Tampilkan postingan dengan label Ceritra Rakyat-Suku Mandar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritra Rakyat-Suku Mandar. Tampilkan semua postingan

Cerita Rakyat Mandar - Tomendada-dada Bulawang (Manusia Berdada Emas)

TOMENDADA - DADA BULAWANG (Manusia Berdada Emas)

 

  
     Seorang raja, sudah sekian lama merindukan kehadiran anak darah dagingnya yang dilahirkan sendiri dari Sang permaisurinya. Sang Permaisuri tidak juga hamil . Berbagai macam cara telah diupayakannnya agar keinginannya terpenuhi. Suatu malam diperintahkannya kepada sejumlah pengawal istana pergi menguping dalam wilayah kerajaan mendengar siapa tahu ada gadis yang berkata, "Andaikata Aku yang diperisteri raja, maka aku akan segera hamil".

    Apa yang didambakan sungguh terjadi. Salah seorang dari pengawal raja mendengar dari bawah kolong sebuah rumah reot, kata-kata yang diucapkan seorang gadis miskin "Andaikata aku yang diperisteri raja, maka aku akan segera hamil, dan akan melahirkan tiga orang anak, seorang perempuan dan dua orang laki-laki" . Maka pengawal itu segera malaporkan kepada baginda raja. Wajah Sang Permaisuri yang turut mendengarkan sedikit berubah. Si miskin segera dipanggil ke istana raja, dan mengiyakan apa yang dilaporkan petugas kerajaan. Alhasil Sang Baginda Rajapun mengawini Si miskin. Ketika mengidam, selalu saja ia menginginkan daging rusa. Menjelang hari melahirkan Ia meminta lagi daging rusa untuk disantap. Karena tak ada petugas kerajaan yang berhasil menangkap rusa, maka sang raja sendiri yang pergi ke hutan berburu rusa.

    Belum lagi sang raja kembali dari perburuan, Si Miskin sudah melahirkan. Yang dikatakannya sungguh terbukti, tiga orang anak yang dilahirkannya semua dadanya berkilat-kilat seperti emas. Namun malang nasib Si Miskin. Menurut Sang  yang hendak melahirkan, matanya harus ditutup dengan pattis(lilin), dan telinga disumbat, Si Miskin menurut saja apa yang dikatakan Sang Permaisuri raja yang telah bersekongkol dengan dukun.

    Begitu Si Miskin Selesai melahirkan, Si MIskin dibawa ke kolong istana tepat dibawah tempat cuci kaki dan buang air kecil, kemudian diikat. Secara kebetulan bersamaan dengannya, anjing rajapun melahirkan juga tiga ekor anak, satu betina dan dua ekor jantan. Anak-anak anjing itu lalu diletakkan diatas baki kemudian dibawa ke istana raja, sedangkan tiga anak raja yang dilahirkan Si Miskin dibawa ke orang tua petani yang hidup sendiri jauh sekali dari istana raja didalam hutan.

    Ketiga anak raja kemudian tumbuh menjadi remaja dibawah asuhan kasih sayang Sang Inang Pengasuh. Mereka tidak tahu kalau mereka adalah anak-anak raja, dan tidak tahu pula kalau ibunda mereka sedang menderita diikat di kolong istana yang becek dan bau. Suatu ketika putra raja Si Adik memanjat pohon pinang yang tinggi melihat matahari yang sedang perlahan terbenam, pengasuh mereka yang dipanggil "Nenek" mengatakan, "Disanalah tempat semua pakaian laki-laki seperti sarung, songkok dan keris." Si Adik bersungguh-sungguh hendak pergi kesana namun Si nenek melarang keras, karena tak satupun orang pernah selamat kembali dari tempat itu. Namun kekerasan hati Si Adik untuk tetap pergi ketempat matahari terbenam yang sangat berbahaya itu. Sebelum berangkat ke arah matahri terbenam itu dia berkata kepada kedua kakanya, "Setelah saya pergi dan bunga tulasi yang aku tanam itu layu itu pertanda bahwa saya sakit, kalau daunnya rontok dan mati, pertanda saya sudah meninggal dunia". Singakt cerita dia pergi dan selamat membawa pulang tiga perangkat pakaian laki-laki pakaian seorang raja, songkok emas, baju emas serta keris. Kepada penjaga di temapt matahari terbenam itu dia meminta pakaian untuk kakanya, namun tak ada pakaina perempuan ada disana.

