oleh anaknya al Musta’li. Akan tetapi Nizar, (anak Abu Tamim Ma’ad yang tertua) melarikan diri ke Iskandariyah dan menyatakan diri sebagai khalifah. Oleh sebab ini fatimiyah terpecah menjadi dua.

Selain itu, faktor internal lainnya sebagai penyebab kehancuran daulah Fatimiyah adalah persaingan dalam memperoleh jabatan dikalangan wajir. Pada masa al-Adid sebagai khalifah terakhir misalnya, terjadi persaingan antara Abu Sujak Syawar dan Dargam untuk merebutkan jabatan wajir yang akhirnya dimenangkan Dargam. Karena sakit hati, Syawar meminta bantuan Nur Al-Din al-Zanki untuk memulihkan kekuasannya di Mesir, jika berhasil ia berjanji untuk menyerahkan sepertiga hasil penerimaan negara kepadanya.

Tawaran ini diterima Nur al-Din, lalu ia mengutus pasukan dibawah pimpinan Syirkuh dan keponakannya Salah al-Din al-Ayyubi. Pasukan ini mampu mengalahkan Dargam sehingga Syawar kembali memangku jabatan wazir dan memenuhi janjinya kepada Nur al-Din.

Perebutan kekuasaan ditingkat wazir ini merupakan awal munculnya kekuasaan asing yang pada akhirnya mampu merebut kekuasaan dari tangan daulah Fatimiyah dan membentuk dinasti baru bernama Ayyubiyah.

Faktor Eksternal
Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab runruhnya daulah Fatimiyah adalah menguatnya kekuasaan Nur al-Din al-Zanki di Mesir. Nur al-Zanki adalah Gubernur Syiria yang masih berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Popularitas al-Zanki menonjol pada saat ia mampu mengalahkan pasukan salib atas permohonan khalifah al-Zafir yang tidak mampu mengalahkan tentara salib.

Dikarenakan rasa cemburunya kepada Syirkuh yang memiliki pengaruh kuat di istana dianggap sebagai saingan yang akan merebut kekuasaannya sebagai wazir, syawar melakukan perlawanan. Agar mampu menguat kekuasannya, Syawar meminta bantuan tentara Salabiyah dan menawarkan janji seperti yang dilakukannya terhadap Nural-Din.

Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang salib dan melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk dapat menaklukkan Mesir. Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib.Syawar sendiri dapat ditangkap dan dihukum bunuh dengan memenggal kepalanya atas perintah khalifah Fatimiyah.

Dengan kemenangan ini, maka Syirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun565 H / 1117 M. setelah Syirkuh wafat, jabatan wazir diserahkan kepada Salah al-Din Ayyubi. Selanjutnya Salah al-Din mengambil kekuasaan sebagai khalifah setelah al-Adid wafat. Dengan berkuasanya Salah al-Din, maka diumumkan bahwa kekuasaan daulah Fatimiyah berakhir. Dan membentuk dinasti Ayyubiyah serta merubah orientasinya dari paham syi’ah ke sunni.

Khalifah Fatimiyah berakhir pada tahun 567 H / 1117 M. Untuk mengantipasi perlawanan dari kalangan Fatimiyah, Salah al-Din membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer. Yang kini bangunan benteng tersebut masih berdiri kokoh di kawasan pusat Mishral qadim (Mesir lama) yang terletak tidak jauh dari Universitas dan juga dekat dengan perumahan Mahasiswa Asia di Qatamiyah.

F. Penutup.

Daulah Fatimiyah merupakan salah satu imperium besar sepanjang sejarah Islam. Pada awalnya, daulah ini hanya berupa dinasti kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan daulah Abbasiyah. Mereka mampu memerintah lebih dua abad sebelum ditaklukkan oleh dinasti Ayyubiyah dibawah kepemimpinan Salah al-Din al-Ayyubi.

Dalam masa pemerintahannya, Dinasti Fatimiyah sangat konsern dengan pengembangan paham Syi’ah Isma’iliyah. Untuk kesuksesannya, mereka mewajibkan seluruh aparat di jajaran pemerintahan dan warga masyarakat untuk menganut paham tersebut. Upaya ini cukup berhasil yang ditandai dengan banyaknya masyarakat yang bersedia menerimanya meskipun berasal dari non muslim.

Kemunduran daulah Fatimiyah dikarenakan tidak efektifnya kekuasaan pemerintah dikarenakan pra khalifah hanya sebagai raja boneka sebab roda pemerintah didominasi oleh kebijakan para wazir sementara khalifah hanya hidup menikmati kekuasaannya didalam istana yang megah.

Sumber :http://makalahmajannaii.blogspot.com/
 
 
Copyright © 2013 MANDAR LUYO - All Rights Reserved
Status Panel Admin
Jam Sekarang
Tanggal
Salam Sapa :
Status Admin :
User :
Free Backlinks