Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Sifat-sifat Nabi Muhammad SAW


SIFAT - SIFAT NABI MUHAMMAD SAW
Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata:
Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.

Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih

Kecintaan Para Sahabat Kepada Rassulullah SAW

KECINTAAN PARA SAHABAT KEPADA RASULULLAH SAW

Kecintaan Seorang Sahabat ra.
Dari 'Aisyah r.a katanya, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW seraya berkata, "Wahai Rasulullah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri dan engkau lebih aku cintai daripada orang tuaku. Jika aku berada di rumah, aku senantiasa merindukan dan tak sabar untuk secepatnya dapat bertemu dan melihatmu. dan apabila aku teringat kematianku dan kematianmu, tetapi aku tahu engkau kelak dimasukan ke dalam surga, tentunya engkau akan ditempatkan di surga yang paling tinggi beserta para Nabi. Sedangkan jika aku dimasukkan ke dalam surga, aku takut jika kelak tidak dapat melihatmu lagi". Nabi SAW tidak menjawab ucapan orang tersebut sampai Jibril menurunkan firman Allah,

Artinya: Dan barang siapa mencintai Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan merekalah teman yang sebaik-baiknva. (An Nisaa': 69)

(Thabrani, Abu Nuaim. Al-Hilyah. 4/240)

Dari Ibnu Abbas ra. dikatakan ada seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata. "Wahai Rasulullah aku sangat mencintaimu dan selalu mengingatimu. tapi vang aku takutkan jika kelak engkau dimasukkan ke dalam surga di tingkat yang paling tinggi sedangkan aku dimasukkan di tempat yang tidak sama denganmu, maka aku takut tidak dapat lagi melihatinu kelak di akhirat". Rasulullah SAW tidak menjawab ucapan lelaki itu sampai Allah menurunkan fimian-Nya. Wa man yutiillah war Raszila fa ulaika ma'al ladzina...(An Nisaa': 69). Setelah itu Rasulullah SAW membacakan ayat tersebut di hadapan lelaki itu dan mendoakanya."
(Thabrani, Al-Haitsami. 4/7)

Kecintaan Sa'ad bin Mu'adz ra.
Dari Abdullah bin Abu Bakar ra., '.Sesungguhnya Sa'ad bin Muadz ra, berkata kepada Nabi SAW . "Ya Rasulullah. maukah engkau kami buatkan sebuah benteng dan kami siapkan di sisimu sebuah kendaraan. Kemudian kami maju berhadapan dengan musuh, jika kami diberi kemenangan oleh Allah maka itulah yang kami harapkan. tapi jika terjadi sebaliknya, maka engkau dapat segera pergi dengan kendaraan ini. menemui pasukan kita yang masih ada di belakang kita. sebab di belakang kami tertinggal sejuklah kaum yang sangat mencintaimu. Sungguh andaikata mereka tahu bahwa engkau akan berperang pasti mereka akan ikut semuanya. Akan tetapi di karenakan mereka tidak tahu bahwa engkau akan menemui pasukan musuh seperti ini. maka tidaklah heran jika sebagian orang tidak ikut bersama engkau."Maka Rasullah SAW menyatakan terimakasihnya dan mendoakan kebaikan baginva, kemudian mereka membangunkan sebuah benteng bagi Nabi




Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam Sejarah

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.

Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam

Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)

Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.

Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:

    Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75)

    Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:??? ??????? ?????????????? ????? ????? ??????????? ??????????????? ?? ????? ?????? ???????????? ?????? ???? ????????? ????? ???????????? ?? ???????????? ???? ?? ?????? ???? ?????? ??????????????? ????????????????? ???? ???? ????????? ?? ??????? ?????? ???????????? “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99)

    Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.

    Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119)

    Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)

Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.

Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:

    Pengusiran Bani Qainuqa’
    Pengusiran bani Al Nadhir
    Perang Bani Quraidzoh
    Penaklukan kota Khaibar

Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.

Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:

    Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
    Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
    Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.

Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:

    Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.

    Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.

    Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.

Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:

    Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
    Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
    Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.

Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:

    Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
    Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
    Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
    Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
    Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.

Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.

Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.


Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.




Kisah Nyata Mahasiswa Meninggal Karena Menghina Islam

Kisah Nyata Mahasiswa Meninggal Karena Menghina Islam


Kisah ini terjadi di Universitas ‘Ain Syams, Fakultas Pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan dieksposs oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang orang disana.
 Disebuah halaman salah satu fakultas di negara Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang; “Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!”Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut.Menit demi menitpun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit ke enam puluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut.Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya; “Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa aku?”Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing.Diantara mereka ada yang beranggapan, “Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu.”Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil ‘aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan.Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke ‘wastapel’ di dapur, dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue.Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya.Mengenai hal ini, Dr. ’Abdur Razzaq Nawfal rahimahullah berkata, “Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai”
 Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati.


Sumber : http:// zuraidbima.blogspot. com/


SIFAT RASULULLAH SAW: SIDDIQ, AMANAH, TABLIGH & FATHONAH


Nabi Muhammad SAW merupakan seorang yang amat sopan dalam bertutur kata, jujur, tidak pernah berdusta serta luhur budi pekertinya. Hal inilah yang membuat kita mengagumi Baginda. Sehingga ke hari ini, Baginda SAW dikagumi ramai orang di seluruh pelosok dunia kerana keperibadian Baginda yang amat luar biasa. Michael H.Hart di dalam bukunya ‘The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History’ meletakkan Rasulullah SAW sebagai manusia paling berpengaruh di dunia di kalangan 100 orang manusia paling berpengaruh di dalam sejarah dunia.