    Tiba giliran Si Kakak laki-laki memanjat pohon pinang yang menjulang ke langit itu. Setelah dia turun, Si Nenek berkata, "Itulah tempat pakaian perempuan". Si Kakak berkata saya ingin kesana mengambilkan pakaian untuk adikku. Walaupun Si Nenek bersikeras melarang Si Kakak untuk berangkat Si Kakak pergi juga. Sebelum berangkat ia pun menanam bunga tulasi dan berpesan seperti Si Adik beberapa waktu lalu. Sebelum sampai ke tempat terbitnya matahari, dia harus melewati suatu jalan yang amat sangat berbahaya, di jalan itu ada satu batu selalu menjepit siapa saja yang lewat hingga mati, dijaga oleh seekor burung Tekukur dan seeekor burung Nuri. Dia diperingati oleh kedua burung itu agar tidak melewati jalan itu, tetapi ia tetap melewatinya karena keinginannya untuk mengambilkan pakaian untuk adik perempuannya amatlah besar. Akhirnya Si Kakak mati karena tek mendengar nasihat dari kedua ekor burung itu. Di tempat itu bertumpuk-tumpuk tulang-belulang manusia yang telah menjadi korban jepitan batu itu.

    Bunga Tulasi yang ditanam Si Kakak mengering, rontok dan mati. Kedua adik dan neneknya amat sangat sedih. kedua adiknya bertekad pergi mencari Si Kakak. Setibanya di tempat mati terjepit batu, Si adik yang langsung mendekat langsung diperingati dengan keras oleh kedua ekor burung penjaga namun dia tak perduli peringatan itu dan mati pula terjepit batu angker itu. Si Adik perempuan tak gentar dengan cepat dia melompat, melewati Si Batu Pembunuh. Burung Nuri menjelaskan menurut yang empunya penguasa tempat itu, siapa saja yang berhasil melewati Si Batu Pembunuh itu maka dia akan bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Caranya ambil semangkuk air laluujung rambut dibasahi dipercikkan kepad si mayat atau tulang-belulangnya. Alhasil Si Kakak, Si Adik dan tumpukan tulang-belulang itu semunya hidup kembali. Akhirnya Si Adik Perempuan pergi mengambil pakaian kebesaran untuk perempuan. Setelah semuanya rampung, mereka akhirnya pulang kembali ke rumah Sang Nenek berserta burung Tekukur dan Nuri dibawa serta.

    Mereka lalu mendirikan perkampungan. Si Kakak yang dadanya bercahaya bagaikan kilauan emas akhirnya diangkat menjadi raja di wilayah itu.. Pada suatu hari, dalam suatu araena sabung ayam anatar Si Kakak yang sudah bergelar To mendada-dada Bulawang dengan bapaknya yang memerintah di kerajaan tetangganya, Si Bapak akhirnya kalah terus melawan Sang anak namun ia tak mngetahui jika yang mengalahkannya adalah putranya sendiri yang telah dibuang oleh permaisurinya sendiri. Anehnya , To mendada-dada Bulawang sang pemenang mutlak tidak meminta bayaran emas atau barang-barang lain atas kemenangannya. Sesuai pesan neneknya, dia hanya ingin dibayar dengan Ibu Tua yang yang sudah bertahun-tahun diikat dibawah kolong istana yang badannya sudah berlumut. Setelah pembebasan itu dilaksanakan sang raja yang tidak lain adalah bapaknya kontan keempat orang itu bertangis-tangisan melepas rindu. Sang Ibu Tua dimandikan dan dibersihkan di sungai. Rahasia yang terpendam selama ini, apa yang telah diperbuat Sang Permaisuri kepada Si Miskin pada waktu melahirkan ketiga anaknya, dibongkar habis oleh burung Tekukur dan burung Nuri. Burung Nuri berkisah dihadapan raja, permaisuri dan semua penghuni istana, di iyakan oleh burung Tekukur, semua yang telah terjadi mulai dari Raja mengawini Si Miskin , daging rusa yang selalu ingin disantap oleh Si Miskin pada waktu mengidam, Raja pergi berburu, tiga anak raja yang dada mereka berkilau bagaikan emas yamng ditukar dengan tiga ekor anak anjing, Si Miskin diikat dicomberan dibawah kolong istana dan sterusnya. Seusai kedua ekor burung ajaib itu berkisah maka berpeluk-pelukanlah raja dengan dengan ketiga orang anaknya yang sudah besar-besar itu, malahan yang tua sudah menjadi raja di wilayahnya sendiri. Sang Permaisuri lalu ditangkap dan diikat seperti yang dilakunnya terhadap Si Miskin yang menderita bertahun-yahun lamanya di bawah kolong istana.

Cerita Rakyat Mandar-Kisah Panglima Lidah Hitam.

Alkisah diceritakan , pada zaman dahulu kala di salah satu puncak bukit di daerah Napo ada seorang raja yang bernama Balinapa. Seperti kata pepatah “kalau sudah duduk, lupa berdiri”, Raja Balinapa pun demikian juga. Ia sudah berkuasa sekitar tiga puluh tahun, namun tidak mau melepaskan tahtanya. Jangankan ke orang lain, pada anaknya sendiri pun ia tak mau mewariskan tampuk pimpinan kerajaannya.

Agar tetap bugar Raja Balinapa selalu berusaha keras menjaga kesehatannya, baik dengan cara berolahraga secara teratur, latihan perang, maupun pergi berburu di hutan. Selain itu, ia juga tidak lupa untuk selalu minum jamu atau obat-obatan ramuan tabib kerajaan. Semuanya itu dia lakukan agar ia dapat berumur panjang dan tetap menjadi raja.

Sedangkan untuk urusan keturunan, seperti halnya Firaun, ia hanya mau mempunyai anak-anak perempuan. Tiap permaisurinya melahirkan anak laki-laki, Raja Balinapa langsung membunuhnya. Hal ini dimaksudkan agar si anak laki-laki tidak sempat merebut kekuasaannya.

Kelakuan Raja Balinapa tersebut tentu saja membuat hati permaisuri selalu cemas. Tiap kali hamil, sang permaisuri selalu berharap agar bayinya berjenis kelamin perempuan. Ia merasa tidak tega apabila bayinya harus mati sia-sia hanya karena terlahir sebagai laki-laki.

Suatu hari, saat sang permaisuri sedang hamil tua, secara kebetulan pula Raja Balinapa ingin berburu ke daerah Mosso. Karena takut akan melahirkan bayi laki-laki, maka sang permaisuri harus menyertainya dalam perburuan.

Sebelum memasuki hutan di daerah Mosso, Raja Balinapa berpesan pada panglima perangnya bernama Puang Mosso yang menjaga Permaisuri di tepi hutan. Isi pesannya adalah apabila besok atau lusa ia belum kembali sementara permaisuri melahirkan anak laki-laki, maka anak itu harus segera di bunuh!

“Segala perintah Baginda pasti akan hamba laksanakan,” jawab Puang Mosso.

Selain kepada Puang Mosso, Raja Balinapa juga menugaskan seekor anjing terlatih untuk mengawasi Permaisuri. Ia berkeyakinan bahwa manusia bisa saja dapat berubah pikiran, sementara binatang (anjing) akan selalu setia dan patuh terhadap tuannya.

Kekhawatiran Raja Balinapa ternyata terbukti. Sehari setelah ia berangkat berburu, Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun karena memiliki suatu keanehan, yaitu lidahnya berbulu dan berwarna hitam, maka Puang Mosso yang ditugaskan untuk membunuhnya menjadi ragu dan bingung. Ia merasa tidak tega untuk segera mengakhiri hidup sang bayi.

Sementara sang anjing pengawal yang juga mengetahui bahwa Permaisuri telah melahirkan segera mendekat dan menjilati sarung bekas persalinan yang masih meninggalkan darah. Selanjutnya, anjing tersebut langsung berlari memasuki hutan untuk menemui tuannya, Raja Balinapa. Ia akan memperlihatkan darah bekas persalinan pada Raja Balinapa agar sang raja mengetahui bahwa Permaisuri telah melahirkan.

Di lain pihak, Puang Mosso yang merasa kasihan melihat keadaan bayi laki-laki itu segera mencari akal untuk mengelabuhi Raja Balinapa. Ia lalu menyerahkan bayi tersebut pada seseorang yang secara kebetulan akan berlayar ke daerah Salemo. Setelah itu, Puang Mosso menyembelih seekor kambing dan membuatkan nisan untuk kuburan. Pikirnya, raja tentu akan percaya melihat darah kambing yang tercecer di tanah dan kuburan yang dibuatnya.