Beliau mempunyai perilaku dan akhlak yang sangat mulia terhadap sesama manusia, khususnya terhadap umatnya tanpa membezakan atau memandang seseorang dari status sosial, warna kulit, suku bangsa atau golongan. Beliau selalu berbuat baik kepada siapa saja bahkan kepada orang jahat atau orang yang tidak baik kepadanya. Oleh kerana itu tidak menghairankan kerana di dalam Al-Quran, beliau disebut sebagai manusia yang memiliki akhlak yang paling agung.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu iaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak dan sifat-sifat yang sangat mulia. Oleh kerana itu hendaklah kita mempelajari sifat-sifat Baginda iaitu Siddiq, Amanah Tabligh dan Fathonah.

1. SIDDIQ
Siddiq ertinya benar. Benar adalah suatu sifat yang mulia yang menghiasi akhlak seseorang yang beriman kepada Allah dan kepada perkara-perkara yang ghaib. Ia merupakan sifat pertama yang wajib dimiliki para Nabi dan Rasul yang dikirim Tuhan ke alam dunia ini bagi membawa wahyu dan agamanya.
Pada diri Rasulullah SAW, bukan hanya perkataannya yang benar, malah perbuatannya juga benar, yakni sejalan dengan ucapannya. Jadi mustahil bagi Rasulullah SAW itu bersifat pembohong, penipu dan sebagainya.
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS An-Najm: 4~5)

2.AMANAH
Amanah ertinya benar-benar boleh dipercayai. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, nescaya orang percaya bahawa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh kerana itulah penduduk Makkah member gelaran kepada Nabi Muhammad SAW dengan gelaran ‘Al-Amin’ yang bermaksud ‘terpercaya’, jauh sebelum beliau diangkat jadi seorang Rasul. Apa pun yang beliau ucapkan, dipercayai dan diyakini penduduk Makkah kerana beliau terkenal sebagai seorang yang tidak pernah berdusta.
“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS Al-A'raaf: 68)
Mustahil Rasulullah SAW itu berlaku khianat terhadap orang yang memberinya amanah. Baginda tidak pernah menggunakan kedudukannya sebagai Rasul atau sebagai pemimpin bangsa Arab untuk kepentingan peribadinya atau kepentingan keluarganya, namun yang dilakukan Baginda adalah semata-mata untuk kepentingan Islam melalui ajaran Allah SWT.
Ketika Nabi Muhammad SAW ditawarkan kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy agar beliau meninggalkan tugas ilahinya menyiarkan agama Islam, Baginda menjawab:
”Demi Allah… wahai pakcik, seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku agar aku meninggalkan tugas suci ku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan (Islam) atau aku hancur kerananya”……
Meskipun kaum kafir Quraisy mengancam membunuh Baginda, namun Baginda tidak gentar dan tetap menjalankan amanah yang dia terima. Setiap orang Muslim sepatutnya memiliki sifat amanah seperti Baginda SAW.

3.TABLIGH
Tabligh ertinya menyampaikan. Segala firman Allah SWT yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Baginda. Tidak ada yang disembunyikan walaupun ianya menyinggung Baginda sendiri.
“Supaya Dia mengetahui, bahawa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (QS Al-Jin: 28)
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, kerana telah datang seorang buta kepadanya.” (QS 'Abasa: 1~2)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahawa firman Allah (QS 'Abasa: 1) turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah SAW sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku, ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah SAW sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap melayani pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Maka ayat ini turun sebagai teguran di atas perbuatan Rasulullah SAW. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya’la yang bersumber dari Anas.)
Sebetulnya apa yang dilakukan Rasulullah SAW itu menurut standard umum adalah hal yang wajar. Ketika sedang berbicara di depan umum atau dengan seseorang, tentu kita tidak suka diganggu oleh orang lain. Namun untuk standard Nabi, itu tidak cukup. Oleh kerana itulah Allah SWT telah menegur Baginda SAW.
Sebagai seorang yang tabligh, meski ayat itu menyindirnya, Nabi Muhammad SAW tetap menyampaikannya kepada kita. Itulah sifat seorang Nabi. Jadi, mustahil Nabi itu ‘kitman’ atau menyembunyikan wahyu.

4. FATHONAH
Fathonah ertinya bijaksana. Mustahil bagi seseorang Rasul itu bersifat bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan ayat Al-Quran dan kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadis memerlukan kebijaksanaan yang luar biasa.
Baginda SAW harus mampu menjelaskan firman-firman Allah SWT kepada kaumnya sehingga mereka mahu memeluk Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.
Apatah lagi Baginda mampu mengatur umatnya sehingga berjaya mentransformasikan bangsa Arab jahiliah yang asalnya bodoh, kasar/bengis, berpecah-belah serta sentiasa berperang antara suku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan. Itu semua memerlukan kebijaksanaan yang luar biasa.
Semoga kita dapat menerapkan 4 sifat Baginda SAW di atas di dalam kehidupan kita dan mendapat keridhaan Allah SWT.
Wallahua’lam.

Alasan Takdir Dalam Berbuat Maksiat

 Alasan Takdir Dalam Berbuat Maksiat

Sebagian orang ada yang beralasan dengan takdir ketika berbuat maksiat atau dosa.
Seorang pencuri, perampok atau peminum minuman keras, bisa jadi akan mengatakan, "Habis mau bagaimana, memang sudah dari sananya," maksudnya sudah ditetapkan olah Allah subhanahu wata’ala. Ada kalanya mereka mengatakan demikian karena untuk menenangkan atau menghibur diri. Bahkan ada yang mengaku bahwa itu adalah bagian dari keimanan terhadap qadha' dan qadar. Yakni qadar Allah yang baik dan yang buruk yang manis maupun yang pahit, semuanya dari Allah. Sehingga dengan alasan itu seakan-akan mereka terbebas dari kesalahan dan tuntutan dosa, karena apa yang dia lakukan berupa kemaksiatan adalah berasal dari ketetapan Allah juga. Benarkah demikian?

Pada dasarnya memang segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wata’ala, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki maka tidak akan terjadi. Hanya Allah sendirilah yang bukan makhluk, baik Dzat maupun sifat-sifat-Nya, sedangkan selain Dia adalah makhluk, Dialah Al- Khaliq. Dan di antara makhluk Allah subhanahu wata’ala adalah kebaikan dan keburukan, segala yang baik dan segala yang buruk. Makhluk ciptaan Allah yang baik misalnya malaikat dan para nabi, dan makhluk Allah yang buruk misalnya Iblis dan para penentang rasul seperti Abu Lahab, Abu Jahal dan orang yang semisalnya.

Namun harus diingat bahwa Allah subhanahu wata’ala menjadikan manusia ini bukan seperti robot yang tergantung operator. Bukan pula seperti batu dan pohon. Manusia adalah makhluk mukallaf yang diberi kemampuan dapat membedakan yang baik dan buruk serta kemampuan memilihnya, sebagaimana firman-Nya, artinya,

    “Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS.Hud:7)

    “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 67:2)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. 76:2)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk diuji agar berbuat baik menurut kemampuannya. Dia akan melaksanakan ataukah tidak setelah mengetahui kebaikan tersebut. Dan kemampuan seperti ini telah ada pada manusia sebagai anugrah dari Allah, yakni berupa:

1. Akal sehat, yang merupakan tumpuan taklif. Oleh karena itu, setiap orang yang berakal sehat adalah mukallaf, sehingga siapa saja yang hilang akalnya, maka secara otomatis hilang pula taklif dari dirinya. Sebagai misal, orang gila yang mengambil uang atau benda milik orang lain, atau tidak shalat maka tidak dapat disalahkan, karena akal sehatnya hilang sehingga taklif (beban dosa) dari perbuatan salahnya juga hilang.

2. Normalnya alat/sarana yang menjadi tolok ukur kemampuan dari segi kesehatan dan kemampuan. Maksud nya adalah anggota badan yang normal yang dengannya memungkinkan seseorang untuk mengerjakan kebaikan tersebut. Oleh karena itu orang yang sedang sakit tidak kena beban puasa atau shalat berjama'ah di masjid dan beban-beban lain yang dia tidak mampu melakukan nya dalam kondisi tertentu. Ada pun yang dia mampu, maka tetap menjadi taklif baginya, misalnya shalat dengan berbaring.

Faktor yang memotivasi kebaikan adalah: pertama; Fithrah (naluri asli manusia yang condong kepada kebaikan). Ke dua; Akal yang mampu membedakan dan menganalisa, dan yang ke tiga; Wahyu Allah yang diberikan kepada rasul dan telah disampaikan kepada manusia.

Sedangkan yang memotivasi kejahatan adalah syetan, yang didukung dengan keinginan-keinginan nafsu manusia, dan nafsu inilah yang biasa dimanfaatkan oleh setan. Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kemampuan kepada setan untuk mempengaruhi manusia, namun manusia juga diberi senjata untuk menghadapinya, yaitu petunjuk jalan dan perlindungan bagi siapa saja yang berlindung kepada-Nya. Terserah manusia akan menggunakan senjata tersebut atau tidak. Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan manusia untuk berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan. Dia berfirman, artinya,

    “Katakanlah, "Aku berlindung kepada Rabb manusia". Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. 114:1-6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    "Sesungguhnya setan itu mengalir pada tubuh manusia seperti mengalirnya darah." (HR.al-Bukhari)

Allah subhanahu wata’ala adalah hakim yang Maha Adil. Dia mempunyai hujjah-hujjah yang nyata atas hamba-hamba Nya. Dia menjadikan faktor pendorong kebaikan lebih banyak daripada faktor pendorong kejahatan, dan Dia menjelas kan dua jalan ini melalui firman-Nya, artinya,

    "Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS. Al Balad:10)

Setelah itu manusia mengambil jalan yang dia kehendaki berdasarkan pilihannya. Maka siapa saja yang menempuh jalan kebaikan, menuruti faktor pendorong kebaikan, mengalahkan faktor pendorong keburukan, maka dia berhak mendapatkan ganjaran pahala. Dan barang siapa yang memilih jalan keburukan, mengikuti faktor pendorong keburukan, maka dia berhak mendapatkan siksa.

Keseluruhan perbuatannya itu terjadi atas kemauan dan pilihan manusia sendiri. Dia merasakan dengan kesadaran yang sepenuhnya, bahwa dia tidak dipaksa untuk melakukannya. Dan jika dia mau, maka ia tidak berbuat yang demikian itu. Semua ini dapat dimengerti secara sempurna dan dirasakan oleh setiap insan, dan juga telah dinyatakan oleh dalil-dalil al-Qur'an dan as-Sunnah yang suci.

Kemudian pelaksanaan kebaikan maupun keburukan oleh manusia tidak menafikan penisbatan (terjadinya) kepada Allah yang menciptakan, karena Dia adalah Dzat yang mencipta kan segala sesuatu dan sebab-sebab kejadian. Namun keburukan yang dilakukan oleh manusia bukanlah kehendak Allah, sehingga tidak mungkin untuk dinisbatkan kepada Allah, terbukti Allah mengutus rasul, menurunkan wahyu dan membekali manusia dengan akal dan fithrah yang lurus.

Maka apabila ada manusia yang beralasan dengan qadar untuk berbuat maksiat, jelas alasannya tidak dapat diterima dan tidak masuk akal. Allah subhanahu wata’ala telah mencela orang-orang musyrik yang berdalih dengan masyi'ah (kehendak) Allah atas kekufuran yang mereka lakukan dalam firman Nya, artinya,

    "Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami". Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.” (QS. 6:148)

    “Dan berkatalah orang-orang musyrik, "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya".Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. 16:35)

Mereka orang-orang musyrik berdalil dengan masyi'ah (kehendak) Allah, atas dasar ridha dan mahabbah-Nya dan bahkan mereka menjadikan masyi'ah sebagai tanda ridha. Padahal Allah tidak mencintai kesyirikan dan tidak pula meridhainya, bahkan Allah subhanahu wata’ala mengutuk dan melarangnya. Maka apa yang dia perintahkan itulah yang diridhai dan dicintai, dan apa yang Dia larang adalah yang dicela dan dimurkai.