Ketika Raja Balinapa kembali dari berburu, ia langsung bertanya pada Puang Mosso, “Apakah Permaisuri sudah melahirkan? Bayinya laki-laki atau perempuan?”

“Permaisuri telah melahirkan bayi laki-laki dan hamba langsung menyembelihnya, sebagaimana pesan Baginda. Marilah hamba antarkan Baginda untuk melihat kuburan bayi itu,” kata Puang Mosso dengan tenang.

Benar saja, setelah melihat kuburan dan juga darah yang berceceran di sekelilingnya, Sang Raja langsung percaya. Raja sama sekali tidak mengetahui bahwa bayinya telah dititipkan pada orang di Pulau Salemo.

Singkat cerita, sang bayi yang diasuh oleh orang Salemo itu semakin bertambah besar dan menjadi seorang remaja. Dia senang sekali memanjat. Suatu hari, ketika dia sedang memanjat pohon, tiba-tiba datanglah seekor burung rajawali raksasa yang mencengkeram pundaknya lalu membawanya terbang ke daerah Gowa. Sesampainya di sana, sang burung menjatuhkan anak itu di tengah persawahan. Para petani yang melihat kejadian tersebut segera menolong dan membawanya kepada Raja Gowa.

Setelah mengamati beberapa saat, terutama pada wujud lidah sang anak yang berbulu dan berwarna hitam, Sang Raja pun berkata pada penasihat kerajaan, “Anak ini bukanlan anak sebarangan. Oleh karena itu, peliharalah hingga dewasa dan ajarilah segala macam ilmu keperwiraan agar ia menjadi orang yang gagah, kuat dan juga sakti!”

Saat sang anak telah tumbuh dewasa dan telah menjadi seorang yang kuat, gagah, dan juga sakti, Raja Gowa kemudian mengangkatnya menjadi panglima. Dan, karena ia selalu menang dalam setiap pertempuran, maka ia pun diberi gelar Panglima I Manyambungi. Ia menjadi panglima yang ditakuti di seantero Kerajaan Gowa.

Di tempat lain, yaitu di bukit Napo, Raja Balinapa yang sebetulnya ayahanda I Manyambungi diserang oleh Raja Lego yang sakti hingga tewas. Raja Lego adalah raja yang teramat kejam. Ia suka membunuh dan mengganggu rakyat yang berada di luar negerinya. Untuk mengatasi hal ini, para raja di sekitar Kerajaan Lego yang mulai gelisah segera mengadakan pertemuan. Dan, dalam pertemuan tersebut mereka bersepakat meminta pertolongan dari Kerajaan Gowa yang dikenal memiliki seorang panglima perang yang gagah perkasa dan sakti mandraguna.

Kemudian, diutuslah salah seorang dari mereka untuk menemui Raja Gowa. Namun diluar perkiraan, Raja Gowa ternyata menolak permintaan tersebut. Ia takut apabila I Mayambungi pergi ke Balinapa, maka Kerajaan Gowa bisa saja diserang oleh kerajaan lain yang menjadi pesaingnya. Sementara itu, I Manyambungi yang dari tadi duduk di belakang Raja Gowa hanya diam saja.

Namun, saat utusan tersebut keluar dari istana Kerajaan Gowa dengan langkah gotai, tiba-tiba I Manyambungi mendatanginya dan berkata, “Saya akan turut ke Balinapa untuk membantu kalian dengan syarat yang datang menjemput saya adalah Puang Mosso. Ia harus datang secara sembunyi-sembunyi dan jangan sampai Raja Gowa mengetahuinya.”

Saat utusan yang bernama Puang Napo tiba di Balinapa, ia langsung menuju ka rumah Puang Mosso untuk menyampaikan amanat dari I Manyambungi. Ketika mendengar syarat yang diajukan I Manyambungi, Puang Mosso segera tersentak kaget, heran dan sekaligus cemas. Mengapa harus dia yang menjemput? Apa hubungan panglima terkenal Kerajaan Gowa itu dengannya?

Agar rasa penasarannya segera terjawab, maka Puang Mosso pun bergegas berangkat menuju Gowa. Tiba di Gowa dengan dada yang berdebar-bedar dia langsung menghadap I Manyambungi. I Manyambungi pun berkata, “Saya akan berangkat ke Balinapa bersamamu. Hal ini bukan karena para raja di sana yang meminta, tetapi karena aku telah berhutang budi kepadamu Puang Mosso. Engkau telah menyelamatakan nyawaku!”

Tanpa berkata apa-apa Puang Mosso segera mempersilahkan I Manyambungi mengikutinya berlayar ke Balinapa. Dalam perjalanan pulang itu dalam hati Puang Mosso bertanya-tanya, “Kenapa ia menganggapku telah menyelamatkan nyawanya? Kapankah aku pernah bertemu dengannya? Mungkinkah seorang panglima perang yang gagah perkasa dan sakti mandraguna ini pernah minta pertolonganku?”

Sebelum pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba Puang Mosso melihat I Manyambungi menguap karena mengantuk. Dari situ Puang Mosso melihat dengan jelas lidah sang panglima yang berwarna hitam dan berbulu. Spontan ia pun berteriak, “Engkau adalah putera Raja Balinapa.”

Setelah perahu merapat di Balinapa, mereka langsung menurunkan semua peralatan perang dan membawanya menuju Bukit Napo. Perjalanan dari Gowa menuju Napo nantinya membuat I Manyambungi diberi julukan lagi, yaitu “To Dilaling” yang berarti “orang yang hijrah”.

Sesampainya mereka di istana Raja Lego, I Manyambungi langsung menantangnya untuk berperang. Dan, dalam pertempuran yang sangat dahsyat dan lama itu akhirnya Raja Lego dapat dikalahkan. Raja lalim itu tewas di ujung badik I Manyambungi. Akhirnya, I Manyambungi pun didaulat oleh Rakyat Balinapa untuk menjadi raja menggantikan ayahnya. Pada masa pemerintahan I Manyambungi negeri ini menjadi aman, makmur dan sentosa.

Cerita Rakyat Mandar-I Boe annaq Anaqna (Si Babi dan Anaknya)

Tersebutlah satu kisah di masa silam, pada masa binatang masih bisa berbicara layaknya manusia.

Adalah Sang Babi hidup bersama dua ekor anaknya. Ketika ada orang yang memanggul tombak lewat diikuti seekor anjing, bernyanyi Sang Anak yang ditujukan kepada ibunya. Syair lagu yang terjemahan indonesianya : Oh, Ibu/Janganlah hendaknya/Ibu banyak keluar/Tampaknya orang orang-orang dunia/Memanggil-manggil di jalan itu/dengan memanggul tombak besi. Sang Ibu menjawabnya dengan nyanyian pula : Wahai, anakku/Tidaklah dengan sengaja ku pergi/Saya hanya lewat saja/Meniti pematang/Saya diteriaki orang bumi, Nak/Katanya lewat lagi Si Rakus/Yang punggungnya bagai palungan/Yang bibirnya bagai kue cucur. 


Sang anak menjawab lagi dengan nyanyian : Ibu, Ibu/Silahkan Ibu pergi/Bila kasih sayangmu pada adikku/Sudah tak ada/Lihatlah adikku/Belumlah dia tahu/Membalikkan pinggangnya, Bu. Sang Ibu menjawab dengan nyanyian : Anakku, eee, anakku/Besok lusa kalau Ibu sudah pergi/Dan adikmu menangis/Gantunglah ke langit-langit/Daun pandan, Nak/Pasang juga kain tirai/Yang tidak berbulu-bulu. Sang Ibu betul-betul pergi, tiga malam sudah.

Kedua anaknya tinggal di gua-gubuk. Maka bernyanyilah Si Kakak demikian : Adikku, eee, adikku/Marilah kita pergi mencari Ibu/Sudah tiga malam kepergiannya/Ibu telah melupakan kita. Tiba-tiba melintas puteang (burung Punai) sambil mengeluarkan bunyi.

Mendengar bunyi puteang tersebut, Sang Kakak berkata kepada adiknya : mungkin pertanda buruk bagi Ibu, wahai Adik. Berangkatlah keduanya berjalan menyusuri pagar rumah penduduk mencari ibu mereka.