Oleh karena itu, berhujah dengan qadar ketika melaksanakan keburukan adalah merusak dan menghilangkan makna balasan atas amal perbuatan baik, juga merusak hikmah penciptaan surga dan neraka. Sehingga akan menjadi sama saja antara orang yang berbuat baik dengan orang yang paling jahat sekalipun. Semua masuk surga dan tidak ada yang disiksa. Sama saja antara Fir'aun dan Nabi Musa ’alaihis salam, antara Nabi Ibrahim ’alaihis salam dengan Namrudz, antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Abu Jahal dan Abu Lahab. Ini jelas tidak mungkin, karena bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Adil.

Kemudian orang yang berdalih dengan takdir pasti tidak akan mau menerima hujjah orang lain yang juga berdalih dengan takdir. Andaikan suatu saat ada orang lain yang mengambil hartanya, atau mencederai dan bahkan membunuh keluarganya -misalnya-, maka apakah dia menerima alasan orang yang berbuat jahat terhadapnya itu, ketika mengatakan, "Ini adalah takdir dari Allah, jangan salahkan saya." Tentu tidak, bahkan ia menuntut haknya dan meminta agar diterapkan hukuman atas orang yang telah menyalahi hukum dengan berbuat jahat terhadapnya. Apa yang terjadi memang benar takdir Allah, namun kehendak jahat dan buruk tersebut adalah dari pelakunya. Dia berbuat secara sadar, tidak dalam keadaan hilang akal, dan sebenarnya dia juga punya pilihan dan kemampuan untuk tidak melakukan hal itu.

Dan ada satu pertanyaan yang cukup mengherankan untuk orang yang beralasan dengan takdir ketika melakukan maksiat yaitu, mengapa dia tidak beralasan dengan takdir juga ketika melakukan kebaikan? Sehingga tidak perlu mengharap pahala dan surga, karena Allah-lah yang menakdirkan kebaikan itu. Ini merupakan sikap seenaknya dan tidak konsisten. Ketika berbuat buruk dinisbatkan kepada Allah subhanahu wata’ala sedangkan ketika berbuat baik dinisbatkan kepada diri sendiri.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa beralasan dengan takdir ketika melakukan kejahatan dan kemaksiatan adalah tidak benar dan alasannya tidak dapat diterima. Seandainya takdir adalah hujjah untuk kemaksiatan, maka tentu akan menjadi hujjah bagi semuanya, dalam segala urusan dan dalam kondisi apa pun. Sehingga tidak ada bedanya antara orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat. Lalu apa gunanya Allah subhanahu wata’ala menjanjikan balasan pahala bagi yang berbuat baik dan siksa bagi yang berbuat jahat, jika semua orang yang berbuat jahat diterima alasannya, yaitu karena sudah takdir?

Oleh karena itu, seorang mukallaf senantiasa dituntut untuk melakukan kebaikan (setelah dia tahu) dan meninggalkan keburukan selama akal sehatnya masih belum hilang dan dia memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: “Kitab Tauhid 2 Ali,” hal 176-181, dengan beberapa penambahan dan penyesuaian. (Abu Ahmad Taqiyuddin)

Siapakah Yang Mendapat Nikmat Atau Azab Kubur..?

Siapakah Yang Mendapat Nikmat Atau Azab Kubur..?