Mereka melihat Sang Ibu tergeletak, Sang kakak bernyanyi lagi : Eee, Adikku/Disanalah sudah Ibu kita/Berbantal batang pisang/Berkalung benang merah/Menyandang tombak besi/Adikku, datanglah ketidakpedulian Ibu kita. Ibu mereka telah mati.

Kedua anak babi itu pulang kembali ke gua-gubuk membawa kesedihan hati.

Balunnus-Annaq-Towalu (Duda dan Janda)


Dahulu bintang balunnus dan bintang towalu dalam kisah adalah pasangan suami isteri. Adalah seorang petani yang yang mempunyai kelainan alias cacat. Jari-jari pada tangannya berjumlah Tujuh buah lain dari manusia pada umumnya yang sempurna berjumlah 5 buah.
Sejak dari melaksanakan perkawinan hingga menjalani rumah tangga, kelainan / cacatnya itu tidak pernah terlihat oleh isterinya karena ia amat merahasiakan dan berbuat sedemikian rupa agar isterinya tak mengetahui bahwa sesungguhnya ia tidak sempurna layaknya manusia lainnya yang sempurna jari-jari tangannya.


Sungguh-sungguh ia tidak ingin keadaan jari-jari tangnnya diketahui oleh isterinya. Agar rahasinya tetap terjaga, ia menentukan kapan waktunya isterinya datang mengantarkan  makanan kepadanya selagi ia bekerja di kebunnya. Waktu yang telah ia tentukan tidak boleh dilanggar oleh sang isteri. Tapi lama- kelamaan sang isteri amat sangat penasaran juga kepada sang suami yang begitu ketat dan disiplin dalam setiap jadwalnya itu hingga membuat sang isteri ingin sekali mengetahui ada rahasia apa dibalik semua ini  hingga sang suami berbuat demikian, barangkali ada yang tersembunyi didalam semua ini.


Akhirnya karena tak kuasa menahan rasa curiga yang berkepanjangan terhadap sang suami, sang isteri mencoba mengintipnya diluar waktu yang ditentukan namun tanpa ia sadari sang suami mengetahui  kelakuan isterinya yang telah melanggar ketentuan yang ia sepakali, ia marah besar.  Kontan  sang suami  menceraikan isterinya dan berkata engkau telah melanggar perjanjian yang telah kita sepakati  dan kamu akan kembali menjadi sendirian lagi, kamu menjadi towalu (janda) saya pun demikian akan menjadi balunnus (duda), kamu di barat dan saya di timur. Keduanya berubah menjadi bintang.


Sejak saat itu apabila balunnus muncul di timur maka towalu akan terbenam di barat. Peristiwa perceraian suami isteri baklunnus-towalu itu menimbulkan kepercayaan di kalangan nelayan  Mandar bahwa bintang balunnus dan towalu itu sisapa (saling anti).

Cerita Rakyat Mandar - I Bakka tondong Epa


I Bakka tondong Epa

Tokoh legendaris cerita rakyat di Pamboang. Hidup di masa dahulu kala I Bakka Tondong Epa adalah nama gelaran. Ia pemberani, kebal tak dimakan senjata apa pun. Bersaudara dengan I Kaiyyang Pamorroq (Si Keras/Besar Dengkur) yang tewas membela kerajaan Paung. Ketika membabat habis musuh yang menyerang Paung, sekujur tubuhnya lebih-lebih tangannya yang menggenggam Kondobulo (Sejenis parang) mengental menggetah darah. Dibasuhnya disebuah sungai, sungai pun memerah darah. Sejak itu sungai tersebut diberi nama sungai Putteraq (berdarah).

Kuburan Ibakka Tondong Epa berada di Ratte, Desa Adolang, kec. Pamboang, Kab. Majene dianggap keramat. Dikenal dengan nama Kuqbur saqe(Kubur Mengembang).

Mengungkap Arti Bura’ Sendana

Buraq Sendana (bunga/bakal buah sendana) mengandung dua pengertian.