    Pada kesempatan yang lalu kami telah menulis tentang syetan menggoda orang yang sedang sakaratil-maut
Kali ini kami akan teruskan dengan hal " Siapakah yang mendapat nikmat atau azab kubur "
    Tentu para pembaca akan bertanya, siapakah yang menerima pertanya'an kubur dari malaikat Munkar dan Nakir. Apakah badan kasar itu yang menjawab atau ruh nya...?
    Seperti apa yang telah kami terangkan terdahulu,bahwa orang yang mati itu ,karena telah di cabut ruhnya oleh malaikatul-maut. Ruh kembali di bawa ke hadrat Allah, dan ruh-ruh itu di tempatkan di langit pertama sampai di langit ke tujuh. Dan tinggal jasadnya yang berada di dalam tanah,dan jasad itu sudah tidak berfungsa apa-apa lagi,dia sudah kembali ke asal .Asal mati dan kemudian jadi mati lagi !!!
    Secara akal dan ilmiah memang sudah tidak berfungsi lagi,ibarat batu batery yang sudah tidak bermagnet
Jika demikian,siapakah yang merasai nikmat atau siksa kubur...?
Dan siapakah yang menjawab pertanya'an Munkar dan Nakir..?
Bagaimana orang yang mati tenggelam di laut..? Mati di makan ikan ,atau mati di telan binatang buas atau mati terbakar dan sebagainya..?
    Untuk menjawab pertanya'an ini ,baiklah kita selidiki kembali ke'ada'an tubuh halus manusia. Yang di namakan badan kasar, yang terdiri darah,daging,kulit dan tulang. Tulang itu di bungkus dengan daging,pada daging itu mengalir darah,dan daging itu di bungkus dengan kulit.
    Maka di dalam tubuh kasar itu ada beberapa macam tubuh halus yang masing-masing bekerja pada fungsimya sendiri-sendiri.
 1. Ruh untuk menghidupkan tubuh kasar.
 2. Rawan untuk menghayal.
 3. Akal untuk berfikir.
 4. Hawa budi rasa.
 5. Nafsu,.iradat ( jiwa )
 6. Malaikat hafazah,ruhani yang baik
 7.Syetan ruhani jahat,untuk menimbulkan masalah
Selagi manusia hidup  dia ada mempunyai hawa dan nafsu
     Sekarang kembali kita bicarakan orang yang mati.Kita lihat dia sudah mati dan sudah di kubur di dalam tanah. Apakah kita tahu ahli kubur itu sedang mengalami siksa atau nikmat kubur..? Cuma kita dapat mengatakan bahwa orang yang beriman dan beramal shalih akan mendapat nikmat kubur.
    Sebagai contohnya kita melihat orang sedang tidur,yang kita lihat dadanya naik turun,dengan nafasnya keluar masuk menghisap udara. Dapatkah kita mengetahui yang tidur dapat mimpi senang atau dapat mimpi buruk..? tentu saja kita tidak tahu. Yang jelas kita lihat dia sedang tidur. Apakah yang sedang di rasa oleh tubuh halusnya dalam mimpi itu ? Kita baru dapat tahu apa yang di rasakan dalam mimpinya itu setelah ia menceritakan kepada kita.
    Demikian pula orang yang mati,meskipun badan kasarnya musnah telah menjadi tanah,atau hancur di makan api,atau di makan binatang buas,akan tetapi jiwa atau rasanya tetap hidup,tidak mati selama-lamanya.
Tubuh kasar manusia boleh tidur,dan boleh mati,akan tetapi tubuh halus manusia tetap abadi. Jiwa atau rasa manusia tidak tidur,tidakmati, Tidak hangus terbakar api,tidak hancur di makan api,.dan tidak mati selama-lamanya.
    Sekarang kita bicarakan siksa atau nikmat kubur. Tidak seorangpun dapat mengetahui keada'an di kubur
Kecuali Allah yang mengetahui. Karena siksa atau nikmat kubur sudah diatur oleh Allah,. Sebagaimanahalnya orang yang mendapat impian bukanlah kehendak orang tidur itu sendiri
    Di terangkan dalam hadis-Jikalau orang yang dikubur orang yang shalih,maka ia akan menerima balasan yang baik,itulah di namakan nikmat kubur
    Setelah dia dapat menjawab pertanya'an Munkar dan Nakir,dia tidak mendapat siksa'an,karena jawabannya benar,lalu malaikat itu pergi
    Setelah malaikat itu pergi ,terdengar suara orang datang dan mengucap salam,dilihatnya orang itu serupa benar dengan dirinya,tapi dia lebih bagus dan berpakaian sangat anggun. Lalu orang itu bertanya : " siapa engaku ? " Lalu di jawab : " Aku ini amalmu,dan aku datang kemari untuk menemani kamu "
     Orang itu merasa senang dan girang sekali kedatangan amalnya menjadi sebagai teman,ia merasa beruntung ,di situ baru diketahui bahwa dia telah beramal shalih dan mendapat karunia dari Allah. Kemudian orang itu di suruh tidur seperti tidurnya pengantin baru.
     Kuburnya terasa lapang terbuka, dia berada di suatu alam yang sangat asing baginya.Dia merasa tidak mati dan dia tetap hidup di situ,menanti sampai bangkit kubur. Akan tetapi bagi mereka orang-orang yang durhaka, setelah orang-orang yang mengantarnya kembali beberapa langkah, si mayit merasa hidup kenbali.
Ia merasa di suatu alam yang sangat asing ,sunyi dan sepi,seperti terasa dalam mimpi,tapi bukanlah mimpi
Kini telah jadi kenyata'an baginya, sadarlah ia sekarang ,bahwa ia telah berada di alam lain seorang diri.
Kini dia sudah terpisah dari dunia,terpisah dari sanak keluarga,berpisah dari semua yang di milikinya.
    Sekarang baru benar-benar percaya,apa yang di katakan orang padanya,inilah yang di namakan mati,meski dia merasa hidup,tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun mau berteriak sekuat tenaga,tapi tidak akan di dengar orang, ia dapat mendengar suara orang yang masih hidup,tetapi yang hidup tidak bisa mendengar suaranya. Dia dapat melihat orang yang masih hidup,tapi yang hidup tidak dapat melihat dia
Dia seperti terkurung di dalam sangkar kaca,dia dapat melihat barag di sekelilingnya,tapi dia tidak bisa bergerak kemana-mana.
    Sekarang ia sadar bahwa dia telah berada di alam yang ia sendiri belum kenal yaitu alam " BARZAKH "
Entah berapa lama dia berada di situ,ia sendiri tidak tahu
    Pembaca yang budiman....demikianlah.yang dapat kami tuliskan dalam kesempatan kali ini, walau sedikit namun besar harapan kami semoga semua ini bisa jadi peringatan dan koreksi diri bagi kita semua, agar kita senantiasa mendapat petunjuk serta hidayah dari ALLAH....amien..amien...yaa Robbal Alamiin

Sumber : http//rubaibai8.blogspot.com

Nabi Muhammad Ke Ruang Angkasa

Nabi Muhammad Ke Ruang Angkasa
 

     Sesungguhnya orang yang telah melihat syurga orang yang kedua , adalah Nabi Muhammad .s.a.w. Di kala beliau Mi'raj pada tanggal 27 Rajab ,setelah 12 tahun dari ke Nabian  .Beliau orang dari planet bumi yang telah menjelajah ruang angkasa , yang mana Islam memperingati perisriwa tersebut setiap tahunnya.
     Yang dikatakan Mi'raj itu  ialah , perjalanan Nabi naik keluar angkasa bumi bersama malaikat Jibril ,Mikail,dan seorang malaikat lainnya,dengan kendara'an ,,Kilat atau Burak " yang terbangnya secepat kilat,yang di ambil dari syurga.Karena dikatakan, di syurga sudah biasa memakai kendara'an semacam itu. Malaikat Jibril hanya bertindak sebagai juru bahasa dan penerangan,sedangkan malaikat Mikail, sebagai juru mudi untuk mengendarai kendara'an itu. Dalam perjalanan Mi'raj ini Nabi diajak malaikat Jibril singgah di beberapa planet ( langit ) yang pertama, kedua, ketiga,ke empat dan seterusnya...sampai ke langit yang ke tujuh.sampai ke Sidratul Muntaha. Dan seterusnya lagi ke Mustawa...Perhatikan Firman Allah dalam surat Annadjm : " Tidaklah dusta hati Muhammad dengan apa yang di lihatnya "
                " Apakah kamu akan membantah tentang apa yang di lihatnya (12 ) dan sesungguhnya dilihatnya Jibril dalam bentuk yang lain (13 ) Di dekat Sidratul-Muntaha ( 14 ) Dan disisinya Jannatul-Ma'wa ( 15 )
     Menurut keterangan ayat-ayat di atas, Syurga Jannatul-Ma'wa di dekat atau disisi Sidratul- Muntaha. Di situlah Nabi melihat rupa Jibril dalam bentuk aslinya, ialah di antara malaikat yang mempunyai 600 buah sayap. Entah bagaimana tentang rupa atau bentuk sayap Jibril itu. Nabi tidak menjelaskan . Yang jelas malaikat Jibril itu bersayap seperti yang di sebutkan di atas. Namun jikalau Jibril membawa wahyu turun ke dunia kepada Nabi Muhammad s.a.w., ia menampakkan diri dalam bentuk rupa manusia biasa seperti orang laki-laki berpakaian lengkap
     Maka dengan keterangan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits yang mengenai Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad s.a.w. jelas beliaulah di antara orang planet bumi ( dunia ) yang telah menjelajah ruang angkasa , terus ke alam syurga dan neraka yang di sebut alam akhirat, dan telah melihat syurga dan neraka dari dekat dan terjadi di bulan Rajab.
     Jadi jelasnya,,syurga itu berada di luar dari alam dunia kita, yang tidak dapat di sangsikan lagi, dan kini Syurga dan Neraka sudah ada. Sudah menunggu orang-orang yang akan mengisinya,dan menunggu kapan buni ini menjelang kiamat akan datang. Maka pada masa kiamat itu ,setelah seluruh umat manusia di Hisab, semua dari penduduk planet bumi ( dunia ) akan di pindahkan atau di ungsikan ke alam yang lain, di sana ada terdapat Syurga dan Neraka. Dari Padang Mahsyar akan di adakan suatu penyebrangan secara besar-besaran. Di letakkan suatu alat penyebrangan yang di sebut Sirat, yang mana manusia akan di bagi dalam dua golongan yang besar.  Ada golongan Kanan dan ada golongan Kiri. Golongan Kanan ,apabila kembali ke akhirat akan di tempatkan di Syurga. Dan golongan Kiri, bila kembali ke akhirat ,akan di kumpulkan dikamp penjara Tuhan, ia akan mendapat siksa'an dan menjadi Bara Api Neraka.

    Pembaca yang budiman.......
    Kalau kita mengikuti perjalanan Nabi Mi'raj dari awal ,Beliau berangkat, dari Masjidil Harom dikota Makkah atau yang di sebut Baitullah, sampai Beliau singgah di beberapa tampat-tempat yang bersejarah. Pertama di Thoijban atau Jastrib, yang sekarang bernama Madinah.
Madijan,tempat pohon Nabi Musa, kubur Masitoh di Mesir yang harum mewangi. Baitul-Lahm tempat lahir Nabi Isa, di Palestina,di bukit Thursaina tempat Nabi Musa menerima wahyu dan becakap-cakap kepada Tuhan,dan akhirnya turun di Masjidil Aksa ,atau Baitul Mukaadas. Darus Syalam atau Yerus Salem.
     Kemudian dari mesjid ini Nabi bersama Malaikat Jibril  dan Mikail,melanjutkan perjalanannya singgah di beberapa langit,sampai ke langit yang ke tujuh,seterusnya sampai ke Sidratul Muntaha,dan akhirnya sampailah beliau ke Mustawa atau Asyullah
     Sungguh sangat menarik dan sangat mena'jubkan kalau di tinjau dari perjalanan Mi'raj ini,secara akliyah atau secara rasional ataupun secara ilmiah,akhirnya dapat menambah keimanan kita akan kebesaran Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa ialah Allah Subhana Wataa'alla. Banyak pemandangan yang serba ajaib dan aneh yang tidak terfikirkan oleh akal manusia yang tanpa iman,akan tetapi hal itu terjadi dan di saksikan oleh mata Nabi Muhammad s.a.w.
     Secara ilmiah,pemberangkatan Nabi bukan hanya sekedar begitu saja. Ini patut mendapat perhatian. Karena beliau akan berangkat ke luar angkasa yang begitu sangat jauhnya. Maka sebelum berangkat beliau di operasi terlebih dahulu , dadanya Nabi di bedah oleh Malaikat Jibril,lalu di isi dengan bermacam-macam hikmat ilmu. Kekuatan dan sebagainya,agar terjamin mental dan pisiknya dalam perjalanan yang sangat jauh,berjuta-juta mil, menembus atmosfir dan udara menjelajah ruang angkasa , dari planet satu ke planet yang lainnya
     Sebarapa jauh perjalanan yang di tempuh Nabi..?
     Berapakah jarak jauhnya perjalanan dari bumi ke Mustawa'.?  Pertanya'an ini telah di jawab oleh Allah di dalam Al-Qur'an di surat Al-Ma'arij : " Naik Malaikat dan Rukhul-Amin /Jibril kepadan-Nya di dalam sehari itu sama kira-kira 50.000 tahun ."
     Demikianlah jauhnya antara bumi dan Mustawa. Jadi oleh karena itu, karena Nabi adalah A'radhul- Basyariyah, yakni berwatak Tubuh manusia biasa,maka perlulah baginya di istimewakan lebih dahulu ,perlu perbekalan-perbekalan yang luar biasa, dengan di isi jiwanya dengan ilmu dan hikmat dan rahasia yang belum pernah ada pada manusia. Untuk membuktikan akan kebesaran Allah Subhana Wataa'ala dan untuk di perlihatkan kepada hamba-Nya,akan kebesaran keraja'an Allah
     Allah Yang Maha Kuasa dapat menciptakan alam semesta dengan Qudrat dan Iradat-Nya. Dan Allah jadikan semua itu tanpa perkakas atau alat mekanis. Tapi cukup dengan ucapan : " Kun Fayakun " dengan ucapan :" Jadilah " lalu terjadilah sebagaimana Tuhan nyatakan di dalam surat  Yaa-sien ayat 82 : " Sesungguhnya perintah Allah itu,bila ia ( Allah ) menghendaki sesuatu,hanya ia ( Allah ) berfirman padanya,jadilah,lalu terjadi "
     Demikian rahasia Allah menjadikan sesuatu, menjadikan alam, menjadikan langit, menjadikan bumi, menjadikan isi dunia ,menjadikan malaikat, Jin, manusia, hewan ,tumbuh-tumbuhan, menjadikan syurga dan neraka dan sebagainya, maka cukup dengan ucapan saja, Cukuplah dengan kata-kata :" Kun," lalu terjadi.
     Kemudian sekarang kembalilah kita membicarakan syurga lebih lanjut.
Yang dimaksud dengan nama syurga, kata-kata syurga di ambil dari bahasa sansekerta atau sangkrit. Syurga adalah sesungguhnya beberapa negri-negri, dan kota-kota, yang berada di semacam bumi. Atau dunia planet, bukan dunia dan planet kita, yang berada sangat jauh dari luar angkasa bumi kita atau dunia kita. Lebih besar dan lebih luas lagi,sebagaimana telah tersebut di atas dalam perjalanan Nabi.
     Nabi melihat Sidratul-Muntaha. Yang begitu sangat besar keberada'annya, dan kalau pohonnya sudah demikian besarnya, apa lagi buminya.? Memang sungguh ajaib dan indah segala apa yang di ciptakan Tuhan.