1.  Lagu klasik Tradisional Mandar.
Pencipta syair dan lagunya tidak dikenal. Syairnya sebagai berikut :

Buraq Sendana
Tililio naung di Kaeli
Poleo naung koqbi-koqbiangaq kakaq-u
Dami nadiong masae mattoroq labuang
Jappoqmi dini
Pasangang passinding dadaq-u
Jappoq paqdisang
Tuo tulanna kawu-kawu
Na jappo-jappoq
Uai lolong di mataq-u



 
Konon lagu ini adalah lagu rindu sansai permaisuri seorang raja dari Mandar yang suaminya “tersangkut “di Kaeli, Sulawesi Tengah. Versi lain mengatakan nyanyian sedih ini dilagukan oleh Indara putri Puang Dikacci. (Puang Dikacci, adik kandung raja Sendana) lantaran rindu kepada pemuda Lamba Tokaeli yang sang Putri sama sekali tidak tahu bahwa Ilamba Tokaeli yang dicintainya adalah adiknya sendiri lain ibu (putri raja Kaeli).

Kisah yang mengharukan ini bermula ketika Puang Dikacci pergi jauh ke Kaeli meninggalkan isterinya yang membencinya karena isteri tercinta ternyata mangidang tau (ngidam orang) isteri membenci melihat suaminya, dan selalu ingin menggigitnya. Pergilah Puang Dikacci meninggalkan Sendana ke utara, dan tiba di negeri Kaeli, Sulawesi Tengah. Beberapa lama kemudian Puang Dikacci kawin dengan putri Raja Kaeli. Dari perkawinan ini lahirlah seorang Putra yang bernama Ilamba. Sebelum Puang Dikacci berangkat ke negeri Pasir, Kerajaan Kutai di Kalimantan berperang melawan musuh membantu pamannya yang menjadi Raja di Kutai waktu itu, ia berpesan kepada isterinya supaya suatu waktu anaknya , Ilamba pergi ke daerah Mandar mencari kerabat bapaknya di Kerajaan Sendana.

Duah puluh tahun kemudian, Ilamba pergi ke daerah Mandar meninggalkan negeri Kaeli tanah kelahirannya untuk mencari kerabat bapaknya. Tiba di Sendana dan menumpang sekalian dijadikan murid yang disayangi oleh Kadi Sendana. Ilamba adalah pemuda yang tampan dan baik budi pula. Semua orang menyayanginya. Dicintai dan mencintai Indara, kemanakan Raja Sendana.
 Tragedipun terjadi ketika Ilamba mengetahui bahwa Indara ternyata adalah kakaknya sendiri. Indara, putri Puang Dikacci yang masih dalam kandungan ketika Puang Dikacci pergi ke Kaeli. Hati pilu tanpa diketahui oleh siapa pun, Ilamba kembali ke negeri ibunya kenegeri Kaeli. Sepeninggalnya, Indara jatuh sakit. Sakit lantaran lantaran cinta dan rindu kepada Ilamba Tokaeli. Dia tak tahu Ilamba adalah adiknya sendiri. Setelah dia mengetahui, hatinya amatlah sedih. Berjanji hanya mau kawin dengan orang yang direstui oleh Ilamba Tokaeli adiknya.

Memohon kepada pamannya, Raja Sendana kiranya Ilamba dipanggil kembali ke Sendana. Dalam penantian, menanti adiknya yang pernah sangat dicintainya, konon Indara menciptakan dan menyanyikan lagu Buraq Sendana Tililio Naung di Kaeli (Bunga Cendana Tetiuplah ke Kaeli).

Tentang lagu tersebut A. Muis Mandra mengatakan bahwa lagu Buraq Sendana yang asli hanya sesekali terdengar dinyanyikan oleh orang-orang tua di kampung-kampung pedalaman Mandar.
Lagu asli Buraq Sendana adalah perpaduan Lamentoso dengan Lento yang diungkapkan dengan irama sangat lembut, perlahan-lahan, dan sangat manis. Irama yang sering terdengar sekarang sudah jauh meninggalkan irama aslinya. Irama lagu Buraq Sendana sekarang sudah berirama gumarang/pop.

2.  Judul kumpulan Puisi Mandar (11) oleh A. M. Mandra, naskah, sudah beredar dikalangan terbatas, 1984. Judul-judulnya : To Mandar, O Diadaq O Dibiasa, Pappasang, Pemanna, Eh Inggannana Narakkaq Laqlang, Ruppuq Lopi, Lolitang, Seqiya Daqa, I Tassondoq, Nasanga Taquita.
 
 
Copyright © 2013 MANDAR LUYO - All Rights Reserved
Status Panel Admin
Jam Sekarang
Tanggal
Salam Sapa :
Status Admin :
User :
Free Backlinks