      Para pembaca yang budiman....kiranya cukup sekian paparan dari kami,,semoga apa yang kami sampaikan ini bisa bermanfa'at dan kiranya dapat lebih memperkuat iman kita kepada Allah yang Maha Pencipta.

Sumber : http//rubaibai8.blogspot.com

Bacaan Do'a Untuk Jenazah Dan Ziarah Kubur

Bacaan Do'a Untuk Jenazah Dan Ziarah Kubur

DOA KETIKA MEMEJAMKAN MATA MAYAT

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلاَنٍ (بِاسْمِهِ) وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ، وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِيْنَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ.

 “Ya Allah! Ampunilah si Fulan (hendaklah menyebut namanya), angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah penggantinya bagi orang-orang yang ditinggalkan sesudahnya. Dan ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan, seru sekalian alam. Lebarkan kuburannya dan berilah penerangan di dalamnya.”

DOA DALAM SHALAT JENAZAH

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

 “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.

 “Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memperoleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.”

اَللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 “Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.”

 اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ

عَنْهُ

Ya, Allah, ini hambaMu, anak hambaMu perempuan (Hawa), membutuhkan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya

DOA UNTUK MAYAT ANAK KECIL

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيْعًا مُجَابًا. اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَسْلاَفِنَا، وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِاْلإِيْمَانِ.

“Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah! Dengan musibah ini, beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah dia dengan rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan”

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا.

 “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami.”

BACAAN DO'A KETIKA MEMASUKKAN MAYAT KE LIANG KUBUR

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.

 "Bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasulillaah. artinya, "Dengan nama Allah dan di atas petunjuk Rasulullah"

DOA SETELAH MAYAT DIMAKAMKAN

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ.

" Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah teguhkanlah dia "

.Nabi Shallallahu'alaihi wasallam apabila selesai memakamkan mayat, beliau berdiri di atasnya lalu bersabda: “Mintalah ampun kepada Allah untuk saudaramu, dan mohonkan agar dia teguh dan tahan hati (ketika ditanya oleh dua malaikat), sesungguhnya dia sekarang ditanya.” HR. Abu Dawud 3/315 dan Al- Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi

DOA ZIARAH KUBUR

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ [وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ] أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penduduk kampung (Barzakh) dari orang-orang mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami –insya Allah- akan menyusulkan, kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu, agar diberi keselamatan (dari apa yang tidak diinginkan).

Semoga bermanfa'at ................

Sumber : http//rubaibai8.blogspot.com

Aktifitas Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam di Dalam Rumah

Aktifitas Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam di Dalam Rumah

       Rumah seseorang ibarat cermin yang menggambarkan keluhuran akhlak, kesempurnaan budi pekerti, keelokan pergaulan dan ketulusan nuraninya. Tidak ada seorang pun yang melihat apa yang diperbuatnya di balik kamar dan dinding. Saat ia bersama hamba sahaya, bersama pembantu atau bersama istrinya. Ia bebas berbuat tanpa ada rasa sungkan dan berpura-pura. Sebab ia adalah raja yang memerintah dan melarang di dalam rumahnya. Semua anggota keluarga yang berada di bawah tanggungannya adalah lemah. Marilah kita lihat bersama aktifitas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam rumah, selaku pemimpin dan panutan umat yang memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi. Bagaimanakah keadaan beliau di dalam rumah?

     Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya: "Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam rumah?" Ia radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)     
Demikianlah contoh sebuah ketawadhu'an dan sikap rendah hati (tidak takabur) serta tidak memberatkan orang lain. Beliau turut mengerjakan dan membantu pekerjaan rumah tangga. Seorang hamba Allah yang terpilih tidaklah segan mengerjakan hal itu semua.

      Dari rumah beliau shallallahu 'alaihi wasallam yang penuh berkah itulah memancar cahaya Islam, sedangkan beliau sendiri tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal perut beliau shallallahu 'alaihi wasallam. An-Nu'man bin Basyir menuturkan kepada kita keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
”Aku telah menyaksikan sendiri keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sampai-sampai beliau tidak mendapatkan kurma yang jelek sekalipun untuk mengganjal perut." (HR. Muslim)

         Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan:
"Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah menya-lakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kurma dan air." (HR. Al-Bukhari)

        Tidak ada satu perkara pun yang melalaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari beribadah dan berbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; "Marilah tegakkan shalat! Marilah menggapai kemenangan!" beliau segera menyambut seruan tersebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi.

       Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: "Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha: 'Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumah?' 'Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat)." (HR. Muslim)

       Tidak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat fardhu di rumah, kecuali ketika sedang sakit. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pernah terserang demam yang sangat parah. Sehingga sulit baginya untuk keluar rumah, yakni sakit yang mengantar beliau menemui Allah shallallahu 'alaihi wasallam.

       Disamping beliau lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap umatnya, namun beliau juga sangat marah terhadap orang yang meninggalkan shalat fardhu berjamaah (di masjid). Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sungguh betapa ingin aku memerintahkan muazdin mengumandangkan azan lalu iqamat, kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku berangkat bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat jamaah, untuk membakar rumah-rumah mereka." (Muttafaq 'alaih)

    Sanksi yang sangat berat tersebut menunjukkan betapa penting dan utamanya shalat berjamaah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang mendengar seruan azan, lalu ia tidak menyambutnya (mendatangi shalat berjamaah), maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur." (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

       Uzur di sini adalah perasaan takut (tidak aman) atau sakit.
Apa dalih orang-orang yang mengerjakan shalat fardhu di rumahnya (di samping istrinya)? Mereka tinggalkan masjid! Apakah ada uzur sakit atau perasaan takut bagi mereka?

Sumber : http://rubaibai8.blogspot.com/2013/03/aktifitas-rasulullah-shalallaahu-alaihi.html

Tata Cara Puasa Syawal

TATA CARA PUASA SYAWAL
 

imagesPenulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Puasa Syawal kita tahu memiliki keutamaan yang besar yaitu mendapat pahala puasa setahun penuh. Namun bagaimanakah tata cara melakukan puasa Syawal?
Keutamaan Puasa Syawal
Kita tahu bersama bahwa puasa Syawal itul punya keutamaan, bagi yang berpuasa Ramadhan dengan sempurna lantas mengikutkan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)
Seperti Berpuasa Setahun Penuh
Kenapa puasa Syawal bisa dinilai berpuasa setahun? Mari kita lihat pada hadits Tsauban berikut ini,
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »
Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal.” (HR. Ibnu Majah no. 1715. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Disebutkan bahwa setiap kebaikan akan dibalas minimal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan sebulan penuh akan dibalas dengan 10 bulan kebaikan puasa. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal akan dibalas minimal dengan 60 hari (2 bulan) kebaikan puasa. Jika dijumlah, seseorang sama saja melaksanakan puasa 10 bulan + 2 bulan sama dengan 12 bulan. Itulah mengapa orang yang melakukan puasa Syawal bisa mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.
Tata Cara Puasa Syawal
1- Puasa sunnah Syawal dilakukan selama enam hari
Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa puasa Syawal itu dilakukan selama enam hari. Lafazh hadits di atas adalah: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).
2- Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.” (Syarhul Mumti’, 6: 465).
3- Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.” (Idem)
4- Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal yaitu puasa setahun penuh.
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).
Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).
5- Boleh melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at dan hari Sabtu.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).
Hal ini menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jum’at karena bertepatan dengan kebiasaan.
Adapun berpuasa Syawal pada hari Sabtu juga masih dibolehkan sebagaimana puasa lainnya yang memiliki sebab masih dibolehkan dilakukan pada hari Sabtu, misalnya jika melakukan puasa Arafah pada hari Sabtu. Ada fatwa dari Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia berikut ini.
Soal:
Kebanyakan orang di negeri kami berselisih pendapat tentang puasa di hari Arafah yang jatuh pada hari Sabtu untuk tahun ini. Di antara kami ada yang berpendapat bahwa ini adalah hari Arafah dan kami berpuasa karena bertemu hari Arafah bukan karena hari Sabtu yang terdapat larangan berpuasa ketika itu. Ada pula sebagian kami yang enggan berpuasa ketika itu karena hari Sabtu adalah hari yang terlarang untuk diagungkan untuk menyelisihi kaum Yahudi. Aku sendiri tidak berpuasa ketika itu karena pilihanku sendiri. Aku pun tidak mengetahui hukum syar’i mengenai hari tersebut. Aku pun belum menemukan hukum yang jelas mengenai hal ini. Mohon penjelasannya.
Jawab:
Boleh berpuasa Arafah pada hari Sabtu atau hari lainnya, walaupun tidak ada puasa pada hari sebelum atau sesudahnya, karena tidak ada beda dengan hari-hari lainnya. Alasannya karena puasa Arafah adalah puasa yang berdiri sendiri. Sedangkan hadits yang melarang puasa pada hari Sabtu adalah hadits yang lemah karena mudhtorib dan menyelisihi hadits yang lebih shahih. (Fatwa no. 11747. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan).
Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan puasa Syawal ini setelah sebelumnya berusaha menunaikan puasa qodho’ Ramadhan. Hanya Allah yang memberi hidayah untuk terus beramal sholih.

Disusun di pagi hari penuh berkah, 2 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, D. I. Yogyakarta
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel ‘Tata Cara Puasa Syawal — Muslim.Or.Id’
 
 
Copyright © 2013 MANDAR LUYO - All Rights Reserved
Status Panel Admin
Jam Sekarang
Tanggal
Salam Sapa :
Status Admin :
User :
Free Backlinks